Selamat Datang By JoeFrigerio

Menu

Animated Buttons - "Pressed Effect"

...

Slideshow

Automatic Slideshow

Change image every 3 seconds:

1 / 3
Bahagia Itu Sederhana
2 / 3
Beriman Itu Sederhana
3 / 3
Hidup Penuh Syukur

Tampilkan postingan dengan label Klik dan Jepret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klik dan Jepret. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juli 2018

Tungku Haram, Syuradikara Melaram

 Foto : Komunitas Fotografer Syuradikara


Di tepian malam,  kala Bulan temaram. Tungku Haram membawa potret buram tentang betapa muram nasib para korban hingga suara mereka terbungkam. Sungguh seram. Dalam diam, kepolosan tenggelam sangat dalam. Batin tak mungkin disulam bila wajah-wajah bengis nan kejam masih bersemayam diatas tanah air Flobamora. Hentikan!

Pementasan teater Tungku Haram yang diperankan oleh Teater Evergrande Syuradikara menunjukkan potensi besar siswa-siswi Syuradikara melaram (menunjukkan gaya dan lagak)  di ruang public. Sebuah gaya membujuk public menolak kekejaman penjualan manusia sekaligus gaya SMAK Syuradikara mengajak public untuk melirik Syuradikara sebagai tempat pendidikan yang sangat bisa diandalkan.

Stop Bajual Orang! Inilah pesan yang ingin disampaikan para siswa-siswi Syuradikara melalui pementasan teater musikal Tungku Haram 3. Dari perspektif teater, tidak gampang untuk melaram melalui jenis teater ini. Bahkan menurut saya, ini cara  (baca : ajang promosi) Syuradikara melaram yang sangat berisiko tapi juga sangat cerdas. Disini, Syuradikara ingin menunjukkan kepada public bahwa anak didik akan mendapatkan beragam pendidikan sekaligus juga menyentuh beragam minat dan bakat siswa. Luar biasa! Syuradikara sudah mempromosikan diri melalui aksi nyata. Saat sekolah lain masih sebatas promosi ‘pencitraan’.  Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Di Indonesia, pementasan teater oleh anak-anak remaja di bangku SMA terbilang sangat jarang dan dapat dihitung dengan jari. Apalagi pementasan drama musikal kabaret. Pementasan teater di Indonesia paling sering dilakukan oleh para mahasiswa yang mengambil kelas teater, komunitas teater, dan Perguruan Tinggi yang punya kelas teater. Itu pun mayoritas berkutat pada pementasan teater monolog, teater gerak (pantomin), dan teaterikal puisi. Dari sudut pandang ini, apa yang ditampilkan oleh anak-anak Syuradikara mesti diacungi jempol dan pantas diberikan apresiasi. Apalagi bila bicara di ruang lingkup Bumi Flobamora. Amazing!

Bicara teater musikal kabaret tentu mesti menggabungkan seni tari, seni musik, dan seni peran. Ini tentu saja melibatkan banyak pemeran yang mesti memiliki kemampuan aduhai nan memikat sehingga melalui gerak, musik, dan peran yang ditampilkan mampu menjadikannya satu kemasan elok sehingga pesan yang ingin disampaikan kepada penonton terkirim dengan baik. Tentang hal ini, pementasan Tungku Haram yang diperankan anak-anak SMAK/SMKK Syuradikara sudah sangat baik bila ditinjau dari sudut pandang fungsi teater itu sendiri. 

Siswa-siswi Syuradikara telah menjadikan teater sebagai media ekspresi. Zaman ini cara berekspresi positif ala siswa/i Syuradikara sungguh merupakan bentuk ekspresi yang mahal. Tidak hanya itu, fungsi lain sebagai media hiburan juga bisa dirasakan ketika mayoritas penonton memberikan aplaus meriah karena terhibur dengan pementasan Tungku Haram. Selain itu, fungsi teater sebagai media pendidikan. Pementasan teater Tungku Haram jelas memberikan edukasi tidak hanya kepada para siswa-siswi Syuradikara sebagai aktor dan aktris tapi juga kepada penonton. Menggugah masyarakat untuk lebih peka menyadari betapa realita buram penjualan manusia yang hidup di sekitar kita mesti segera dihentikan.

Dalam kaitan dengan fungsi tadi, untuk menilai seberapa hebat pementasan Tungku Haram yang diperankan siswa-siswi SMAK Syuradikara Ende, kita mesti secara objektif membedahnya satu per satu sesuai unsur-unsur dalam seni teater. Ada dua unsur dalam seni teater yakni pertama, unsur internal dan kedua, unsur eksternal. Seberapa terpenuhinya unsur-unsur tersebut dalam pementasan Tungku Haram. Saya coba membedahnya memakai pisau bedah saya. Boleh jadi pisau bedah anda berbeda.Bisa lebih tajam, bisa pula lebih tumpul.

  1.   Unsur Internal 

  •  Naskah atau Skenario

Naskah atau skenario merupakan hal mendasar yang menjadikan pementasan teater sekaligus menggabungkan berbagai macam unsur. Dalam kaitan dengan naskah, isu human trafficking yang marak terjadi di belahan bumi Flobamora menjadi kisah yang coba diangkat sekaligus upaya siswa-siswi Syuradikara menghapus penjualan manusia di tanah Flobamora sudah cukup baik dipentaskan. Namun dalam pandangan saya akan lebih menusuk dan menggigit bila (monolog maupun dialog) menggunakan dialek sehari-hari masyarakat NTT. Cita rasa bahasa lokal tentu lebih merasuki dan mengugah penonton. Contoh kecil : pemilihan diksi Ibu diganti Mama. Proximity antara pemeran dan penonton mesti diperhatikan sehingga pesan yang ingin disampaikan tertanam dalam sanubari penonton. Bukankah latar belakang skenario dari realitas masyarakat Flobamora, settingan pementasan pun di belahan Flobamora, dan ditampilkan di tanah air Flobamora?

  • Pemain

Kalau saya mau jujur apa yang ditampilkan siswa-siswi Syuradikara sebagai pemeran teater jenis drama musikal sangatlah luar biasa. Mengingat mereka tidak mengenyam pendidikan khusus musik, atau mendapatkan kelas khusus koreografi, bahkan tidak juga mengenyam kelas khusus teater. Semuanya dilakukan sebagai bagian dari extrakurikuler. Patut diberikan dua jempol.

Masih soal pemain. Dalam drama musikal layaknya Tungku Haram ada banyak pemeran yang bisa  disoroti karena baik musik, gerak, dan peran memiliki peranan yang sama penting guna memuluskan wajah pementasan teater sukses atau tidak.

Tentang musik. Saya mesti angkat topi kepada penyanyi yang mampu menginterpretasikan lagu secara baik sehingga dapat menyuguhkan kepada penonton dengan sangat merdu bahkan memberi ornamen yang memperindah lagu. Kemampuan olah vokal menunjukkan bahwa mereka memiliki sense of music yang baik. Bahkan bukan berlebihan bila musikalitas mereka (baca : penyanyi) bisa diuji di ajang pencarian bakat.

Menyangkut pemain musik sudah cukup baik. Walau masih ada catatan pinggir bagaimana menjaga tempo serta ada beberapa part melodi yang belum sempurna dieksekusi. (pengamatan saya ketika menyaksikan Tungku Haram 3) beberapa lagu tempo masih ‘lari’ dan ada part melodi terutama di lagu When The Children Cry – belum dieksekusi dengan tenang sehingga terdengar belum sempurna. Walau secara keseluruhan sudah baik dan tidak sepenuhnya mengganggu.

Masih tentang pemain, ada para penari yang tidak hanya menari tetapi juga ada part adegan pementasan menunjukan gerakan pantomin. Untuk hal ini, baik tarian dan pantomin sudah cukup baik dipentaskan walau masih perlu menjaga kekompakan dalam gerak.

Sedangkan untuk peran. Apa yang dilakoni sudah sangat baik. Totalitas para pemeran lakon terlihat manakala ekspresi, penjiwaan, intonasi, jeritan histeris, penyiksaan, tangisan, kepedihan, tertawa sinis, kemarahan hingga penguasaan panggung sangatlah dramatik. Kalau saya bilang sudah sangat wow bila dilakukan oleh remaja yang tak mengenyam pendidikan teater. Jerit tangis kepedihan yang ditampilkan dibarengi dengan penyiksaan sudah sangat berhasil untuk menyampaikan pesan tersirat betapa tersiksa dan menderitanya korban penjualan manusia. Sebagaimana dalam sebuah adegan monolog terucap,” tentang batin yang sungguh tersiksa.”

Secara keseluruhan, boleh dikata para pemain sudah sangat luar biasa menginterpretasikan naskah dan menghidangkan kepada penonton dengan sangat gurih untuk dinikmati layaknya para pemeran profesional.


  • Sutradara

Angkat topi dan standing ovation buat sang sutradara Pater Johan Wadu, SVD sekaligus penulis naskah Tungku Haram. Sebagai seorang sutradara ia mampu mentransformasikan imajinasinya kepada para pemain sehingga baik pemain musik, penari, pantomin, hingga pemain peran, serta berbagai unsur terkait mampu berkolaborasi serta menghasilkan sebuah konfigurasi seni teater yang fantastis untuk ukuran anak SMA. Tidak hanya itu, ia mampu menemukan talenta brilian sekaligus mengkomposisikan mereka yang sekali lagi tidak mengenyam pendidikan khusus. Kalau dalam sepakbola, saya ibaratkan P. Johan Wadu sebagai pencari bakat sekaligus manajer hebat sekolah sepakbola Ajax atau La Masia yang berhasil menemukan dan melahirkan sejumlah anak-anak berbakat ke pentas sepakbola dunia dengan ‘harga’ yang lumayan sexy.  Walau saya sebenarnya ingin mengusulkan agar repertoar lagu pementasan bisa disertakan juga beberapa lagu khas Flobamora untuk dihidangkan secara internasional atau diaransemen dalam balutan etnik. Alamak! Ini tidak hanya mengangkat musik NTT untuk dihargai dirumahnya sendiri tetapi juga sekaligus mampu mengulik emosi penonton.

Harapan saya, P. Johan Wadu tidak puas sampai disini tetapi terus kepakan sayap berkeseniannya sehingga trademark Syuradikara sebagai candradimuka teater NTT bahkan Indonesia bukan sekedar impian belaka.


  • Pentas dan Properti

Pentas Tungku Haram saya kira memenuhi unsur estetika dengan segala persiapan properti yang digunakan untuk pementasan outdoor juga dekorasi yang ditampilkan. Saya melihat sudah mampu mendukung naskah pementasan. Dekoratif tidak berlebihan tapi tetap terlihat mewah. Walau disana – sini tetap masih perlu penyempurnaan. Terutama berkaitan dengan tata lampu dan tata sound. Ada beberapa adegan yang mesti kehilangan suara hanya karena tata sound yang belum memuaskan. Demikian pula dengan tata lampu masih belum ideal. Walau begitu apa yang ditunjukkan masih memenuhi unsur estetika dan masih dalam taraf kewajaran serta bisa dimaklumi. Apalagi setidaknya bumbu special efek sudah dipakai seperti asap pada Tungku raksasa.


  •  Penataan

Bicara penataan, Tungku Haram dalam catatan saya masih perlu memperhatikan detail terutama menyangkut tata rias serta tata busana agar lebih mewakili karakter peran masing-masing yang ingin ditampilkan. Walau demikian bukanlah buruk apa yang sudah ditampilkan oleh para pemeran pementasan Tungku Haram. Hanya saja terlihat masih terlalu ‘polos’ tanpa polesan. Namun kredit poin bagi para pelakon karena dengan tata rias dan tata busana yang sederhana tak lantas membuat mereka kehilangan kepercayaan diri.

Sedangkan soal tata lampu dan tata suara seperti yang sudah dibahas di poin sebelumnya. Ini mesti diperhatikan seksama agar penonton tidak kehilangan pesan yang ingin disampaikan terutama tatkala terjadi monolog atau dialog serta nyanyian. Mengingat pementasan Tungku Haram dilangsungkan outdoor.

       2. Unsur Eksternal

Bicara unsur eksternal secara keseluruhan kerja sama sutradara, staf produksi, stage manajer, designer hingga para crew Tungku Haram sudah berlangsung secara baik dan seperti sangat terlatih untuk mempersiapkan pertunjukan hanya dalam tempo singkat. Ini bagus dalam hal melatih mempersiapkan segalanya dengan kecepatan tanpa meninggalkan kualitas. Ini juga memperlihatkan bahwa secara keseluruhan imajinasi sutradara sudah termanifestasi dan menjalar ke seluruh tim. 

Secara komprehensif, pementasan Tungku Haram menurut saya berkualitas premiere. Sangatlah baik. Apalagi ukuran setingkat anak SMA. Melalui music, gerak, dan peran para siswa-siswi Syuradikara mampu menyampaikan pesan tentang betapa mengerikannya perdagangan manusia dan harus dihentikan. Menghentak kepekaan semua pihak untuk peduli pada isu human trafficking. Kemarahan 'Syuradikara' terlihat jelas ketika drama memasuki epilog.  

Satu yang pasti menyaksikan teater Tungku Haram, terlihat jelas cara elegan Syuradikara melaram. Dan sampai pada titik ini, spirit pencipta pahlawan utama rasanya masih kuat bersemayam.

Cheers 🍻

Rabu, 28 Maret 2018

Cara Membedakan Minyak Nona Mas Asli dan Palsu

Apakah anda salah seorang pengguna minyak Nona Mas?  Jika ya maka anda wajib berhati-hati. Kini telah beredar di pasaran produk minyak Nona Mas yang palsu.

Perhatikan dua produk dibawah ini. Sepintas kita tidak bisa membedakannya bukan? Serupa memang tapi tak sama.


Lantas,  bagaimana cara membedakan antara yang asli dan palsu?

1. Lihat warna kertas yang menempel pada dinding botol minyak Nona Mas. Produk yang asli tampak lebih tajam warnanya sedangkan yang palsu warnanya tampak pudar lebih transparan terutama gambar tampak depan wanita yang sedang mengangkat jempol.


2. Perhatikan tutupan botol minyak Nona Mas. Dibagian atas tutupan anda akan menemukan gambar timbul seorang wanita tampak memegang mic dan mengangkat jempol . Yang asli gambar tersebut tampak lebih sempurna dan rapi cetakan timbulnya sedangkan yang palsu tampak kurang sempurna dan tidak serapi yang asli terutama dibagian wajah dan tangan wanita tersebut.


3. Botol minyak Nona Mas asli lebih pendek ukurannya dari yang palsu.


4. Tulisan jamu serta lingkaran dan daun dibagian depan botol sebelah kiri atas gambar wanita terlihat  lebih besar pada  produk yang asli sedangkan tulisan dan gambar yang sama ukurannya kecil untuk produk palsu.




5. Lihat botol sisi lainnya anda akan menemukan tulisan komposisi. Perhatikan bagian bawah ada tertera kode produksi beserta nomornya. Untuk produk asli tulisan nomor kode produksi tampak lebih besar dan dibuat bold. Berbeda dengan produk palsu tulisan nomor kode produksinya kecil dan tanpa spasi serta menggunakan huruf reguler.



6. Lihat isi minyak Nona Mas ditangan anda. Produk asli warnanya tampak lebih terang (kekuning-kuningan) dan terlihat lebih kental. Sedangkan produk palsu minyak terlihat encer dan warnanya tampak lebih gelap (lebih kehijau-hijauan).

7. Setelah anda mengecek kondisi fisik luar, cobalah anda membuka tutupan botol dan menghirupnya. Minyak Nona Mas yang asli ketika dihirup mengeluarkan bau khas  ramuan dan terasa menyengat hidung sedangkan yang palsu bau khas Nona Mas tak muncul serta tidak menyengat.

8. Terakhir,  balik botol produk. Perhatikan dibawah botol. Disitu akan tampak tulisan timbul Nona Mas untuk produk asli sedangkan produk palsu tidak ada tulisan timbul Nona Mas alias polos botol bagian bawahnya.



Demikian beberapa poin yang dapat saya bagikan kepada anda agar terhindar dari penipuan yakni membeli barang palsu.  Kiranya informasi ini bermanfaat bagi anda.  Stop!!  Tipu-tipu. Jangan lupa sebarkan informasi ini kepada keluarga, teman, dan handai taulan agar ramai-ramai terhindar dari barang palsu.

Tips :
Sebelum membeli sebaiknya minta kepada penjual agar diijinkan membuka dus dan mengeluarkan botol Minyak Nona Mas sehingga bisa dilakukan pengecekan seperti poin-poin diatas.

Salam,


Rabu, 13 April 2016

Malu Dong Sama Kucing

Prihatin! Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perilaku ibu-ibu zaman sekarang. Keprihatinan ini berangkat dari perilaku ibu-ibu zaman ini yang mencoba melawan kodrat mereka. Ya...secara kodrati para ibu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Tetapi kekinian zaman, para ibu tampaknya hanya ingin mengandung dan melahirkan dan enggan untuk menyusui. Kalau pun menyusui sebentar saja bahkan ada yang sama sekali enggan menyusui anak.
Banyak alasan yang dikemukakan tapi intinya bermuara pada penampilan. Ya...biar bisa tetap menjaga penampilan mereka agar bisa terus eksis di media sosial. Ini menyangkut terutama maaf!! Bentuk payudara agar tetap terlihat kinclong. Ups... Kadang alasannya terlalu dibuat-buat, takut ditinggal suamilah, air susu gak ada, dsbnya. Hmmm...memangnya kalau suami yang menyusui bentuk payudara jadi makin bagus?? (Hahahaaaa ..kadang disitu saya merasa lelaki menjadi tumbal).
Sungguh keterlaluan kalau hanya takut penampilan menjadi tidak menarik karena perubahan bentuk tubuh. Anak harus dikorbankan.
Sapi pun ditugaskan untuk menyusui anak. Susu sapi pun menjadi pilihan. Seolah-olah sapi mesti ikut bertanggung jawab karena terlibat dengan suaminya anak-anak.
"Toh, susu sapi juga anak saya bertumbuh seperti anak-anak yang lain tanpa merusak bentuk tubuh saya," begitulah mereka selalu berargumen. "Jangan samakan dulu dengan sekarang. Sekarang sudah banyak susu yang baik untuk pertumbuhan anak tanpa harus menyusui," jawab mereka beberkan alasan.
Padahal sudah banyak imbauan dan pesan-pesan tentang pentingnya memberikan Air Susu Ibu kepada bayi karena selain merapatkan hubungan batin antara ibu dan anak, ASI juga telah terbukti memiliki nutrisi yang sangat baik bagi perkembangan bayi terutama sistem imun tubuh sang jabang bayi.
Hebatnya, perilaku ibu-ibu gagal ASI ini justru datang dari kalangan berpendidikan. Hebatnya lagi, ketika anak mulai bertumbuh dan bersekolah justru ibu yang sama menyalahkan anak bila sakit-sakitan atau memiliki nilai rapor yang buruk. (Lupa ya....kalau anak itu dibesarkan oleh induk sapi) kenapa harus marah dan uring-uringan jika anak memiliki otak seperti sapi?
Apa yang dilakukan oleh para ibu terkini sebenarnya merupakan bukti bahwa para ibu 'Enggan ASI' tak mensyukuri kodrat sebagai seorang wanita yang sungguh mulia. Yang diberikan kekuatan dan kepercayaan dari maha kuasa sebagai 'makhluk pembawa kehidupan'. Saat mulai menulis tulisan ini beberapa malam lalu. Saya langsung disuguhi oleh pemandangan yang luar biasa didepan mata saya. Seekor induk kucing yang berusaha memindahkan anaknya satu per satu serta menyusui ketiga anaknya seperti gambar dibawah ini :
Itulah sebabnya, bila bertemu dengan ibu-ibu yang sedemikian rupawannya hingga tak berkenan memberikan ASI, katakan kepada mereka malu dong sama kucing. Masa kalah sama kucing!! Tul gak??

Sabtu, 19 Maret 2016

Lukisan Cahaya Mistis Di Bangker Merapi

Baru-baru ini saya mendapat tugas untuk memenuhi undangan kantor yang dilaksanakan di Jogjakarta tepatnya di Desa Sambi, Sleman. Dalam kegiatan tersebut, pada hari ketiga ada salah satu mata acara kegiatan yakni Capacity Building dengan tema Sinergy In Harmony. Kami pun mengikuti beragam permainan disusul dengan menikmati lavatour ke puncak Merapi.

Pagi itu, dua hari yang lalu kamis (17/03/2016) dengan kendaraan jeep yang sudah disediakan, kami pun beranjak mengikuti lava tour ke puncak Merapi. Masing-masing mobil berisi 4 orang dari keseluruhan peserta yang berjumlah 88 orang dari seluruh Indonesia. Kami menikmati perjalanan yang lumayan menantang adrenalin. Ada sensasi yang tak bisa dijelaskan kata. Ada pengalaman yang sungguh berkesan khususnya bagi saya pribadi.

Setelah berulang kali terombang-ambing menyusuri jalanan yang penuh liku, akhirnya kami tiba di perhentian pertama dari lava tour Merapi yakni museum mini yang merupakan bekas rumah penduduk Bapak Kimin yang telah porak poranda sebagai saksi bisu kekuatan alam yang maha dahsyat sekaligus menunjukkan kebesaran Tuhan. Harta benda dan ternak hancur lebur dipajang dalam rumah tersebut bersama foto-foto yang tertata di dinding rumah seputar kejadian erupsi Merapi. Seperti biasa semua peserta berpose ragam gaya berlatar belakang museum tersebut. Dalam museum tersebut, hanya satu ruangan yang tidak diperbolehkan untuk memotret yakni ruangan tempat dipajangnya berbagai senjata Kris (Mungkin kris koleksi pemilik rumah).

Kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali merasakan sensasi diatas jeep, meliuk diantara bebatuan dengan jalanan menanjak. Kira-kira pukul 11.00 waktu setempat, kami pun tiba di perhentian kedua dari lava tour yakni Bangker Merapi. Suasana ketika itu cerah dengan sedikit mendung namun tak menghalangi kami untuk menikmati puncak Merapi tersebut karena menghadirkan pemandangan yang luar biasa untuk melihat Kota Jogjakarta dari atas ketinggian. Sekali lagi masing-masing peserta lantas mengambil pose terbaik untuk mengabadikan moment tersebut termasuk juga saya. Saya pun lantas masuk kedalam bangker untuk melihat isi di dalam bangker tersebut, namun ketika melewati pintu bangker tak ada yang bisa saya lihat kecuali hitam pekat gelap gulita. Saking gelapnya, saya mengeluarkan kamera DSLR saya dengan maksud membidik ruangan tersebut dengan setelan otomatis agar cahaya flash kamera dapat memberikan cahaya membantu saya melihat dan menyusuri bangker tersebut. Harapan tersebut sirna karena cahaya flash kamera tidak menyala. Tapi bidikan saya ke ruangan bangker tersebut rupanya berhasil menangkap objek dalam ruangan tersebut dan tersimpan dalam memory kamera saya. Saya pun balik kanan untuk keluar ruangan tersebut karena tak bisa melihat apapun dalam ruangan tersebut. Melanjutkan berfoto ria dengan rekan-rekan yang lain diluar bangker sembari menikmati view yang aduhai.

Usai dari bangker, kami pun diajak untuk kembali berpetualang ke batu alien. Batu yang konon katanya berada ditempat tersebut setelah erupsi gunung Merapi tahun 2010. Batu besar berwarna abu-abu gelap menjurus hitam yang terletak begitu saja. Batu hasil erupsi Merapi tersebut disebut Batu Alien oleh masyarakat sekitar karena bentuknya yang menyerupai wajah manusia. Sekilas kita melihat batu tersebut lazimnya batu-batu besar lainnya namun bila diperhatikan seksama benarlah adanya batu tersebut memiliki rupa mirip wajah manusia. Pemandangan disini juga tak kalah menarik, karena kita bisa memotret liukan kali gondel yang membawa lava erupsi Merapi yang kini justru dipenuhi aktivitas penambang batu dan pasir.

Setelah berpose dengan batu alien. Kami pun kembali menuruni lereng Merapi dengan jeep untuk menuju perhentian keempat yakni bermain air di kali layaknya para offroad sejati. Kemudian kembali ke tempat penginapan kami di Desa Sambi untuk melanjutkan kegiatan sebagaimana terjadwal.

Di sela-sela makan siang, seorang teman menanyakan tentang foto dan ingin melihatnya. Saya pun mengambil kamera untuk review gambar di kamera. Satu per satu foto kami lihat hingga selesai namun saya tercengang ketika melihat foto dalam bangker. Tak disangka hasilnya seperti menggunakan flash kamera dan ada objek foto berupa batu besar. Yang membuat saya terperanjat adalah bagian dari objek menyerupai kepala manusia yang sedang menengadah keatas. Ups...awalnya saya mengira ini karena saya berhalusinasi atau berimajinasi karena pengaruh foto-foto yang dipajang di sepanjang lava tour Merapi. Saya lantas bertanya dan memperlihatkan kepada beberapa teman dan mereka semua mengiyakan bahwa benar menyerupai kepala manusia. Coba perhatikan foto di samping lihat posisi batu paling kanan bawah layar.

Entahlah...malamnya ketika hendak membuka pintu kamar tiba-tiba saya merasa begitu takut. Tapi saya menguatkan diri dengan berkata bahwa ini hanyalah kebetulan semata. Itu hanya sebuah batu. Tidak lebih. Jujur saja pengalaman mendapatkan gambar seperti ini merupakan hal baru bagi saya setelah sekian lama bergelut dengan dunia fotografi. Itulah mengapa saya menulis judul tulisan ini " Lukisan Cahaya Mistis Di Bangker Merapi". Satu hikmah yang saya peroleh adalah mendoakan para korban Merapi agar boleh mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan.