Selamat Datang By JoeFrigerio

Menu

Animated Buttons - "Pressed Effect"

...

Slideshow

Automatic Slideshow

Change image every 3 seconds:

1 / 3
Bahagia Itu Sederhana
2 / 3
Beriman Itu Sederhana
3 / 3
Hidup Penuh Syukur

Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Oktober 2018

5 Alasan Timnas U19 Bisa ke Piala Dunia

Mampukah Timnas U19 ke Piala Dunia?Jawabannya Ya Mampu.

Timnas Indonesia U19 mengawali kampanye menuju Piala Dunia U20 pada 18/10/2018. Publik sepakbola nasional tentu berharap skema yang disiapkan mampu membawa Timnas setidaknya masuk semifinal sehingga berhak otomatis ke Piala Dunia U20 di tahun berikut.

Ada 5 alasan kenapa Ultras Garuda mesti optimis target ini bisa diraih
1. Pengalaman Guru Terbaik

I
Ada pepatah mengatakan pengalaman merupakan guru terbaik. Belajar dari pengalaman, inilah kesempatan kedua untuk Coach Indra Sjafri untuk mewujudkan mimpi membawa Timnas U19 menuju pentas dunia. Maklum, Coach Indra sudah punya pengalaman pada tahun 2014 silam mengarungi kompetisi yang sama walau berakhir tidak sesuai target yang diharapkan. Berbekal pengalaman tersebut, Coach Indra diharapkan mampu memetik pelajaran sehingga mempersiapkan tim secara lebih baik pada gelaran AFC tahun ini.
2. Uji Coba Berkelas


Uji coba yang dilakukan oleh para punggawa Timnas U19 kali ini dalam mempersiapkan diri menghadapi AFC Cup memang sangat minim namun satu hal yang positif yakni uji coba dengan tim-tim yang berkualitas dan merupakan rival di Asia. Berbeda dengan 2014, yang mana Timnas U19 saat itu terlalu sering beruji coba hingga melakukan tur nusantara akibatnya penampilan mereka di ajang sesungguhnya justru anti klimaks. Berbekal uji coba berkelas diharapkan Garuda Muda akan mencapai peak performance saat di turnamen.
3. Akses Persiapan Lebih Tertutup

Persiapan terutama latihan Timnas U19 saat ini lebih tertutup dan jauh dari sorotan media. Pertandingan uji coba saja terhitung 4 kali yang di ekspose media. Sebelumnya cuma uji coba dengan klub lokal dengan ekspose yang tidak glamour. Ini tentu berdampak positif terutama agar skema, strategi, dan taktik yang disiapkan juga tidak mudah dibaca oleh lawan. Sehingga bisa tampil mengejutkan para lawan. Selain itu, keuntungan lainnya hal ini semoga bisa membuat para punggawa Timnas U19 lebih fokus mempersiapkan diri dan tidak terlalu jumawa dengan gemerlap peliputan media.
4.Komposisi Pemain Merata

Kemampuan pemain Timnas U19 lebih merata. Skuad saat ini kemampuannya lebih merata baik pemain inti maupun pelapis. Bila dibandingkan dengan 4 tahun lalu. Selain itu, mayoritas pemain merupakan pemain klub liga Indonesia bahkan beberapa diantaranya bermain reguler bagi tim yang dibela dan menjadi tulang punggung alias andalan tim. Tak hanya itu ada pemain Indonesia yang berkarir di Eropa saat ini. Kemampuan merata ditambah terbiasa berkompetisi tentu merupakan kelengkapan tersendiri untuk mengarungi AFC Cup tahun ini.
5. Bermain di Kandang Sendiri

Bermain di kandang sendiri dihadapan ribuan Ultras Garuda menjadi salah satu alasan. Tidak ada yang menyangsikan bahwa suporter Garuda memiliki militansi yang sangat luar biasa. Dukungan pemain ke-12 diyakini akan membakar semangat juang punggawa Garuda Muda untuk bermain 'kesetanan'. Nyanyian khas suporter tentu akan menjadi 'bahan bakar' special bagi para punggawa Garuda Muda untuk bermain dengan penuh kehormatan memberikan kemampuan maksimal demi kebanggaan Bangsa.

Senin, 02 Juli 2018

Nippon Berlakon Bukan Lelucon


Nippon memainkan lakon krusial saat menyelesaikan laga grup H. Ini lakon cerdas sekaligus mengkhawatirkan. Para fans di bangku Stadion tertangkap kamera harap-harap cemas mengutak-atik HP meilihat hasil laga Kolumbia vs Senegal. Senegal gagal samakan skor. Nippon melenggang masuk dalam skenario juara Piala Dunia 2018 bersama 15 tim lainnya. Ini pilihan lakon versi Akhira Nishino yang sukses dan sangat berani.

Nippon cahaya Asia, Nippon pelindung Asia, dan Nippon pemimpin Asia. Tulis seorang teman FB. Saya menimpalinya, bukan sekedar Asia tapi juga Afrika dan Australia. Sembari dalam hati terselip sedikit kebanggaan, setidaknya tulisan saya diawal Piala Dunia dengan judul Asia Masih Diatas terbukti.

Lakon Ksatria Samurai Biru pada Piala Dunia kali ini memang unik. Bermula dari penunjukkan pelatih Akhira Nishino menggantikan Vahid Halilhodžić hanya dua bulan jelang Piala Dunia bergulir. Kemudi pun dipercayakan kepada Nishino yang tidak memiliki catatan mentereng sepanjang karirnya sebagai pelatih selain dianggap sebagai otak dibelakang layar saat Jepang kalahkan Brazil pada Olimpiade Atlanta 1996 lalu.

Babak 16 besar Piala Dunia sebenarnya bukanlah hal baru bagi para Ksatria Samurai Biru. Sebelumnya, di tahun 2002 saat menjadi tuan rumah serta di tahun 2010 lalu mereka sudah mencicipi kerasnya sistem knock out. Bedanya, kalau pada dua edisi itu mereka dinahkodai oleh awak asing yakni Philippe Troussier (2002) dan Alberto Zaccheroni (2010). Nishino menjadi pelatih pertama asli Jepang di pentas Piala Dunia yang berhasil membawa pasukan Samurai Biru mencapai Babak 16 besar.

Perbedaan ini harusnya membuat Akhira Nishino dan Ksatria Samurai Biru boleh memiliki asa untuk membuat sejarah baru bagi persepakbolaan Jepang. Mentalitas Made In Japan dalam dunia ekonomi mestinya bisa ditransformasikan dalam dunia Sepakbola. Inilah kesempatan terbaik untuk mendobrak tradisi kelam untuk pertama kalinya lolos ke babak perempat final. Nippon mesti lolos ke babak perempat final. Walau tidak mudah karena lawan yang dihadapi adalah Golden Generation, Setan Merah, Belgia.

Ksatria Samurai Biru tak perlu berkecil hati. Saatnya mainkan lakon yang tepat. Banyak tim unggulan berjatuhan membuktikan bahwa dengan lakon yang tepat bukan tidak mungkin Nippon membuat kejutan terbesar dalam sejarah sepakbola Jepang dan juga dunia. Toh, rekor head to head dengan Belgia juga tak buruk-buruk amat. Saatnya Nippon berlakon.

Dengan komposisi pemain yang mayoritas berkiprah di Eropa, kualitas eksport Nippon memiliki kemampuan untuk menembus tembok kokoh babak 16 besar. Caranya, hentikan pasokan aliran bola dari lini tengah Belgia untuk Lukaku. Jika Lukaku terluka, keluarkan jurus tokubetsu kōgeki tai (unit serangan khusus) samurai di waktu yang tepat. Kamikaze hancurkan musuh. Asal jangan Kamikaze pada gawang sendiri.

Nippon berlakon bukan sebuah lelucon. Cheers...

Engkau Bukan yang Pertama dan Terakhir Bagiku


Bersiaplah menyaksikan "Perang Kazan" dan "Perang Fisht" malam hingga dini hari nanti. Inilah perang yang melibatkan serta menentukan bagi nasib dua jenderal besar sepakbola dekade ini Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Ini bukan sekedar perang pasukan tempur hebat L’Equipe Tricolore melawan La Albiceleste atau La Celeste melawan A Seleção das Quinas. Ini perang besar yang efeknya melebihi nama besar pasukan tempur yang bertarung. Pentahbisan rivalitas sang jenderal atau kuburan bagi sang jenderal.

Siapa dari dua jenderal besar itu yang terhunus? Ataukah keduanya tetap berdiri tegak diakhir perang? Atau malah keduanya terhunus secara tragis? Public menanti dengan was-was. Terlebih bagi fans keduanya.

Apapun hasilnya bahkan bila keduanya terhunus dalam medan perang malam hingga dini hari nanti bukanlah hal baru dalam wajah sepakbola. Jauh sebelum mereka lahir, banyak "Jenderal besar" pada eranya juga terlibat dalam perang hebat dan terhunus hingga akhir bhakti tak mampu meraih mahkota juara dunia.Nama-nama seperti Cruiyff, Zico, Platini, hingga Baggio adalah jenderal hebat dan berpengaruh di masanya namun tak pernah punya mahkota dunia.

Sepakbola memang sosok yang misterius dan unik. Ia juga terkenal sangat selektif dalam memberikan mahkota. Caranya melakukan seleksi kadang mengernyitkan dahi para pecintanya walau di waktu tertentu ia bisa ramah memberikan kebahagiaan kepada para penggilanya. Ia seperti memberi pesan kepada dunia bahwa ia bintang sesungguhnya. Bintang diatas segala bintang.

"Engkau bukanlah pertama dan terakhir bagiku." Inilah kalimat yang meluncur dari mulut sepakbola seandainya ia mampu berbicara kepada dua orang jenderal besar itu bila nanti terkapar tanpa mahkota.
Cheers...

La Celeste Parlente, Zabivaka Hilang Waka



La Celeste, Uruguay, tampil parlente saat menjinakan tuan rumah, Rusia, di laga pamungkas grup A sekaligus segel posisi puncak. Zabivaka, sang serigala putih pun layu bersama para penggemarnya di Samara Stadion.

Petaka Zabivaka bermula dari pelanggaran yang dilakukan Igor Smolnikov menahan gempuran para penari Tango bercita rasa Uruguay ala Tabarez. Zabivaka celaka karena harus menderita 3 gol, Zabivaka kehilangan Waka (harga diri) tuan rumah.

Penampilan La Celeste terlalu parlente untuk diperhatikan para calon lawannya termasuk Portugal bersama Ronaldo. Mereka menjadi satu-satunya tim dengan pertahanan terbaik dari seluruh kontestan yang ada karena belum sekalipun kebobolan alias clean sheet dengan nilai sempurna 9. Termasuk menghentikan agresifitas Zabivaka selaku duta tuan rumah.

La Celeste sungguh parlente. Lihatlah penampilan mereka. Mayoritas dari skuad si biru langit berbadan kekar, pendek, dan kokoh seperti halnya permainan mereka.

La Celeste memang parlente. Lihatlah mereka dipimpin Opa tua berusia 71 tahun bernama Oscar Tabarez dengan tongkat di tangannya karena sedang mengidap sakit langka, mengalami penyakit Guillain-Barre Syndrome yang menyerang sarafnya. Tapi simaklah, ia tak menggubrisnya. Ia tunjukkan spirit melalui dedikasi total menemani para cucunya bertarung merangkai mimpi. Ia tak tega melepas cucu asuhannya berjuang sendiri.

Opa Tabarez kenal betul karakter cucu-cucunya. 18 tahun sudah ia menyuntikan keyakinan kepada para cucunya bahwa bukan sebuah dongeng bila La Celeste pernah merajai dunia. Bahkan di tahun 2010 lalu, mereka sudah sangat dekat sekali untuk membuat langit Afrika membiru tanpa awan. Impian lama yang coba diraih oleh La Celeste sejak terakhir diraih di tahun 1950.

Setidaknya melalui bimbingan sang Opa, seragam si biru langit kembali mendapat respect di kancah dunia. Catatan tiga kali beruntun tampil secara rutin membuktikan bahwa kemampuan Opa membimbing cucunya tidak boleh dipandang sebelah mata.

18 tahun sudah tapi Opa Tabarez tak pernah lelah apalagi menyerah berjuang demi waka La Celeste termasuk kini di tanah Zabivaka. Bila para cucu dibawah pimpinan Cavani tak ingin pengorbanan Tabarez sia-sia. Perpisahan terbaik bersama sang Opa hanyalah dengan memberikan obat mujarab yang bisa menyembuhkan Opa. Mengubah tongkat Tabarez menjadi trophy Copa Del Mundo.

Tongkat Tabarez memang bukanlah tongkat Musa yang bisa membelah air laut. Namun tongkat itu bisa dikenang sebagai tongkat sakti Piala Dunia manakala cucu asuhannya mempersembahkan sebuah kisah epik bagi kebesaran La Celeste.

Disini ada tangisan, ada perjuangan, ada luka, ada tawa, bahagia dan rindu. Dan itu semualah yang memberatkan ketika harus berpisah.

Cheers...

Rabu, 27 Juni 2018

Dont Change The Winning Team



Don’t Change The Winning Team. Petuah bijak ini rupanya diabaikan Joachim Loew. Ia tampak overconfidense kala timnya bertemu Korsel di laga pamungkas grup F. Loew begitu jumawa selaku tim juara bertahan. Kata teman saya, Loew sangat meremehkan Korea Selatan dengan mengubah starting line up.

Loew lupa atau sengaja mengabaikan fakta bahwa Taeguk Warriors adalah tim yang pernah mencicipi laga Semifinal Piala Dunia. Bahkan kala itu Jerman dengan sang bintang Ballack mesti susah payah meruntuhkan perlawanan Ksatria Taeguk untuk melaju ke babak final Piala Dunia  2002 lalu. Itupun cuma 1-0. 

Loew mengabaikan kesetaraan yang kini mulai tampak karena mulai meratanya kekuatan sepakbola dunia. Loew juga abaikan fakta bahwa Der Panzer belum sepenuhnya lolos dari bayang-bayang hantu kutukan Piala Dunia. Ia memainkan jurus eksperimen di laga yang super penting. Ia mengubur diri dan timnya kedalam lembah kutukan karena romansa nostalgia yang mungkin terlalu melekat dalam sanubari Loew hingga kembali menurunkan beberapa pemain yang pernah merajai puncak dunia 4 tahun lalu bersamanya. Ia seperti tidak mengapresiasi tim yang menyelamatkannya saat melawan Swedia.

Eksperimen yang dilakukan tidak menunjukkan respect pada timnas Korea Selatan. Lebih jauh, ia tidak menghormati turnamen sekelas Piala Dunia. Ia abai, ini turnamen akbar dunia yang diikuti oleh seluruh tim terbaik karena sudah melalui babak kualifikasi. Eksperimen yang dilakukan Loew ibarat mengikuti race balapan dan ditengah-tengah race balapan, ia mengutak-atik dan mengganti beberapa komponen mesin. Apa yang terjadi? Energy yang dihasilkan pun berbeda. Energy positif  yang membawa Loew selamat dari laga melawan Swedia berubah lemah. Der Panzer pun mesti pesan tiket pesawat lebih awal ke Berlin. Pilu karena mencoreng nama besar Der Panzer yang disegani dunia. Tercoreng karena selain tidak mampu lolos grup, Der Panzer justru tenggelam dalam dasar klasemen. Inilah sejarah paling kelam sepakbola Jerman. Auf Widersehen Jerman.

Itulah sepakbola. Dari sini kita bisa petik banyak pelajaran berharga untuk melakoni hidup ini.
Salam olahraga, 
cheers...

Senin, 25 Juni 2018

Tiga Singa Mengaum Beri Ultimatum

Tiga Singa, Inggris berikan ultimatum untuk lawan-lawannya di pentas Piala Dunia 2018 melalui auman keras yang mengundang decak kagum. Para rival mesti nyalakan alarm waspada. Terutama lawan terdekatnya yakni Die Rotten, Belgia yang akan menjadi pertemuan pamungkas grup G sekaligus merebut posisi puncak. 


Bukan sembarang ultimatum, 6 gol dari aksi mencabik-cabik ala pasukan Gareth Southgate menjadikannya tim paling subur dalam satu laga sejauh ini sekaligus memberikan garansi kepada para penggemar The Three Lions bahwa generasi 2018 berbeda dengan generasi sebelumnya. Taring The Three Lions tidak lagi tumpul. Sebuah pesan melambungkan asa untuk menerkam lawan.

Ada yang berbeda dari penampilan anak asuh Southgate. Tiga Singa menunjukkan perbedaan signifikan dalam mengarungi Piala Dunia edisi ini dengan sentuhan set piece. Tidak main-main, gelontoran 4 gol dari 6 gol yang dilesakkan ke gawang Panama bermula dari situasi set piece. Sungguh mematikan. Bahkan gol keempat yang menjadi gol kedua Jhon Stones pada laga ini dihasilkan melalui sebuah rancangan kombinasi set piece yang terukur dan umpan melalui heading
Ini belum dihitung dengan set piece pada laga perdana yang membuat Inggris mengunci kemenangan.

Adalah seorang Kieran John Trippier, fullback milik Totenham Hotspur yang menjadi aktor dari set piece mematikan The Three Lions. Ia pula yang menjadi aktor melalui umpan kuncinya kepada Linggard sebelum dilanggar dan berbuah penalti gol kedua Inggris. Ia layaknya seorang sniper yang selalu tepat dalam melepas umpan menuju target. Crossing akurat dengan target John Stones dan Harry Maguire atau Harry Keane menjadikan Inggris sungguh mematikan bila mendapatkan kesempatan melakukan tendangan bebas atau pun sepak pojok. Terlihat jelas mereka benar-benar melakukan latihan khusus untuk memanfaatkan bola mati. Hal yang selama ini menjadi ciri khas Jerman, kini berubah menjadi senjata termodern dan paling bahaya milik Inggris yang bisa membunuh siapa saja lawannya.

Senjata ini merupakan temuan paling tampan dari seorang Southgate. Ia memaksimalkan sumber daya materi pemainnya yang memiliki fisik mumpuni untuk beradu bola-bola atas. Sebuah strategi elegan nan cerdas untuk memecah kebuntuan yang bisa membuat perbedaan pada saat menapaki tangga menuju puncak kejayaan dunia yang sudah lama dirindukan. Saya membayangkan bila Inggris masih memiliki seorang David Beckham atau di eranya Inggris melatih memanfaatkan strategi set piece seperti ini secara khusus tentu lebih mengerikan efeknya. Entahlah...

Akh...mereka belum ketemu tim yang mapan. Begitu kata seorang teman. Saya mengamininya tapi sekaligus meyakini bahwa senjata seperti itu sangat mumpuni untuk melumpuhkan lawan. Siapa saja lawannya pasti akan stress bila setiap kesempatan bola mati berujung gol. Bukan begitu bro?
Cheers....

Sabtu, 23 Juni 2018

Jerman Melawan Kutukan🇩🇪

Tim nasional Jerman mendapat sorotan usai menderita kekalahan saat menjalani laga perdana grup F bersua Mexico.  Public lantas mengkaitkannya dengan kutukan yang sudah lama hidup di Piala Dunia yakni kutukan juara Piala Dunia.
Kutukan ini membuat para juara edisi sebelumnya sulit bersaing bahkan ada yang bernasib lebih buruk yakni gagal lolos dari fase grup.

Kekalahan 0-1 di laga awal mengingatkan kita pada kekalahan Spanyol 1- 5 dari Belanda (PD 2010), Perancis 0-1 dari Senegal (PD 2002). Die Mannschaft pun dibayangi tulah kutukan dalam memenuhi ambisinya mempertahankan gelar juara. Indikasinya kuat,  langsung kalah di awal laga.

Laga kedua Grup F berhadapan dengan Swedia lantas ditunggu oleh jutaan penggila bola. Kegagalan Jerman lolos grup semakin mentahbiskan kuatnya kutukan itu hidup dalam tradisi Piala Dunia. Ini tidak hanya menjadi berita besar tapi juga mencoreng reputasi sepakbola Jerman yang mentereng.

Loew dan pasukan tentu menyadarinya. Tapi bukan Jerman bila tidak melawan.
Tulah kutukan ini bukan tidak dirasakan Jerman masa lalu. Usai juara 1954 Jerman bahkan melaju hingga semifinal di edisi 1958, usai menjuarai Jerman 1974 di edisi Piala Dunia 1978 mereka sampai pada babak kedua. Begitu pun, kala Juara tahun 1990,  Jerman sampai babak perempat final di edisi 1994. Artinya,  reputasi Jerman usai juara tidak seburuk yang dialami tim lain apalagi sampai tidak lolos grup.

Jerman berbeda. Harapan dan mentalitas ini yang coba diusung oleh Loew dan Pasukan dalam menghadapi Swedia dini hari nanti. Loew tentu harus sudah menemukan formula yang tepat guna terhindar dari tulah kutukan ini. Setidaknya mereka tidak memalukan para pendahulunya.

"Mantra" ala Loew menghindari kutukan diharapkan mujarab. Dari aspek teknis, Loew dan pendampingnya pasti sudah meraciknya. Boleh jadi salah satu cara melepaskan ikatan kutukan juara dengan melepaskan pemain yang terlibat dalamnya.  Darah segar dalam diri Sebastian Rudy, Leon Goretzka, dan Julian Brandt boleh jadi menjadi mantra pembeda hindari kutukan dengan mengistirahatkan para pemain juara seperti Ozil dan Khedira juga mayoritas pemain dari Piala Dunia 2014 lalu.

DNA anomali Jerman di Piala Dunia setidaknya masih menjadi satu sisi melambungkan asa bagi para pendukung Jerman yang sedang was-was. Maklum, tim yang diidolakan adalah salah satu tim selain Brazil yang sering membuat anomali atau tidak kena tulah kutukan yang ada dan telah lama hidup di even sekelas Piala Dunia.

Setidaknya dalam catatan saya, hanya Jerman yang mampu mematahkan kutukan juara di benua Amerika yang sudah berlangsung sejak Piala Dunia digelar. Tidak main-main Jerman juara di istana rajanya benua Amerika,  Brazil dengan mengandaskan pemilik istana dengan skor telak 7-1. Catatan apik lainnya,  hanya Jerman dan Brazil yang mampu menembus babak final tiga edisi beruntun. Tidak itu saja,  Jerman juga menjadi tim selain Belanda yang mampu menjadi runner up beruntun. Jerman pula bersama Argentina yang mampu membuat back to back finalis beruntun dengan saling mengalahkan. Jerman adalah tim anomali. Terlahir istimewa.

Deutsch über alles. Spirit ini begitu kuat untuk menyatakan persatuan Bangsa Jerman. Termasuk bersama-sama bersatu kalahkan kutukan. Jerman 2018 tetap berpotensi mewarisi DNA "tim anomali"  bahkan bukan tidak mungkin berpotensi membuat juara beruntun menyamai Brazil. Kuncinya,  Loew dan pasukan belajar spirit juara 1954 saat dimana Jerman kalah di laga perdana tapi menjadi juara.

Menarik untuk ditunggu Jerman melawan Kutukan.
Cheers...

Kamis, 21 Juni 2018

Piala Dunia Yang Penuh Kejutan? Tidak!

Piala Dunia yang penuh kejutan? Ya bila dipandang dari segi hasil yang diperoleh oleh para raksasa unggulan sampai dengan saat ini. Namun dipandang dari sudut berbeda sebenarnya tidak!  Sepakbola kini sudah berkembang dan mulai merata ke seluruh penjuru dunia. Itulah sebabnya laga-laga yang dianggap mudah untuk tim tradisional dengan reputasi mengkilap malah berujung mengagetkan pecinta bola. Tapi disinilah letak kenikmatan dan membuat efek candu yang kuat untuk terus menyaksikan laga demi laga dari sosok bernama sepakbola.

Sosok ini memiliki cara unik bermetamoforsa sesuai zaman. Gayanya elegan nan membius namun sangat terikat sejarah yang membesarkan namanya di dunia olahraga.

Kekalahan Jerman pada partai pembuka bukanlah hal baru pada even sekelas Piala Dunia. Hal sama sudah menjadi tradisi kelam yang menghiasi parade juara bertahan bernasib serupa di even yang sama sebelumnya. Kurang elok bila saya menyebutnya dengan kena getah kutukan.

Kejutan masih terus mengalir dalam urat nadi Piala Dunia adalah magis lanjutan yang dinanti. Akan semakin memberi efek kejut bila Sang Protagonis justru adalah sosok yang sudah diabaikan karena kekalahannya.  Maklum, sosok bernama sepakbola senang mengeluarkan kemampuan magis yang penuh dengan misteri. Ia begitu kuat memegang tradisi yang telah mengurat akar dalam kehidupannya. Itu mengapa sepakbola pada akhirnya hanya mempersilakan kepada mereka yang punya karakter kuat untuk bereaksi secara tepat dalam rumahnya.

Pada akhirnya,  kegagalan meraih kemenangan bagi Argentina, Brazil,  dan Jerman bukanlah kali pertama terjadi bagi ketiganya saat arungi kompetisi sekelas Piala Dunia.  Cara mereka bereaksi akan menjadi suguhan elok di panggung Piala Dunia. Ini yang menarik untuk dinantikan... Selamat menyaksikan!  Cheers..

Rabu, 13 Juni 2018

Fakta Unik Piala Dunia, Anda Harus Tahu


Gelaran Piala Dunia Russia 2018 getarannya makin kuat terasa. Panggung hebat ini tidak hanya dinanti para pemain dan pelatih yang terlibat tapi juga dinanti publik sepak bola sejagad. Sebelum menyaksikan laga demi laga,  ada baiknya anda perlu tahu beberapa fakta unik Piala Dunia. Seperti apa?

1. Tahukah anda hanya terdapat dua tim yang memberikan anomali pada hajatan terakbar sepak bola dunia yakni Jerman dan Brazil. Brazil melakukan ya ketika menjuarai di tanah Eropa (Swedia) tahun 1958 dan Jerman melakukannya 4 tahun silam di Brazil. Selebihnya,  negara Eropa menjuarai di Eropa dan Amerika menjuarai di benua Amerika.
Selain hal tersebut,  hanya Brazil dan Jerman yang mencapai babak final Piala Dunia tiga edisi berturut-turut. Jerman melakukannya di tahun 1982,1986, dan 1990. Brazil melanjutkannya dari tahun 1994,1998, dan 2002.

2. Sejak 1930 hingga kini daftar juara hanya dikuasai oleh tim-tim yang berasal dari dua benua yakni Eropa dan Amerika. Kehadiran Asia, Afrika,  dan Australia sejauh ini hanya pengembira. Dari ketiga benua tersebut Asia paling unggul dari sisi prestasi karena pernah mencapai semifinal diikuti Afrika kala Kamerun 1990 dan Ghana 2010 mencapai perempat final.

3. Ada dua tim yang menjadi juara dunia dua edisi beruntun.  Piala Dunia yang digelar sejak 1930 ini memang unik. Nyatanya,  ditengah dominasi sebuah negara hanya terdapat dua tim yang mampu meraih trophy dua kali berturut-turut.  Dua tim itu adalah Italia dan Brazil. Italia melakukannya di Piala Dunia 1934 dan 1938 sedangkan Brazil melakukannya di tahun 1958 dan 1962.

4. Hanya ada dua negara yang mampu back to back untuk bertemu di partai puncak dua edisi berturut-turut.  Pertemuan pertama di Mexico 1986 dan dilanjutkan 4 tahun kemudian di Italia. Dua negara tersebut adalah Jerman dan Argentina. Uniknya kedua tim berbagi gelar dengan saling mengalahkan di dua edisi itu.

5. Hanya dua tim yang tampil sebagai runner up beruntun.  Belanda melakukannya tahun 1974 dan 1978. Jerman pun melakukannya tahun 1982 dan 1986. Uniknya Belanda gagal dari dua tuan rumah sedangkan Jerman gagal dari dua tim dengan kostum berdominasi biru.

5. Tidak pernah terjadi duet final sesama tim benua Amerika jika Piala Dunia digelar di Eropa. Demikian pula sebaliknya, ketika digelar di Amerika tidak pernah terjadi duet finalis dari tim Eropa.

6. Spanyol adalah tim pertama dan satu-satunya diluar tim dengan dominasi kostum putih, kuning, dan biru yang mampu merajai dunia.

7. Dua kali beruntun finalis sesama tim Eropa. Sebanyak 20 kali gelaran Piala Dunia final sesama tim Eropa terjadi dua kali beruntun yakni di tahun 1934 dan 1938 serta 2006 dan 2010.

8. Skema 12 tahunan Italia patah.
Skema 12 tahunan Italia kini telah berakhir seiring siklus Piala Dunia yang sudah rampung saat Italia keluar sebagai juara dunia 2006 sekaligus menutup siklus tersebut. Skema 12 tahunan final yang dimulai 1970 berakhir sudah. Terbukti,  Piala Dunia 2018 seharusnya final  menjadi milik Italia. Namun faktanya Italia tidak berhasil mencicipi rumput Piala Dunia di Russia.

9. Seiring berakhirnya sebuah siklus/pola biasanya memunculkan siklus/pola baru yang bila dilihat secara seksama memiliki korelasi dengan pola sebelumnya. Siklus/pola 12 tahunan yang berakhir pada timnas Italia mewujud dalam diri timnas Jerman yang diawali 1990 saat Piala Dunia digelar di Italia. Siklus/pola ini setidaknya terbentuk sampai dengan gelaran Piala Dunia terakhir yang digelar di Brazil 4 tahun silam.

Inilah beberapa fakta unik terkait Piala Dunia. Semoga sajian fakta-fakta ini mampu memberi anda sedikit pencerahan sembari menyaksikan laga hot dari panggung tertinggi sepakbola sejagad.

Aleichem Shalom,

Senin, 21 Agustus 2017

Mengintip Emas Ala Luis Milla

Emas telah dibebankan kepada Luis Milla dan pasukannya Timnas Indonesia U-22 pada ajang multi event Sea Games 2017 yang berlangsung di Malaysia.

Target yang ditetapkan PSSI kepada Timnas U-22 terasa wajar karena waktu persiapan yang cukup mumpuni serta sudah terlalu lama menahan dahaga emas dari cabang yang paling digemari pada seantero Nusantara. Maklum, sudah 26 tahun lalu kita terakhir menggenggam emas di ajang ini tepatnya di tahun 1991 kala Sea Games berlangsung di Filipina.

Tiga laga telah dilalui pasukan Garuda Muda dalam upaya mengintip emas dengan hasil sekali seri dan dua kali menang. Hasil yang dicapai sejauh ini membuka pintu peluang untuk melangkah ke babak selanjutnya. Namun dengan syarat dua laga tersisa harus dimenangkan.

Tanpa mengecilkan kehadiran Kamboja yang akan dilawan Garuda Muda pada laga terakhir penyisihan Grup B, lawan keempat yakni Vietnam merupakan kunci utama untuk membuka pintu semifinal. Menurut saya, dengan mengalahkan Vietnam kita sudah dapat dipastikan berada pada babak selanjutnya dan dapat mengintip emas lebih dekat.

Namun mengalahkan Vietnam bukanlah perkara mudah. Apalagi harus bertanding tanpa diperkuat oleh jenderal lapangan tengah Evan Dimas yang oleh media Vietnam dijuluki Messi dari Indonesia. Akumulasi kartu kuning yang diterima oleh Evan Dimas sehingga tidak bisa bermain dalam laga melawan Vietnam merupakan kerugian besar bagi Timnas Indonesia. Apa mau dikata?

Kini, Luis Milla mesti menyiapkan strategi lain termasuk komposisi pemain yang kiranya mampu menutupi ketidakhadiran pemain paling berpengaruh dalam tim seperti Evan Dimas. Melihat komposisi pemain yang diboyong Milla pada skuad kali ini, lini tengah dihuni oleh Asnawi, Hargianto, dan Hanif selain Evan Dimas yang tidak dapat bermain.

Ketiga pemain tersebut sudah mencicipi rumput Sea Games pada laga-laga sebelumnya. Namun harus diakui lini tengah Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat pada peran Evan Dimas dalam mengatur ritme permainan, visi bermain, serta terutama passing-passing akurat yang dimilikinya. 

Untuk itu, Milla tidak bisa berharap banyak kepada Hanif maupun Asnawi untuk memainkan pola seperti yang sudah dijalani Timnas dalam laga-laga sebelumnya. Keduanya bukan tidak bagus namun belum setara kemampuan Evan Dimas. Karenanya, alangkah bijaknya bila Milla lebih cerdik dengan mengubah skema bermain Timnas Indonesia untuk meredam keganasan Vietnam yang di ajang ini tampak dominan baik dalam penguasaan bola maupun ketajaman lini serang.

Pilihan menunggu dan memanfaatkan counter attack merupakan salah satu opsi yang bisa diambil oleh Milla. Namun opsi ini sangat beresiko karena Vietnam pada ajang ini justru sangat senang dengan tim lawan yang menunggu sehingga mereka bebas berkreasi. Terbukti, di laga-laga sebelumnya Vietnam sangatlah enjoy memainkan bola pendek variasi dari kaki ke kaki karena lawan dipaksa untuk bertahan sekuat tenaga di daerahnya sendiri. 

Karena itu, keberanian Milla untuk mengubah komposisi pemain di lini tengah Indonesia menjadi kunci sukses keberhasilan Indonesia untuk meredam Vietnam. Disini, saya melihat bila saja Milla berani mengambil resiko, Gavin Kwan digeser ke lini tengah untuk mendampingi Hargianto dan salah satu dari Asnawi ataupun Hanif.

Pilihan ini memang beresiko namun perlu dicoba karena seorang Gavin Kwan sesungguhnya posisi aslinya adalah seorang gelandang serang dan pengatur serangan sebelum diubah oleh Jaksen Tiago saat membesut Barito Putra ke full bek kanan. Putu Gede bisa dipasang untuk mengisi posisi full bek kanan yang ditinggalkan Gavin Kwan. Namun, pilihan ini tentu mesti mengorbankan salah satu dari tiga pemain depan. Itu bila Milla memakai 4-2-3-1.

Jika Milla memakai 4-3-3 maka sejatinya Gavin bisa dicoba untuk diisi di lini tengah untuk mensuplay bola kepada tiga pemain yang bergerak didepan bisa Marinus/ Ezra, Osvaldo/Sadil , maupun Yabes atau Febry. Tergantung pilihan Milla di sektor depan. 

Kewajiban untuk menang adalah harga yang tidak bisa ditawar lagi apabila Milla dan pasukannya ingin mengintip emas. Untuk meraih emas memang perlu adanya keberanian untuk mengacaukan Vietnam yang saya yakin sudah memantau laga Indonesia sebelumnya.

Taktikal yang dimainkan Milla akan berhasil bila menunjuk pemain yang tepat dalam mengisi starting eleven nantinya. Yabes pun saya kira bisa dicoba karena pemain yang satu ini juga sangat rajin untuk menutup ruang di lini belakang ketika tim ditekan lawan dibandingkan Febry yang sedikit lemah dalam menutup ruang ketika tim diserang.

Apapun keputusan Milla, Dia dan staf pelatihnya yang lebih tahu dengan kondisi terkini para pemain Timnas U_22. Sekali lagi dengan kondisi Timnas tanpa kehadiran Evan Dimas, saya berharap Milla mampu menunjukkan daya magisnya dengan taktik yang akrobatik alias diluar dugaan sehingga mampu mengalahkan Vietnam. Inilah kuncinya untuk mengintip emas lebih dekat dan jelas.

Semoga Timnas Indonesia bisa berjaya!

Salam Olahraga,






Minggu, 28 Mei 2017

Melawan Kutukan Champions League



Juventus dan Real Madrid akan bersua dalam perebutan gelar Champions League 2016/2017 pada 03 Juni 2017 yang berlangsung di Cardiff. Sebelum menyaksikan laga tersebut, saya ingin mengulas tentang kedua tim dari sisi non teknis karena sisi teknis keduanya sangat layak berada di partai puncak.

Satu yang menarik perhatian saya adalah mengenai kutukan dalam sepakbola secara khusus pada Champions League.

Pertama; Kutukan Sang Juara Bertahan

Dalam konteks laga final musim ini. Kutukan tersebut tentu saja mesti dihadapi oleh Real Madrid selaku juara bertahan. Maklum, sejak ajang ini berubah format di tahun 1992 belum ada satu pun tim di muka bumi ini yang mampu meraih gelar secara beruntun.

Bila kutukan ini tetap berlaku, maka Real Madrid dipastikan akan mengalami kegagalan dan harus puas menyaksikan Juventus sebagai raja Eropa musim ini.

Tapi Madritista masih boleh tersenyum dan berharap kutukan itu terpatahkan mengingat rekor Real Madrid di ajang ini. Sejak 1992 atau sejak format liga berubah, Real Madrid sudah mencapai final lima kali dan musim ini adalah final keenam mereka. Catatan impresif dibuat Real Madrid yakni 100% kemenangan di babak final alias tak pernah gagal di babak final.

Hanya saja senyuman para Madritista tidak boleh terlalu lebar dulu ya... karena rekor impresif yang dibukukan tersebut tidak pernah dibuat secara beruntun. Ini adalah kali pertama Madrid masuk final beruntun sejak 1992.

So, menarik untuk kita tunggu seberapa besar tuah Zidane dan duo Madrid pendobrak sejarah dan rekor dalam diri Ramos dan Ronaldo? Mampukah mematahkan kutukan?

Kedua; Kutukan Pemain Perancis

Tidak hanya Real Madrid yang mesti melawan kutukan. Juventus sang rival pun mesti melawan kutukan. Ya...kutukan pemain Perancis.

Seperti halnya Real Madrid yang mencapai final untuk keenam kalinya sejak 1992, Juventus pun demikian. Bedanya Juventus hanya berhasil meraih gelar satu kali di tahun 1996. Kesuksesan Juventus ini tak lepas dari peran gelandang asal negeri Eiffel.

Secara keseluruhan, dua gelar yang berhasil diraih Juventus di ajang Champions League sejauh ini berhasil dipersembahkan oleh karena kehadiran seorang maestro lapangan tengah asal Perancis. Yang pertama tentu kita mengenal nama Platini dan gelar kedua tak lepas dari kehadiran Didier Deschamps.

Lepas dari itu, di tahun 1997 dan 1998, Zidane pun gagal di Juventus. Kenapa? Karena Zidane merupakan imigran Aljazair dan ada dua maestro asal Perancis bersama Deschamps dalam tim Juventus saat itu.

Dua musim lalu ada Pogba yang membawa Juventus dan nyaris membawa Juventus merengkuh gelar tapi lagi dan lagi Pogba merupakan imigran berwarga negara Perancis.

Soal ini, Jupentini masih boleh sedikit tersenyum lega karena dalam skuad saat ini ada seorang pemain asal Perancis, Benatia. Sayangnya, senyuman Jupentini tak boleh lebar sekali karena Benatia sedang cedera dan jarang masuk susunan line up dan skema Juventus selama mengarungi Champions League musim ini. Apalagi Benatia juga bukan murni berdarah Perancis tetapi merupakan keturunan imigran.

Dalam skema main Juventus 3-5-2 dengan fleksibilitas skema, Benatia berpeluang bermain di lini tengah Juventus. Tentu saja bila tidak cedera dan apabila dimainkan oleh Allegri pada laga final nanti.

So, mampukah Juventus meraih gelar ketiganya dengan mematahkan kutukan pemain Perancis? Menarik untuk ditunggu.

Kutukan sepakbola bukanlah hal yang masuk akal memang. Tapi faktanya, kutukan sepakbola hidup dalam aliran bola sebagai sebuah misteri yang menggoda para pecinta bola untuk terus mengikuti dan menantikan laju bola dengan segala misterinya.

Bila sudah begini, marilah kita mengarahkan pandangan ke Cardiff, 03 Juni mendatang sebagai saksi sejarah siapa dari kedua tim ini yang berhasil mematahkan kutukan sekaligus menjadi jawara Eropa musim ini.

Selamat menyaksikan!

posted from Bloggeroid

Jumat, 19 Mei 2017

Dibalik Keluhan The Special One


Seminggu jelang laga final Europa League 2016/2017 yang mempertemukan Ajax Amsterdam vs Manchester United, manager MU, Jose "The Special One" Mourinho keluhkan jadwal Manchester United yang sangat padat.

Keluhan tersebut sepintas sangat manusiawi mengingat MU masih bertanding pada tanggal 21 Mei untuk menyelesaikan pekan ke-38 liga Inggris dan tiga hari kemudian menjalani
laga final Europa League. Namun, secara implisit keluhan Mou tersebut sesungguhnya merupakan senjata awal yang dipakai Mou untuk menyerang pihak lawan. Ibarat senjata para ninja sekali lempar langsung beberapa buah bintang berluncuran menyerang lawan sekaligus melindungi diri.


Pertama; keluhan The Special One tersebut sekaligus memberikan pesan implisit kepada penggemar MU seantero jagad bahwa bila dalam laga final MU mengalami kekalahan, maka mesti dimaklumi karena faktor jadwal yang padat sehingga pasukannya kelelahan. Dengan demikian, bila gagal Mou berharap kursi panas manager MU tidak dikotak-katik alias tetap menjadi miliknya. Para fans pun bisa bertepuk dada bahwa kami finalis. Ini kalau di Pilkada Indonesia mirip dengan pernyataan yang lazim kita dengar seperti ini : "Kami pasti menang, kalau kami kalah itu karena pasti dicurangi!"

Kedua; keluhan tersebut secara implisit sebenarnya taktik Mou melepaskan beban di pundak timnya dan menyerahkan beban tersebut kepada Ajax yang dihuni mayoritas pemain usia muda belia. Bila mayoritas para pemain Ajax termakan pernyataan ini dan terbebani, tentu akan merusak sistem permainan Ajax dari dalam tubuh mereka sendiri dan ini memudahkan Mou serta pasukannya meraih kemenangan.

Ketiga; keluhan simple namun berdaya ledak tinggi ala the special one ini secara implisit tujuannya ingin meninabobokan para pemain Ajax yang mayoritas dihuni pemain muda beserta para pendukungnya. Bila termakan pernyataan tersebut, para pemain Ajax yang berusia muda akan membawa emosi kedalam lapangan dengan mentalitas yang over confidense bahwa mereka sudah unggul karena fisik lebih unggul. Disinilah sebenarnya senjata mematikan itu merobek mimpi Ajax Amsterdam dan pendukungnya untuk merengkuh gelar karena akan mati terkapar akibat mentalitas menganggap diri unggul sebelum laga dimulai.

Keempat; keluhan ini sebenarnya juga ingin menyerang sang pengadil yang akan memimpin laga bahwa bila para pemain MU melakukan kontak fisik, itu semata-mata karena kelelahan dan mohon dimaklumi untuk tidak lekas memberikan kartu. Di sisi lain, bila pemain MU dijegal mesti diberikan hukuman karena psikologi pengadil sebelum masuk kedalam lapangan sudah dijejali dengan rasa kemanusiaan bahwa laga ini dimainkan dengan kondisi fisik pemain MU yang tidak sepenuhnya prima.

Itulah kenapa keluhan Mou mendapat reaksi yang cukup keras dari arsitek Ajax, Peter Bozs yang geram dengan mengatakan bahwa Mou sangat mengada-ada.

Bila disimak secara mendalam, taktik Psywar sebelum laga yang dimainkan Mou memang hal yang lumrah dalam dunia sepakbola tapi benar apa yang disampaikan Bosz bahwa keluhan tersebut mengada-ada karena MU sendiri sebenarnya memiliki kedalaman skuad yang memungkinkan Mou untuk merotasi pemain mana yang tampil di liga lokal dan mana yang tampil untuk kejuaraan Eropa.

Apalagi alasan jadwal tersebut, sungguh tak bisa diterima karena MU tidak lagi berpeluang untuk memperbaiki posisi di klasemen liga Inggris sebagai kandidat kuat juara sehingga laga terakhir MU di liga bukanlah partai yang mesti dilalui dengan skuad utama.

Jamak terjadi bahwa bila klub suatu negara melaju di kejuaraan Eropa dan liga lokal pun masih berpotensi dalam perburuan gelar, maka biasanya federasi negara akan mengundurkan laga klub tersebut bila berbeturan atau dekat dengan jadwal kompetisi Eropa demi menjaga kebugaran pemain karena federasi juga tentu saja berharap ada prestasu klub di level internasional demi menaikkan koefisien FIFA juga bisnis ikutan.

FA dalam hal ini pasti akan mengundurkan jadwal pekan ke-38 namun itu tidak dilakukan karena FA paham bahwa urgensi pengunduran jadwal bukan skala prioritas.

Satu yang pasti dibalik keluhan the special one memiliki potensi destruktif yang luar biasa. Psywar taktikal inilah salah satu senjata khas pria Portugal dan menjadi keunggulan dirinya sehingga menempatkan Mourinho kedalam jajaran top manager dunia saat ini.

Harus diakui permainan psywar taktikal Mourinho memang sangat halus namun mematikan. Dibalik keluhan the special one, MU siap menghadirkan malaikat maut kepada Ajax bila tak berhati-hati. Setidaknya mengamankan posisinya di kursi panas sebagai manager MU.

Dibalik keluhan the special one memang tidak bisa dibaca secara polos karena didalamnya terdapat begitu banyak senjata mematikan. Itulah kenapa Jose Mourinho disebut The Special One.

Salam Olahraga,
posted from Bloggeroid

Rabu, 10 Mei 2017

Rossi dan Keinginan Membalap


Valentino Rossi, nama yang harum semerbak di lintasan MotoGP. Harus diakui kehadirannya di MotoGP telah berhasil membuat jutaan orang menjadi pengikut setia MotoGP.
Vale merupakan legenda hidup di MotoGP. Kemampuannya tidak diragukan lagi. 9 gelar juara dunia adalah buktinya.

Gaya balap dengan karakter yang nyentrik membuat arena MotoGP menjadi tontonan menarik kala 46 adu cepat di lintasan. Rossi sudah identik dengan MotoGP. Saking identiknya, bahkan di daerah saya orang tidak menyebut mau menyaksikan MotoGP tapi ingin menyaksikan Rossi. Jujur saja, saya pun tertarik menyaksikan MotoGP karena Rossi tapi itu dulu.

Pasca Rossi memutuskan untuk terus membalap hingga saat ini (beberapa tahun lalu), saya pun mulai meninggalkan Rossi. Benar bahwa ketika mendekati usia kepala 4 Rossi masih membalap adalah hal yang luar biasa namun di sisi lain justru menjadi abu yang mencoreng kecermelangan karir Vale tanpa disadari sepenuhnya.

Saya melihat ada ambisi yang terpancar dari dalam diri Rossi sekaligus tanpa sadar menggerus karakter balapnya yang lama menjadi trademarknya. Ambisi tersebut dikawinkan dengan padu oleh kaum kapitalis untuk terus merengkuh keuntungan karena kehadiran Vale di lintasan. Disinilah, sebenarnya lonceng kematian dibunyikan dalam karir Rossi. Abu-abu kotor beterbangan menutupi kecermelangan karirnya selama ini karena gagal bersaing dengan para pebalap muda lainnya. Ini yang menurut saya tidak disadari dan tetap dipaksakan. Sebuah kombinasi yang tepat yakni ambisi dan keuntungan.

Apa yang terjadi selanjutnya? Generasi baru MotoGP melihat Vale sebagai pebalap yang punya nama besar tanpa punya skill mumpuni karena yang mereka saksikan saat ini, saat dimana Rossi sudah tak segahar dulu. Inilah yang saya tidak mau terjadi pada bintang besar sekelas Rossi.

Sampai pada titik ini, akhirnya saya membenarkan agadium bahwa ambisi yang terlalu besar kadang membuat seseorang melupakan segala hal demi memenuhi ambisinya. Ya...saya melihat demi memenuhi ambisi meraih gelar kesepuluh, Rossi dimanfaatkan dengan baik oleh para pemain bisnis di lintasan MotoGP yang justru menggiring Rossi masuk dalam jurang dalam bernama kehampaan. Hal dimana Rossi akhirnya tidak mendapatkan tempat yang selayaknya sebagai seorang legenda yang dihormati. Ketakutan saya, Rossi malah semakin kesini makin terpuruk dan yang memalukan adalah ketika harus melakukan tindakan tak terpuji selanjutnya. Ini tentu sungguh mengotori jejak yang sudah dibangun begitu rupa.

Ini hanya anggapan pribadi saya saja karena saya tidak ingin melihat Rossi seperti halnya Maradona atau Roger Milla tetapi saya ingin melihat Rossi seperti seorang Frans Beckenbauer atau Pele. Kenapa? Karena publik tidak pernah sampai melihat mereka terpuruk dalam karir profesionalnya sehingga mereka mendapatkan tempat terhormat.

Sekelas Rossi, saya kira sudah saatnya menjadi penasihat tim. Level balapnya sudah teruji di lintasan dan kini harus naik tingkat. Usia tak bisa bohong. Keberanian, kelincahan, dan kepekaan perhitungan bermanuver sudah semakin berkurang adalah indikasinya.
Ingat! setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya.
posted from Bloggeroid

Minggu, 07 Mei 2017

Dua Gol Dibalik Kemenangan Juventus


Juventus berhasil meraih angka sempurna dalam laga semifinal Champions League di kandang AS Monaco dengan skor telak 2-0. Ini tentu membuka peluang besar bagi Juventus tidak hanya melaju ke babak final tapi juga mewujudkan mimpi Buffon sebelum mengakhiri karir profesionalnya.

Ada dua gol dan itu terjadi karena dua faktor yang menjadi kunci kemenangan Juventus atas AS Monaco menurut saya yakni :

1. Permainan Non Teknis

What? Yap! Permainan non teknis Juventus sebelum laga dimainkan menjadi faktor kesuksesan yang membuat AS Monaco bermain tak sebagaimana biasanya.

Apa itu?
Sebelum laga bergulir, Juventus memberikan pernyataan psywar bahwa laga semifinal melawan AS Monaco sekaligus ingin melihat potensi terbaik darah-darah muda Monaco untuk dibidik. Halus dan mematikan!

Apa yang terjadi? Para pemain AS Monaco yang mayoritas berusia belia tak bermain lepas karena ada bayang-bayang sedang dipantau. Banyak yang terbebani. Bermain individual untuk memperlihatkan skill dan menepikan kerjasama tim. Lihat saja, dua gol Juventus berawal dari kesalahan individual pemain Monaco yang ingin mempertontonkan skill dan malah direbut pemain Juventus hingga berujung gol ke gawang Monaco.

Darah-darah muda itu terbuai dan lupa kalau laga melawan Juventus butuh permainan tim dengan kombinasi apik. Leonardo Jardim pun sadar akan hal ini. Pergantian pemain di babak kedua dengan pemain berpengalaman dalam diri Moutinho adalah keputusan tepat walau agak terlambat. Tapi jauh lebih baik daripada mesti menanggung kebobolan yang lebih banyak.

Terbukti, pengalaman Moutinho dapat membimbing anak-anak muda Monaco untuk tidak lagi kebobolan dan mempertontonkan kerjasama tim yang apik. Sayang, Juventus sudah bertahan di garis pertahanan yang dalam khas Italia sehingga beberapa peluang yang tercipta tak mampu dikonversi menjadi gol untuk memperkecil dan menyamakan skor.

Strategy permainan non teknis Juventus harus diakui berhasil mengunci ambisi Monaco merajut mimpi menembus final untuk kedua kalinya. Setidaknya, leg pertama menjadi milik Juventus seutuhnya dan meringankan langkah Juventus.

2. Permainan Teknis

Setelah berhasil mengacaukan sistem permainan AS Monaco 'dari dalam' melalui permainan non teknis, Allegri sadar bahwa permainan powerfull Monaco mesti diredam dengan tidak ikut larut dalam permainan tempo tinggi. Juventus pun memainkan tempo sesuai yang diinginkan Si Nyonya Tua dan berusaha meredam dengan memainkan ball position dalam tempo yang sedang-sedang saja sambil melihat celah.

Penempatan Dybala sebagai pemain yang bebas adalah taktik cerdas Allegri saat mengusung 3-5-2 dinamis yang berubah menjadi 4-5-1 kala ditekan. Dybala menjadi target umpan sekaligus tembok yang berfungsi membagi bola ke ruang kosong yang ditinggalkan pemain Monaco. Dengan kemampuan dribble diatas rata-rata disertai kemampuan menjaga bola yang apik, pergerakan Dybala menjadi semacam password untuk membuka pertahanan Monaco.

Hal lain yang menjadi catatan adalah pemanfaatan lebar lapangan dalam pola 3-5-2 yang sukses diperagakan dua bak sayap Juventus. Baik Alves maupun Alex Sandro pantas diacungi jempol untuk akselerasinya yang berlari cepat dari blind side membongkar sisi lebar lapangan.

Singkatnya, skema yang diterapkan oleh Allegri sukses diperagakan oleh pemain Juventus dan sangat tepat. Tapi yang paling fenomenal dan revolusioner tentu saja perubahan peran Mandzukic oleh Allegri dari seorang striker menjadi gelandang box to box sukses menghalau sisi lebar lapangan.

Kedewasaan cara bermain Juventus dengan pola yang sudah fasih diperagakan nyaris sepanjang musim membuat Juventus terlihat sangat tangguh sebagai sebuah sistem untuk ditandingi oleh AS Monaco.

Untuk laga leg kedua, bila Monaco tidak bisa memaksa Juventus untuk bermain dengan tempo tinggi disertai pressing ketat serta cenderung mengikuti tempo si Nyonya Tua, maka sulit bagi Monaco melenggang ke final namun agadium bola bundar tetap berlaku. Karena itu, Juventus mesti tetap hati-hati.
posted from Bloggeroid

Sabtu, 06 Mei 2017

Fantastis Ronaldo


Siapa tak kenal Cristiano Ronaldo? Kebangetan kalau tak mengenalnya. Siapa pun pasti mengenalnya berkat keahliannya memainkan si kulit bundar. Bahkan boleh dikatakan Cristiano Ronaldo adalah pemain sepakbola terbaik di dunia saat ini.

Hal ini bisa dilihat dari sederet prestasi dan rekor yang telah dibukukan atas namanya.
Saya kira tak ada yang membantah bahwa Cristiano Ronaldo merupakan ikon sepakbola saat ini dan menjadi inspirasi bagi anak-anak di belahan dunia untuk menjadi seorang pesepakbola profesional.

Yang terbaru dari aksi CR7 adalah ketika membukukan hattrick dalam laga hot derby pada semifinal leg pertama Champions League sekaligus mempertajam rekornya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa pada kompetisi paling elit se-Eropa.

Aksi terbaru Ronaldo tersebut sekaligus memberikan bukti bahwa pemain Portugal tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar untuk tim yang dibelanya. Ya...Ronaldo menjadi faktor pembeda pada laga Real Madrid vs Atletico Madrid.

Tanpa mengkerdilkan peran komponen El Real lainnya, sosok kapten Timnas Portugal ini komplit sebagai seorang predator paling mematikan dalam kotak penalti lawan saat ini.

Punya kemampuan dribble aduhai, body yang ideal, dingin dalam penyelesaian akhir, naluri gol yang tinggi, visi bermain yang bagus, keakuratan, serta penempatan posisi yang ciamik membuat Ronaldo sangat 'menakutkan'. Apalagi dibekali dengan kepala dan kedua kakinya yang ibarat senjata pembunuh mematikan.

Selain faktor Ronaldo yang memang fantastis, kemenangan El Real atas rival se-Kotanya juga disebabkan oleh kepanikan Simeone dalam meracik strategi. Pergantian dini Gameiro dengan Torres justru memberikan angin segar bagi Madrid untuk semakin leluasa memberikan tekanan karena tekanan Atletico justru menurun.

Apalagi dalam laga itu, duo full back Atletico terkesan ragu-ragu untuk naik membantu serangan dari sisi lapangan. Instruksi untuk memanfaatkan bola daerah gagal terjadi karena El Real tak lagi memainkan garis pertahanan tinggi seperti perjumpaan pada laga kedua tim sebelumnya di La Liga. Alhasil lini tengah Atletico tampak kehilangan akal untuk membuka pertahanan El Real yang bermain dalam di garis pertahanan sendiri.

Peran duo Madrid Kross dan Modric disokong Casemiro yang bermain taktis di lini tengah juga menjadi kunci kemenangan Madrid selain pergantian pemain yang tepat oleh Zidane yang mesti diacungi jempol dan tentu saja faktor Cristiano Ronaldo yang memang terlahir sebagai Mega Bintang.

Ronaldo fantastis merupakan faktor pembeda kemenangan Madrid. Laga pada leg kedua nanti pun faktor Ronaldo akan menjadi pembeda dan menjadikan laga fantastis karena dirinya.

Saya cuma bisa bilang Ronaldo Fantastis, El Real Berhasil Manis!!

posted from Bloggeroid

Jumat, 05 Mei 2017

Beda Pengamat dan Ahli Nujum

Salam olahraga!
Gimana? Masih letih karena begadang? Semoga sudah pada segar karena tim kesayangannya menang. Buat yang kalah gak usah berkecil hati. Masih ada leg kedua.

Selepas dua laga semifinal leg pertama dipentaskan untuk kemenangan Real Madrid dan Juventus, banyak yang bilang ke saya kalo saya payah, salah semua. Sudah baca khan tulisan saya sebelumnya yang berjudul Antara Atletico atau Monaco?

Saya hanya bisa bilang benar adanya bahwa saya salah dalam membuat prediksi setidaknya sudah 50% salah. Kenapa 50%? karena masih ada 50% yang menentukan kesalahan saya menjadi 100% pada laga leg kedua.

Kalau pun nanti saya salah 100% gak masalah menurut saya. Bukannya mau membela diri tapi kesalahan prediksi itu sah-sah saja justru itu menunjukkan bahwa saya telah berlaku sebagai pengamat yang baik. Koq bisa?

Justru itu yang membedakan saya sebagai pengamat dengan ahli nujum. Kalau ahli nurun dia meramal dan ramalan tersebut mestinya mendekati kebenaran karena ada kekuatan supranatural yang melatarbelakanginya tanpa perlu menganalisa. Sedangkan saya bukan ahli nujum dengan kemampuan supranatural tapi saya melakukan pendekatan dengan mengamati dan menganalisa layaknya seorang pengamat.

Harap diingat pula bahwa ramalan dengan alat canggih sekali pun seperti ramalan cuaca kadang meleset apalagi sebuah prediksi yang sangat subjektif menurut pengamatan saya. Itulah sebabnya kenapa tak ada satu pun pengamat di muka bumi ini yang 100% akurat memberikan prediksi. Sejarah mencatat hanya si gurita ajaib di Piala Dunia 2010 yang mampu melakukannya dengan mengamati bendera.

Kenapa? Karena sepakbola itu dinamis. Itulah sebabnya ada misteri dan karena misteri tersebut sepakbola hingga hari ini tetap menjadi candu paling hebat dalam dunia olahraga.

Jadi, pointnya kalau sudah tahu beda antara pengamat dan ahli nujum, saya mau katakan pada anda agar tidak takut membuat prediksi pada bidang yang anda amati. Disitu kemampuan analisa anda akan semakin diperuncing dan dengan sendirinya akan terlatih untuk melihat sisi yang berbeda dari yang dilihat oleh orang kebanyakan. Kenapa berbeda? Karena ketika anda membuat prediksi dan mempublikasikannya sekali pun hanya di lingkungan sekitar anda, disitu anda harus punya alasan dari sisi yang tersembunyi tersebut. Sehingga kemampuan menggali lebih dalam akan muncul dari hasil pengamatan anda.

So, sekali lagi saya belum sepenuhnya salah 100%. Bisa jadi dari kesalahan 50% malah menjadi kebenaran 100% apalagi dalam sepakbola yang begitu dinamis. Siapa tahu? Anda dan saya sepakat bahwa kita bukan ahli nujum khan?

Well, akhirnya saya mau sampaikan terima kasih atas perhatian teman-teman yang rela membaca tulisan di blog ini.

posted from Bloggeroid