Selamat Datang By JoeFrigerio

Menu

Animated Buttons - "Pressed Effect"

...

Slideshow

Automatic Slideshow

Change image every 3 seconds:

1 / 3
Bahagia Itu Sederhana
2 / 3
Beriman Itu Sederhana
3 / 3
Hidup Penuh Syukur

Tampilkan postingan dengan label Asal Bunyi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Bunyi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2020

Tuhan Sedang Membuat Garis Batas

"Tuhan sedang membuat garis batas." 

Ya....ulah manusia terlampau mengkhawatirkan dan Tuhan sedang membuat garis batas agar manusia menyadari bahwa Tuhan sungguh Maha Besar dan manusia sangatlah kecil dihadapan-Nya.

Tuhan sedang membuat garis batas agar manusia menyadari bahwa akal budi dan kehendak bebas yang diberikan Tuhan bukan berarti  sebebas-bebasnya mengeksplorasi kehidupan bahkan melampaui kodrati.

Tuhan sedang membuat garis batas yang tegas agar manusia menyadari bahwa kewenangan yang diberikan Tuhan untuk menjaga alam semesta disalahgunakan oleh manusia yang terlampau liar. Kiranya manusia menyadari bahwa alam semesta sedang tidak berkenan dengan cara manusia berinteraksi dengannya termasuk dengan -Nya.

Tuhan sedang membuat garis batas agar manusia dengan segala kepongahannya mampu merendahkan diri dihadapan Tuhan dan kembali membangun relasi secara pribadi dengan Tuhan untuk mengakui segala salah dan dosa yang selama ini dilakukan.

Tuhan sedang membuat garis batas agar manusia menyadari bahwa ada sistem semesta raya sangatlah komplex dan tanpa batas. Itu tidak bisa dibatasi oleh cara dan sistem manusia atau tidak bisa dilampaui seenaknya oleh manusia yang sangat terbatas.

Tuhan sedang membuat garis batas untuk tidak hanya memperingatkan manusia tetapi juga sekaligus menyelamatkan kehidupan semesta termasuk manusia dengan cara-Nya.  Bersyukurlah untuk hal tersebut karena Tuhan Maha Baik.


Tuhan sedang membuat garis batas dengan kasih sayang-Nya. Percayalah! Dengan garis batas ini, semesta raya sedang dipulihkan dari ulah manusia yang sedang dibatasi dan sangat terbatas.

Biarlah yang terjadi atas kehendak-Nya.

Syalom Aleichem,
💓

Rabu, 01 April 2020

WFH Tes Case Birokrasi

Work From Home (WFH) merupakan salah satu istilah yang belakangan keren sebagai salah satu bentuk rekayasa sosial demi mencegah penyebaran virus covid-19 di Indonesia. Tahap pertama sudah berlangsung sampai tanggal 31 Maret 2020 dan diperpanjang dua pekan lagi hingga tanggal 21 April 2020 mendatang.

Tentang WFH ini, seorang teman kantor di sebelah meja kerja saya bilang begini," ini sekalian sebagai test case bagi Kementerian/Lembaga/Dinas/Instansi (K/L/D/I)."

"Tepat sekali," jawab saya.

Bukankah Smart Office merupakan rencana negara ini agar ASN bisa bekerja flexi job, flexi schedule, semua serba flexy, dan remote working. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas sejak tahun lalu melakukan kajian sistem penilaian ASN/PNS bekerja dari rumah. 

"Orang bilang work vacation. 3 bulan di Raja Ampat, 3 bulan di Bali, 3 bulan di Tana Toraja, sepanjang mereka bisa deliver," ujar Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa berharap penerapan kebijakan tersebut bisa ditetapkan segera.

Presiden Jokowi memang menginginkan birokrasi pemerintahan di periode kedua pemerintahannya bisa lebih ramping dan efisien, agar efektif dalam melayani seluruh kebutuhan masyarakat. Presiden menginginkan birokrasi kelas dunia di waktu mendatang.

Jadi, kembali ke rencana negara dan 'test case'. Dari 'test case' ini sebenarnya mudah bagi Bapenas atau Menpan RB sekaligus masyarakat menilai K/L/D/I mana saja yang sebenarnya sudah siap atau sudah mempersiapkan diri selama ini.

Indikatornya jelas, bila ada K/L/D/I yang sudah diminta Work From Home namun ASN atau pegawainya masih terlihat mondar-mandir ke Kantor menunjukkan bahwa K/L/D/I tersebut sebenarnya harus diakui memang belum siap dan selama ini tidak mempersiapkan diri sesuai visi Presiden. Entah itu karena sistemnya, entah itu SDM aparaturnya, dan lain sebagainya. Yang pasti tidak siap karena tidak menyiapkan diri menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Buntutnya, kala dibutuhkan untuk menjadi contoh/teladan melakukan rekayasa sosial di tengah upaya negara melawan penyebaran covid-19 dengan tetap di rumah tidak bisa dilakukan.

Pemandangan dua pekan awal WFH yang diberlakukan. Selain kita bisa melihat dan 'menguliti' sistem kerja yang dibangun selama ini, kita juga bisa merefleksikan seberapa penting tugas dan fungsi serta pelayanan kita dihadapan masyarakat selama ini. Sudah benarkah apa yang kita lakukan selama ini dan mengklaim sebagai melayani kebutuhan masyarakat? Atau kita sebenarnya tidak penting-penting sekali tapi bikin diri penting? Sehingga sampai pada situasi seperti saat ini, kita  kesulitan membuat skala prioritas terkait penting dan kepentingan yang menjadi semakin kabur.

Agar tidak menjadi takabur. Kiranya pasca pandemi virus covid-19, semua kita menyadari dan berikhtiar bersama untuk melakukan perubahan dan pembenahan. Inilah momen tepat untuk melihat kembali dan mulai merancang, menyiapkan, dan membangun sistem kerja yang menyesuaikan dengan perkembangan terkini yang bergerak ke birokrasi teknologi 5.0. 

Ini adalah momen tepat untuk berbenah. Perubahan merupakan cara terbaik sebelum kita digilas olehnya.Untuk itu, kita mesti berada dalam gerbong yang sama melesat bersama.

Semoga.😷


Senin, 16 April 2018

Satu Fakta Semifinalis Champions League 2017/2018

Babak Perempat Final Champions League 2017/2018 usai digelar. Kini menyisahkan empat tim  yakni Real Madrid, Bayern Munchen, Liverpool, dan AS Roma.  Drama yang tersaji sepanjang perhelatan digelar mesti kita tinggalkan sejenak untuk menyaksikan ending  dari kisah musim ini. Tentu saja sambil berharap ada drama memacu adrenalin kembali tersaji di babak puncak. Namun sebelum menyaksikan ending dari kisah musim ini. Mari kita simak beberapa fakta terkait keempat tim yang berhasil lolos babak semifinal.





1. Hanya Satu Penguasa Liga

Dari empat tim yang berhasil lolos hingga babak semifinal hanya ada satu tim yang menjadi penguasa liga yakni Bayern Munchen, tiga tim lainnya sampai laga perempat final usai tidak berpeluang juara liga domestic. Madrid di urutan empat La Liga, AS Roma pun serupa di Lega Calcio, dan Liverpool berada di urutan ketiga Premiere League. Apakah ini menjadi pertanda untuk Bayern Munchen meraih kuping lebar untuk yang keenam kalinya?

2. Hanya Satu Kostum Kebesaran Putih

Dari empat tim yang akan berlaga di semifinal, tiga tim memiliki warna kebesaran yang sama yakni merah. Liverpool, AS Roma, dan Bayern Munchen. Hanya Real Madrid yang berbeda karena memiliki kostum kebesaran berwarna putih. Hattrick Si Putih? Who knows?

3. Hanya Satu Tim Sempurna

Liverpool adalah satu-satunya tim yang meraih hasil sempurna saat menyelesaikan laga perempat final. Laga kandang maupun tandang diraih dengan kemenangan atas Manchester City. Sedangkan Bayern Munchen menang tandang dan seri di kandang saat meladeni perlawanan Sevila. Kebalikannya pada diri Roma dan Madrid yang mana Roma menang kandang, kalah tandang, Madrid justru menang tandang, kalah tandang. Kesempurnaan Liverpool juga diikuti dengan agresifitas gol yang aduhai. Indikasi ke Liverpoolkah gelar musim ini?

4. Hanya Satu Tim Tanpa Gelar

Dari keempat kontestan yang akan berlaga pada babak semifinal hanya AS Roma yang belum tersemat gelar Champions League, tercatat cuma sekali merasakan atmosfer final. Tiga tim lainnya sudah sangat akrab dengan gelar. Mampukah Roma menyingkirkan para juara dengan parade juara di Kota Roma?

5. Hanya Satu Tim Melalui Hasil Seri

Bayern Muenchen menjadi satu-satunya tim yang melewati Babak Perempatfinal dengan hasil seri. Bayern Muenchen juga menjadi satu-satunya tim yang melalui hasil melalui skor kacamata. Tiga tim semifinalis lainnya melalui Babak Perempatfinal dengan kemenangan dan kekalahan.

Satu per satu fakta telah dibeberkan dan boleh jadi menjadi petunjuk untuk satu tim yang pantas meraih gelar bergengsi Eropa musim ini. Boleh jadi masih ada fakta-fakta yang tercecer yang belum ditambahkan. Satu yang pasti, menjadi nomor satu mesti memiliki kualitas mumpuni secara fisik dan mental sebagai sebuah fakta yang tak terbantahkan.

Selamat menyaksikan kelanjutan drama perebutan gelar paling bergengsi seantero benua biru. Gimana sudah menemukan petunjuk tentang siapa yang menjadi nomor satu?




Rabu, 21 Maret 2018

Senyum, senyum, senyumlah



"Tersenyumlah sebelum senyuman itu dilarang"

Sudahkah anda tersenyum hari ini?
Apa jadinya hidup tanpa senyuman? Untuk membayangkannya saja imajinasi terliar saya tak mampu menghadirkan, apalagi mengalami dan menjalaninya.
Hidup tanpa senyum bagi saya adalah hal yang sungguh menyakitkan dan menyiksa.  Dunia terasa hambar serta datar karena berisi wajah-wajah kaku nan bengis. Kita pun terlihat seperti robot jahat yang tak memiliki perasaan.  Singkatnya, hidup tanpa senyum membuat hidup tak berwarna dan jauh dari aura kedamaian. Apalagi bicara ketentraman serta kenyamanan.

Senyum itu ibarat gula untuk menambah kenikmatan seduhan kopi. Wajib tersenyum terhadap siapa pun orang yang kita temui akan memberikan aura positif di lingkungan sekitar. Bahkan bisa mengobati karena dalam senyuman terdapat keindahan nan memikat yang menghibur.
Sayangnya masih banyak orang yang kita temui enggan tersenyum pada sesama. Padahal jika saja ada senyuman boleh jadi senyuman itu mematikan bibit-bibit perselisihan yang bakal muncul karena pertemuan.

Smile and maybe tomorrow
(terseyum dan mungkin besok)
You'll find that life is still worthwhile
(kau kan temukan bahwa hidup masih berharga) sudah cukup menggambarkan betapa pentingnya senyum mewarnai hidup kita.

Lirik lagi Words milik grup legendaris Beegees yang dipopulerkan Boyzone tiba-tiba teringat seketika dan kudendangkan begitu saja, "Smile, an everlasting smile
A smile can bring you near to me."

Jumat, 28 Juli 2017

Nasihat Pernikahan

Sejujurnya membina rumah tangga dalam ikatan pernikahan suci tak mudah seperti yang dibayangkan. Banyak dari kita justru karam di tengah perjalanan membina rumah tangga.

Maklum, menikah berarti menggabungkan perbedaan antara dua orang manusia. Tidak hanya perbedaan fisik semata tapi lebih dari itu berbagai perbedaan seperti kebiasaan, selera, hingga karakter pribadi masing-masing.

Itu sebabnya, kadang dalam pernikahan kita sering menemui macam-macam alasan pasangan tidak mampu mempertahankan bahligai rumah tangganya. Semuanya bermuara pada satu hal yakni tidak mampu menjembatani atau berdamai dengan perbedaan. Hal kecil atau sepele pun bisa menjadi malapetaka hebat dan mengguncang hubungan pernikahan.

Demi mempertahankan pernikahan, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Kalau boleh saya ibaratkan dengan pengendara lalu lintas di jalan raya.

Ya...seperti halnya lalu lintas di jalan raya. Sering kita temui betapa begitu banyak kendaraan berseliweran dengan kecepatan yang berbeda-beda, karakter mengemudi yang berbeda, hingga tujuan perjalanan yang berbeda di satu jalanan yang sama. Namun ada hal menarik yakni tidak terjadi tabrakan setiap saat. Kenapa?

Pertama dan utama tentu karena pengguna jalan mengerti, memahami, dan mentaati rambu-rambu lalu lintas (aturan berlalu lintas). Nah, untuk urusan rumah tangga tentu kita ketahui bersama aturan utama yang mesti dipakai adalah aturan dari Tuhan melalui ajaran-ajaran agama, kemudian aturan negara, dan yang tak kalah penting adalah aturan sosial berupa adat istiadat. Karenanya, penting untuk pasangan menikah agar mengedepankan aturan. Inilah kunci pertama agar tidak terjadi "kecelakaan lalu lintas" dalam hubungan pernikahan. Bila aturan -aturan tersebut dipatuhi, niscaya perbedaan-perbedaan yang ada tidak menjadi batu sandungan yang bisa menyebabkan perpisahan dalam hubungan pernikahan.

Patuh pada aturan merupakan kondisi ideal namun tak semudah seperti yang dibayangkan. Itulah mengapa kita mendengar ungkapan 'para pemberontak',"aturan dibuat untuk dilanggar." Juga sejumlah pembenaran dalam ungkapan seperti tak ada gading yang tak retak hingga manusia tempatnya salah dan dosa.

Kondisi ideal paham aturan dan mematuhi aturan yang ada memang bukan perkara mudah. Karenanya, kondisi lalu lintas yang berjalan tanpa kecelakaan bukan karena kondisi ideal semua pengguna jalan mengikuti aturan tapi bagaimana para pengguna jalan mencoba mengalah demi keselamatan.

Demikian pula dalam pernikahan. Mengalah adalah pilihan terbaik dengan menumbuhkan sikap saling pengertian. Tanpa itu, seperti halnya berlalu lintas, 'tabrakan' dalam pernikahan berpotensi merusak mahligai kebahagiaan yang coba dibangun.

Kondisi saling pengertian mesti dimiliki oleh para pengguna jalan. Tanpa adanya saling pengertian dari para pengendara mustahil tidak terjadi kecelakaan lalu lintas sekalipun aturan berlalu lintas sudah jelas. Saling pengertian antar pengendara di jalan raya memungkinkan sistem lalu lintas di jalan raya bisa berlangsung tanpa terjadinya tabrakan atau senggolan beruntun yang berakibat fatal. Demikian pula seharusnya pernikahan itu dibangun dengan saling pengertian antar pribadi yang satu dengan lainnya.

Selain itu, berkonsentrasilah. Saat anda mengendarai kendaraan anda wajib berkonsentrasi agar lebih sigap dan dapat menghindari atau meminimalisir keadaan tabrakan dan kecelakaan. Begitu juga dengan menikah tentunya. Pastikan bahwa menikah bukan sekedar rutinitas belaka atau hanya meneruskan tradisi yang sudah berlaku umum. Berkonsentrasilah terhadap hubungan pernikahan anda agar dapat mencapai tujuan dari pernikahan yakni membentuk keluarga yang bahagia.

posted from Bloggeroid

Senin, 05 Juni 2017

Sumber Air yang Kotor

Suatu waktu, seorang anak tampak sibuk didalam kamar mandi. Sang Ayah yang melihat anaknya kemudian datang menghampiri dan menanyakan pada anaknya,
"Nak, apa yang sedang kau kerjakan?"
"Aku sedang memperbaiki keran air ini yah," jawab anaknya.
"Memangnya kenapa dengan keran air itu nak?" kejar sang ayah.
"Keran air ini sudah lama dan karatan yah. Ini mungkin jadi penyebab kenapa air di bak menjadi kotor," jawab anak tersebut sambil terus berupaya mengganti keran.
Sang ayah lantas berlalu dari si anak.

Kira-kira satu jam kemudian sang ayah kembali menghampiri anaknya yang masih tampak sibuk dalam kamar mandinya.

"Apa yang sedang kau lakukan nak?"
"Aku sedang mengganti pipa yang mengaliri air yah."
"Memangnya kenapa dengan pipa-pipa tersebut?" tanya sang ayah.
"Ini mungkin penyebab air yang kotor,"jawab si anak.
"Baiklah kalau begitu," ujar sang Ayah.

Matahari mulai tampak di ufuk barat tanda hari sudah mulai petang. Si anak tampak kelelahan dengan pakaian yang basah kuyup.
Sang ayah pun kembali bertanya kepada anaknya,"bagaimana pekerjaanmu nak?"

"Ayah. Saya sudah putus asa. Saya sudah mengganti keran, sudah pula mengganti pipa, dan sudah pula mengganti pompa air. Semua kuganti dengan yang baru dan bersih namun tetap saja air yang masuk ke bak mandi kita tetap kotor," jelas si anak dengan wajah yang tampak kelelahan dan berharap mendapatkan jawaban dari sang ayah berupa jalan keluar.

Sang ayah cuma berbisik pelan,"nak, itu berarti sumber airnya memang kotor. Karena itu, pasanglah penyaring agar bisa menghambat kotoran dan menyisahkan air yang bersih."

Tapi nak, lanjut sang ayah, itu hanya penanganan sementara. Karena bila sumber airnya sudah kotor, maka jalan satu-satunya adalah dengan mencari sumber air yang lain yang sekiranya bersih dan tidak menimbulkan bau busuk.

"Tapi yah...sulit untukku menemukan sumber air baru yang bersih," keluh sang anak.

"Nak, sumber air bersih banyak dan mudah ditemui sebenarnya. Sepanjang engkau mau menggali dari titik yang benar dan itu bisa diperoleh dari kejernihan hati dan pikiranmu," jawab sang ayah meyakinkan anaknya.

Demikianlah yang tertulis dalam kitab kehidupan, jangan harapkan mendapatkan tanaman dan buah yang berkualitas jika engkau menanam bibit dengan kualitas buruk. Kita semua sepakat air sumber kehidupan karenanya air sebagai sumber mestilah bersih agar kehidupan pun berjalan bersih tanpa adanya kotoran yang bisa merusak kehidupan.

Selasa, 25 April 2017

Race


Sudah pernah menyaksikan film Race? Sebaiknya anda sudah menyaksikannya. Kalau belum, berjanjilah bahwa anda akan menyaksikannya.

Film yang mengambil latar perlombaan Olimpiade 1936 di Berlin Jerman ini mengisahkan tentang atlit atletik Amerika yang bertanding di Olimpiade bernama Jesse Owen sebagai aktor utama.


Ada hal menarik dalam film yang disutradarai oleh Steven Hopkins tersebut yakni perlombaan sekelas Olimpiade musim panas yang mestinya berlangsung fair play justru dikotori oleh propaganda rasialis Nazi.

Jesse Owen, pemuda Africa Amerika dan dua rekan pelari dalam tim atletik Amerika berdarah Yahudi menjadi korban dan berujung konspirasi antar dua negara Jerman dan Amerika yang mencemari Hak Asasi Manusia.

Dalam film tersebut, tim pelatih Amerika bahkan mesti merubah susunan pelari dalam lomba lari estafet demi menyingkirkan dua pelari berdarah Yahudi dalam timnya yang memiliki potensi yang hebat. Tidak hanya sampai disitu, medali yang diperoleh oleh Owen atas upaya dan kerja kerasnya sesampainya di Amerika tidak diakui oleh Pemerintah Amerika atas kesepakatan politik rasialis dengan Jerman.

Kisah Jesse Owen di tahun 1936 dalam film tersebut rupanya tak lantas punah di tahun 2017. Di era dunia tak selebar daun kelor serta tingginya mobilitas manusia dari satu tempat ke tempat yang lain, masih sering kita lihat di sekitar kita bagaimana perlombaan hidup tidak berlangsung sebagaimana mestinya karena tembok kokoh penghalang bernama suku, agama, ras, warna kulit, dan asal usul masih menjadi kriteria demi menghalangi potensi-potensi terbaik muncul ke lintasan lomba.

Perlombaan hidup dalam berbagai bidang kehidupan pun dipenuhi konspirasi sehingga yang menjadi juara di lintasan lomba sebenarnya bukanlah yang terbaik dan tak pantas menjadi juara. Karena diluar lintasan lomba, sesungguhnya masih banyak potensi-potensi yang jauh lebih hebat dan pantas berlomba dalam lintasan namun terhalang oleh hal-hal lahiriah yang bukan merupakan keinginan sendiri tapi kodrat Ilahi.

Lebih menyedihkan lagi, kedekatan pribadi dan kepentingan juga menjadi unsur yang memiliki nilai tinggi dalam kriteria penilaian dan tanpa berdosa menepikan kriteria objektif berdasarkan kemampuan.

Alhasil, lomba kehidupan senantiasa tak menemukan garis finish dengan kualitas mengagumkan yang dapat dikenang tetapi sebaliknya. Kepura-puraan, munafik, tipu muslihat, saling menjatuhkan, fitnah, dan bermuka dua menjadi sikap yang tumbuh sebagai buah dari perlombaan hidup yang penuh manipulatif.

Kalau sudah begini, apa yang masih bisa diharapkan?seharusnya kita malu berbicara tentang peluang mencapai surga yang begitu mulia. Toh, menciptakan 'surga' yang penuh perdamaian, keadilan, keramahan, kesejahteraan lahir batin bagi sesama saja kita tak mampu. Bukankah sesama adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat dicintai-NYA?Bagaimana mungkin berbicara surga milik Tuhan bila merendahkan sesama yang merupakan ciptaan Tuhan paling mulia yang secitra dengan-NYA?

Lintasan perlombaan hidup telah disediakan Tuhan dengan membekali masing-masing kita talenta. Menggunakan talenta dengan berlomba secara fair play merupakan keniscayaan. Andai pun kita mengabaikannya dan mengedepankan kecurangan, boleh jadi kita menang dan juara dalam perlombaan hidup di dunia ini tapi tujuan hidup di dunia yakni akhirat belum tentu kita mampu mencapainya bahkan mungkin kita tidak diperkenankan mengikuti lomba.

Itulah sebabnya kenapa tidak ada satu pun dari kitab-kitab agama yang menuliskan tentang surga sudah penuh atau akan penuh.
Selamat berlomba!
posted from Bloggeroid

Jumat, 03 Maret 2017

Berterima kasihlah Kepada Rizieq

Sudah sepantasnya kita menyalami Habib Rizieq, pimpinan Front Pembela Islam dan menyampaikan terima kasih kepadanya.


"Koq bisa?Lu gila ya?" sambung teman saya yang sedang mengorek telinga dan tanpa sadar  sehabis bicara ia malah ngupil dengan cotton bud yang sama. Saking terkejut dan tidak terima dengan pernyataan tersebut.

Jadi begini!
Ucapan terima kasih kepada Habib Rizieq karena akibat beragam aksinya, beberapa hal yang sudah kita lupakan dan menganggap tidak penting diingatkan kembali untuk dilaksanakan.

Pertama; Habib Rizieq adalah orang yang secara terbuka mempertanyakan dan mempersoalkan hal yang paling sensitif di Republik ini yakni agama. Dengan begitu, kita pun kini secara terbuka mulai membahas agama dan menempatkan agama pada posisi yang semestinya. Positifnya, melalui aksi Habib ini kita dapat memetakan mana yang radikal dan fanatik berlebihan sekaligus memiliki potensi bahaya laten termasuk kita menjadi tahu dan dapat memetakan teman-teman dekat kita saat melihat sikap yang ditunjukkan.

Kedua; Menyadarkan kita bahwa kita adalah orang Indonesia yang beragama. Orang Indonesia yang beragama tentu meyakini agamanya dengan budaya Indonesia bukan sebaliknya.

Ketiga; Aksi Rizieq mendekatkan kita pada sang Ilahi. Umat beragama di Indonesia entah agama apapun disinyalir lebih tekun berdoa demi keselamatan bangsa.

Keempat; Rizieq telah mengingatkan kita tentang semboyan bangsa yang sudah ratusan tahun hidup bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka yakni Bhineka Tunggal Ika yaitu Berbeda-Beda Tetapi Satu sebagai kekuatan. Semangat Bhineka Tunggal Ika yang mulai redup sewajarnya kini kembali menyala di dada generasi penerus bangsa.

Kelima; Rizieq dengan aksi yang "gagah berani" telah mengingatkan kita bahwa hal terpenting yang tidak bisa dicampuradukan adalah politik dan agama. Mencampurdukan politik dan agama adalah sebuah kesalahan seperti mencampuradukan minyak dan air.

Keenam; Yang paling tak kalah penting adalah konsep ke-Indonesia-an yang digugat Rizieq membuat kita menyadari bahwa Pancasila adalah sebuah mahakarya hebat yang mesti terus dilestarikan demi kelestarian Indonesia dan untuk itu patut dibanggakan serta dipentaskan dalam derap hidup berkebangsaan dan bernegara.

Ini tentang sudut pandang. Bila kita percaya bahwa dibalik setiap peristiwa ada makna yang terkandung didalamnya, maka mestinya kita percaya bahwa Rizieq adalah tokoh yang dikirim untuk mempersatukan bukan memecah belah keutuhan.

So, tak ada salahnya kita berterima kasih kepada beliau sembari berharap beliau mengikuti dan mentaati proses hukum yang sedang dihadapi dengan jiwa besar,sebesar ketika beliau menyuarakan suara sumbang untuk negeri ini.

Salam demokrasi,
JoeFrigerio

Selasa, 28 Februari 2017

Lunturnya Tata Krama Dalam Sepakbola

Sepakbola harus diakui tidak lagi sekedar olahraga tetapi telah berkembang menjadi sebuah industri dengan tuntutan yang serba sempurna. Maklum, ada banyak putaran duit yang telah diinvestasikan.

Ketika putaran uang diutamakan maka syarat utama adalah keuntungan. Apapun dan bagaimana pun cara meraup keuntungan, asal jangan rugi, sepakbola pada posisi yang terjepit dan akan mengikuti pemilik alur uang.

Tembok-tembok kokoh industri rupanya telah melunturkan 'cat' tata krama yang menjadi warna terindah dalam menjaga kemurnian sepakbola.

Ke-sexy-an industri yang erat kaitannya dengan gelimangan uang membuat banyak pihak yang terlibat dalam olahraga yang paling digemari sejagad melupakan apa arti sebuah penghormatan dan penghargaan pada seseorang atas jasanya pada sepakbola. Hasil akhir senantiasa menjadi patokan tanpa mempertimbangkan romantisme proses manusiawi yang dibangun dengan susah payah.

Entah siapa yang memulai membangun tembok kokoh bernama industri pada sepakbola. Satu yang pasti tata krama yang mesti menjadi pembungkus dan dasar seketika lenyap tak berbekas demi 'kesempurnaan bisnis' yang berujung 'prestasi bisnis'.

Kasus Leicester City dan Opa Ranieri telah secara gamblang menjelaskan kepada kita betapa sulitnya menyingkirkan pengaruh industri pada tatanan nilai-nilai yang tumbuh dalam diri sepakbola.

Pemecatan secara tiba-tiba yang dilakukan manajemen Leicester City terhadap Ranieri merupakan potret buram yang mesti dijadikan pelajaran bagi siapa pun yang hidup di era industrialisasi seperti sekarang ini.

Bahkan manajer sekelas Mourinho langsung angkat bicara soal pemecatan tersebut dengan mengeluarkan  komentar yang cukup menohok  bahwa seharusnya King Power Stadium yang menjadi markas Leicester berganti nama menjadi Claudio Ranieri Stadium. Saking begitu besarnya jasa seorang pria Italia berjulukan Mr. Runner Up. Tapi apa yang ia peroleh dari itu semua selain uang??

Kisah bak negeri dongeng yang dijalani seorang Ranieri bersama Leicester musim lalu seketika direnggut paksa atas nama industri karena posisi klasemen yang tak elok. Kita pun ikut larut dalam jebakan atas nama profesionalisme yang dibungkus keuntungan finansial dalam jubah industri yang menyeramkan.

Tidak adanya payung hukum yang dapat dijadikan solusi untuk melestarikan tata krama dalam tubuh sepakbola di tengah gencarnya industi merupakan satu hal yang mesti diperjuangkan.

Karena ketika tata krama tidak lagi melekat dalam diri sepakbola. Ketakutan saya, di masa mendatang komoditas industri sepakbola bernama pemain dan pelatih tak ubahnya seperti kisah telenovela yang dapat diatur sesukanya sesuai selera kisah sang pemilik modal.

Alhasil, sebuah pertandingan sepakbola bukan lagi mempertontonkan keahlian mengolah si kulit bundar melainkan keahlian sang pemilik bisnis bersekongkol meraup keuntungan untuk menaikkan brand tertentu. Area teknis ibarat hanyalah sebuah menara sebagai simbol bahwa inilah sepakbola. Tidak lebih.

Pemilik modal besar misalnya A, B, dan C akan menguasai piala tertentu dan pemilik modal sedang dengan kejuaraan tertentu, hingga yang pas-pasan untuk kejuaraan tertentu pula. Persengkongkolan bisnis dalam sepakbola ini akan menjadikan sepakbola kehilangan gairah perjuangan, determinasi, dan yang paling penting adalah cinta yang tumbuh dan mekar dalam tubuh sepakbola itu sendiri.

Pada akhirnya, seorang pemain maupun pelatih yang berkecimpung dalam sepakbola kehilangan imajinasi natural sebagai magnet yang sexy dalam tubuh sepakbola karena telah tergerus oleh imajinasi liar sang pemilik modal.

Atas nama pecinta olahraga ini, saya berharap sepakbola tetap dengan jati dirinya dalam bungkusan tata krama yang hidup dan melekat dalam sebuah filosofi yang murni untuk kemajuan sepakbola bukan kemajuan bisnis sang pemilik modal.

Salam olahraga,
Joe Frigerio

Minggu, 19 Februari 2017

Tips Diet

Tulisan ini disuguhkan khusus bagi anda yang sedang bergulat menjalankan program diet dan kesulitan menahan napsu makan anda. Mungkin anda bisa mencoba cara sederhana yang dibagikan di bawah ini, siapa tahu berhasil program diet anda dapat berlangsung sesuai dengan yang anda harapkan.

Sederhana saja...tips diet ini. Pertama-tama anda mesti  menyiapkan buah pisang. Mungkin anda akan bertanya kenapa harus pisang dan untuk apa pisang?
  
Jadi begini...menurut hasil penelitian, mencium aroma pisang saja ketika lapar bisa menahan nafsu untuk makan berlebihan. Sebab aroma pisang dapat memanipulasi otak bahwa perut sudah kenyang.

Karenanya, bagi yang sedang menjalani program diet mungkin bisa dicoba trik ini yakni ketika lapar menghampiri segera mencium aroma pisang. 

Tentu saja syaratnya mesti membeli pisang untuk dicium aromanya. Bersyukurlah yang memiliki stok pisang di rumah sehingga ketika lapar langsung menghirup aromanya.

Ada banyak aroma pisang yang bisa dicium dari pisang ambon, pisang branga, pisang kulit mentah, pisang susu, dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan anda yang sedang melakukan program diet?? Sudah siapkah anda mencium aroma pisang?? Ingat dicium bukan dikulum apalagi sampai dikunyah dan ditelan.

Semoga info ini membantu anda sukses dalam menjalankan program diet anda.

Salam sehat,

Merk

Merk atau brand produk tertentu menjadi terdepan dan diburu masyarakat pada umumnya. Hal itu disebabkan karena selain memenuhi model/ gaya yang unik nan memikat juga tentu karena kualitas yang sudah terbukti memenuhi ekspektasi.

Tak heran, sekalipun harga mahal yang mesti dibayar. Merk/brand papan atas tetap menjadi favorit masyarakat. 

Pilihan sebagian besar masyarakat dan kepercayaan terhadap brand tertentu dapat dilihat dengan begitu besarnya minat pasar (publik) terhadap suatu brand/merk. Bahkan, demi menggunakan produk brand tertentu dan biar dikatakan memakai produk bermerk, banyak dari kita rela menggunakan brand tertentu yang Kw-an alias tidak asli karena harganya yang lebih terjangkau. Walau banyak juga yang rela merogoh kocek lebih dalam demi menggunakan sebuah brand/merk yang sudah teruji.

Dalam kaitan dengan PILKADA yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia hari ini, kita disuguhi banyak brand/merk sebagai pilihan. Ada yang sudah teruji kualitasnya, ada yang belum teruji, bahkan ada yang sama sekali baru dan belum dikenal publik.

Publik (baca : pemilih) tinggal menentukan pilihan. Mau menggunakan brand/merk yang mana. Bedanya, pemilihan brand/merk oleh publik dalam konteks PILKADA dilakukan secara gratis. Kalau pun berbayar mahal, itu lebih dikarenakan adanya pertentangan dari lingkungan sekitar, dsbnya yang berujung pada perselisihan dalam konteks relasi sosial. Itu pun biasanya hanya terjadi dalam waktu tertentu saja (biasanya saat menjelang pemilihan).

Sekali lagi, memilih gratis brand/merk dalam konteks PILKADA mesti dimanfaatkan dengan baik oleh kita (baca: pemilih). Ini tentang penampilan kita 5 tahun kedepan. 

Selamat memilih!! Beda merk itu biasa. Ini soal selera. Selera itu mesti dari diri sendiri bukan dipengaruhi orang lain. Selera orang lain ditempatkan kepada kita belum tentu cocok. Tapi kalo merk yang sudah teruji dan diakui publik ditempatkan pada siapa pun niscaya cocok. Kenapa?? Karena sampai ada pengakuan publik pada brand/merk tertentu telah melalui proses yang panjang.

Salam demokrasi,
#MenangKalahItuBiasa

Senin, 30 Januari 2017

AHOK Itu Mega Bintang

Petahana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok harus diakui sebagai seorang tokoh yang fenomenal. Kalau dalam sepakbola Ahok bisa disejajarkan dengan Mega Bintang sekelas Messi dan Ronaldo. Maaf bila mungkin anda tidak sepakat tapi saya memiliki bukti soal ini.

Pengen lihat buktinya?

1. Sejak kemunculan sosok Ahok, publik lantas dikagetkan dengan berbagai hal yang tampak mustahil namun ditangan Ahok justru menjadi keniscayaan. Dia membuat sebuah standar yang tinggi dan menarik perhatian banyak orang karena harapan akan kemenangan bukan lagi mimpi. Peningkatan level permainan jelas terlihat kala Ahok mendrible bola. Visioner dan kuat dalam memperagakan aksi individu yang mengundang decak kagum serta mampu mengubah jalannya laga adalah kelebihan seorang pemain berlabel mega bintang.

2. Memiliki nilai jual yang tinggi berbekal standar permainan yang diperagakan. Sosok Ahok seperti magnet yang mampu menarik tidak hanya perhatian tetapi juga energy bangsa ini untuk menyaksikan setiap aksinya karena aksi-aksi yang dipentaskan membuat banyak orang berdecak kagum sambil secara spontan bilang "wow" lantas merindukan aksi-aksi selanjutnya.

3. Sosok Ahok mampu menutup puluhan atau ratusan pilkada di seluruh Indonesia yang akan dilaksanakan secara bersama. Terbukti sosok yang satu ini seperti magnet sehingga dari Sabang sampai Merauke begitu berkonsentrasi pada sosok yang satu ini hingga membuat bara pilkada di daerah sendiri seperti padam karena disirami air dari aksi sang mega bintang. Tidak menarik lagi, hanya Ahok yang menarik disaksikan.

3. Ciri khas mega bintang selalu menjadi incaran untuk dilanggar dan dijegal dengan berbagai cara demi mengamankan gawang dari kebobolan. Sosok Ahok yang dilanggar dan dijegal semakin memperkuat sosok ini sebagai seorang mega bintang ibarat Messi atau Ronaldo yang harus menerima terjangan dan tekanan lebih. Kenapa? Karena cara bermain seorang mega bintang diatas rata-rata.

4. Yang paling fenomenal adalah mental bertandingnya yang yahud. Mental pemenang yang tak gentar serta pantang menyerah untuk mengejar sesuatu sebagai kebenaran dengan cara-cara elegan dan fair play. Mental seperti ini lazim kita lihat pada pemain-pemain dengan label mega bintang. Kalau dalam sepakbola kemenangan untuk pemuasan para suporter, maka ahok menunjukkan mental pemenang untuk memberikan trophy bagi rakyatnya.

5.KPU diuntungkan dengan tidak perlu membeli siaran pada stasiun TV karena sosok ini. Justru stasiun TV berlomba-lomba menyiarkannya secara gratis dalam debat Calon Gubernur DKI Jakarta. Kenapa?? Ya karena paparan poin diatas sekaligus menegaskan bahwa Ahok harus diakui sebagai seorang sosok fenomenal mega bintang dengan nilai jual yang fantastis.

Akh...kalau dalam sepakbola kelahiran mega bintang biasanya muncul setiap 10 sampai 20 tahun sekali. Semoga kemunculan Ahok mampu memantik dan melahirkan banyak mega bintang di negeri ini minimal cukup setahun satu sajalah. Pastilah negeri ini bakal bergelimang pujian dan kedigjayaan.

Setidaknya kemunculan mega bintang dalam sosok Ahok meninggalkan pesan kepada semua kita bahwa,"Bermainlah dengan standar tertinggi diatas lawan-lawanmu, niscaya kemenangan berada di pihakmu."

Salam Mega Bintang,

Darimu Itu Pasti Tulisan Ini Tercipta.

Rabu, 28 Desember 2016

Catatan Akhir Tahun 2016, Masih Ada Optimime

Berbagai peristiwa sosial politik yang mendera bangsa ini tiada henti dan dapat berujung disintegrasi bangsa membuat banyak pihak pesimis terhadap masa depan Indonesia. Walau tidak sedikit yang masih menyimpan api optimisme. Salah satunya adalah seorang sahabat saya.

Dalam sebuah diskusi kecil belum lama ini, teman saya dengan nada optimis mengibaratkan apa yang dialami oleh Indonesia dengan seorang anak manusia yang mesti mengalami tingkatan ujian sesuai level pendidikan yang ditempuh. Semakin tinggi level pendidikan, tentu ujian yang dihadapi semakin sulit.

Karenanya, teman saya berkeyakinan bila Indonesia dapat menyelesaikan soal ujian yang kini dihadapi, maka Indonesia akan memasuki pintu gerbang kegemilangan.

"Lihat saja makin banyak orang-orang baik dan hebat bermunculan penuh kesadaran untuk membenahi kerusakan yang ada. Ini sebuah indikasi bahwa Indonesia sedang bergerak di track yang benar," kata teman saya penuh keyakinan sembari menepikan kenyataan bahwa di saat bersamaan banyak juga orang-orang yang bermunculan dengan kualitas aduhai amoy untuk sebuah perubahan negatif.

Angin optimisme yang ditiupkan oleh teman saya tersebut sungguh membawa kesegaran di tengah gerahnya debu-debu pesimisme yang bertebaran.

Setidaknya, pemikiran positif adalah landasan kuat untuk sebuah keniscayaan. Dan ini yang mesti tertanam dalam setiap sanubari anak bangsa untuk bergerak bersama dengan semangat optimisme yang terus menyala. Energy ini penting untuk mendapat tempat dalam setiap element bangsa sehingga menjadi kekuatan bersama guna membawa Indonesia ke pintu gerbang penuh kegemilangan.

Masih ada nada optimisme yang tumbuh dalam setiap anak bangsa sungguh menjadi titik poin penting. Namun, tidak mudah untuk menumbuhkan hal tersebut. Apalagi kalau otak dan pemikiran anak bangsa disesaki dengan pemikiran-pemikiran negatif.

Di penghujung tahun 2016 ini, mari kita tumbuhkan dan nyalakan semangat optimisme untuk melihat masa depan yang cemerlang.
Patah semangat dan menyerah hanyalah awal dari kebinasaan sesugguhnya.

Selamat menyongsong Tahun Baru 2017 untuk Indonesia yang lebih baik. "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh".

Minggu, 20 November 2016

Mengejar Ketertinggalan

Untuk mengejar ketertinggalan tentu kita mesti meningkatkan kecepatan agar dapat menyusul. Tanpa kecepatan super, mustahil untuk menyusul ketertinggalan apalagi melampaui. Itu sudah hukumnya. Karena itu, ketika tertinggal biasanya kita disuruh bersegera dengan cepat agar bisa menyusul dan menyamakan langkah. Tapi kalau dalam perlombaan, biasanya kita tidak hanya diminta menyusul tapi mesti mendahului dengan kecepatan super tadi.

Hal tersebut disadari betul oleh Presiden Jokowi sehingga bergerak cepat dan memilih orang-orang yang mau bergerak cepat membantunya membawa kereta Indonesia melintas dengan cepat untuk menyusul kereta di depan bila perlu melampauinya.

Visi mengejar ketertinggalan ini kebetulan sejalan dengan Ahok yang juga bergerak super cepat dan memilih orang yang mau bergerak secepat dirinya agar dapat segera menyusul ketertinggalan. Juga banyak pemimpin lain yang menyadari bahwa perlu kecepatan super untuk bergerak cepat mengejar ketertinggalan. Tidak heran, komposisi orang-orang yang dipilih untuk menjalankan kereta merupakan orang-orang yang siap menjalankan kecepatan super tersebut, bila tidak maka tak terpakai.

Itulah sebabnya, kecepatan kedua orang ini diikuti oleh para pembantu mereka dalam hal ini para menteri juga para Kadis hingga struktur terbawa tentu akan memakan korban. Korbannya, siapa lagi kalau bukan orang-orang yang tak ingin satu gerbong dan tak mau bergerak dengan tempo yang sama. Apalagi bagi mereka yang setia dengan tempo lawas pelan mendayu-dayu. Sudah pasti mereka tertinggal dan dilupakan.

Di kala rata-rata orang Indonesia bergerak dengan kecepatan 60 Km/jam misalnya, kedua orang ini sudah memacu kecepatan 120 Km/jam bahkan lebih. Karena perbedaan kecepatan tersebut, orang-orang yang sudah terbiasa dalam gerbong dengan goncangan 60 km/jam akhirnya merasa tidak nyaman. Ada yang muntah-muntah, pusing, dan tidak enak badan bahkan terpeleset, terpental, dan terjatuh saking cepatnya. Ketidaknyamanan inilah yang akhirnya memicu gelombang protes untuk mengembalikan kepada kecepatan semula agar mereka kembali kedalam comfort zone-nya.

Sayangnya, hal ini tidak bisa diakomodir sang masinis karena bila diakomodir keinginan untuk kembali ke kecepatan semula, sama saja dengan tidak mengejar ketertinggalan tetapi justru akan semakin jauh tertinggal. Satu-satunya jalan keluar adalah tetap mempertahankan kecepatan atau bahkan menambah kecepatan sekaligus mengajak para penghuni gerbong untuk menyesuaikan diri ikut bergerak cepat agar nyaman dengan goncangan kecepatan gerbong yang baru sehingga kondisi muntah-muntah, kepala pusing, dan tidak enak badan segera lenyap lalu sudah bisa mulai menikmati kecepatan goncangan terkini sehingga tidak lagi terpeleset, tejatuh, ataupun terpental keluar gerbong.

Penyesuaian tentu bukanlah hal mudah, membutuhkan waktu. Namun butuh waktu bukan berarti memaksa masinis untuk menurunkan kecepatan. Karena itu, sama saja dengan tidak melatih tubuh untuk menyesuaikan diri dengan kecepatan terbaru.  Butuh waktu juga bukan berarti memaksa masinis untuk memberhentikan kereta di tengah jalan lantas mengganti masinis yang dapat diatur bergerak dengan kecepatan sesuai keinginan. Butuh waktu disini adalah melakukan penyesuaian dengan irama goncangan kecepatan gerbong secara perlahan-lahan sehingga tidak terpental dan terjatuh dari gerbong dan akhirnya tubuh pun tidak lagi muntah-muntah, pusing, serta tidak enak badan bahkan merasa bahwa perlu menambah kecepatan saking bugarnya tubuh karena sehat.

Pangkal masalah perbedaan kecepatan inilah yang menurut saya mengakibatkan banyak penumpang dalam gerbong terlihat melakukan berbagai hal konyol. Dan hal paling konyol yang terjadi adalah mempengaruhi penumpang lain dalam gerbong untuk menyalahkan kecepatan kereta, sementara di sisi lain berusaha mempengaruhi penumpang lain untuk mendukung sesama penumpang yang maju dan ingin menjadi masinis dengan menjual dan meniru kecepatan serupa bila menjadi masinis.

Akh…bicara kereta dan kecepatannya. Saking cepatnya, saya tiba-tiba jadi teringat lagunya Ello – Keretamu. Mending ambil gitar jreng…jreng…yuk kita nyanyi bareng ya…”kereta itu membawa hatiku…kereta itu membawa hidupku….perlahan senja menenggelamkan seluruh hidupku.”

Ups…nyanyinya pakai hati biar menghayati dan jangan terlalu lambat nyanyinya sesuaikan dengan tempo yang dimainkan agar terdengar merdu dan harmonis. Khan kasihan lagu yang bagus dinyanyikan dengan cara yang gak bagus. Tul gak??



   

Selasa, 15 November 2016

Surat Kepada Ketua Umum PSSI






Kepada
Yth. Ketua Umum PSSI
         Bapak Letjen TNI Edy Rahmayadi
Di Tempat

Salam Olahraga,
Saya adalah salah seorang anak bangsa dari jutaan anak bangsa yang senantiasa setia dan selalu mengikuti perkembangan sepakbola nasional. Apapun kondisinya, saya mungkin sedikit dari anak bangsa yang masih percaya dan berharap sepakbola Indonesia mampu bersaing di pentas dunia.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengucapkan selamat atas terpilihnya Bapak Edy sebagai Ketua Umum PSSI, Induk organisasi sepakbola Nasional dan berharap bapak bisa membawa amanah untuk memajukan sepakbola nasional. Harapan saya, setidaknya Bapak tercatat dalam sejarah sebagai Ketua Umum yang fenomenal dengan standar tinggi yang mampu menjadi peletak dasar sepakbola Indonesia yang bermutu sekaligus berprestasi sehingga seperti yang Bapak sampaikan pada saat wawancara dengan Kompas TV menjadikan PSSI bermartabat.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada Bapak terkait menjadikan sepakbola Indonesia bermartabat. Semoga Bapak berkenan menerima masukan ini dan mewujud nyatakan dalam aksi nyata.

1. Kejujuran

Sebagaimana cita-cita bapak untuk menjadikan PSSI Bermartabat. Saya kira hal terpenting yang mesti ada dan menjadi syarat utama dalam tubuh PSSI yang bermartabat adalah kejujuran. Ini sudah hukum alam. Siapa pun mustahil mencapai kesuksesan tanpa bekal kejujuran. Dalam kaitan dengan hal ini, saya berharap langkah pertama yang mesti Bapak lakukan adalah mengumumkan neraca atau laporan keuangan PSSI saat ini kepada publik secara transparan dan berkelanjutan. Dengan demikian, publik pun merasa memiliki PSSI dan ikut mengawasi jalannya roda organisasi pada treknya sekaligus sebagai stimulus kepada publik untuk bisa ikut ambil bagian dalam hal pendanaan atau mengisi celah bisnis yang saling menguntungkan. Mengingat, organisasi yang sehat manajemennya adalah organisasi yang sehat secara finansial, maka sudah saatnya PSSI mesti menjadi organisasi yang sehat. Kalau sehat fisik dan jiwa, larinya kencang pintar gocek....ya juara pak bayarannya. Heheheheee...

2. Ajak Seluruh Elemen Buat Blueprint.

Diawal kepemimpinan bapak ini, bagaimana kalau sebagai permulaan bapak merangkul semua elemen melalui Sidang Besar PSSI atau apalah namanya dengan tidak hanya mengundang para pegiat sepakbola, pemerintah, tapi juga mengundang pakar-pakar seperti pakar tulang, gigi, gizi, psikologi, sport science, dan elemen2 terkait yang sekiranya dapat membentuk sebuah blue print pembangunan sepakbola nasional dengan target jangka pendek, menengah, dan panjang yang terukur berupa prestasi tim nasional berbagai level usia.
Bentuk pengembangan melalui science dalam upaya mendapatkan formula yang pas dalam mengembangkan talenta-talenta muda Indonesia. Dalam cetak biru tersebut, mesti terperinci apa saja yang mesti dikonsumsi oleh anak-anak Indonesia yang tergabung dalam klub binaan termasuk pola latihan, hingga pemberian vitamin terhadap perkembangan tulang sekaligus pola makanan untuk mendapatkan gizi yang sanggup membuat seorang pemain memiliki ketahanan fisik yang dapat bermain dalam level tinggi selama minimal 90 menit atau 120 menitlah. Termasuk psikologi yang berkaitan dengan perkembangan mentalitas pemain.Blueprint ini mesti didasari sebuah proyek sains terhadap ciri fisik orang Indonesia dan bukan diambil copy paste dari luar. Mesti ada kajian mendalam demi mendapatkan sebuah formula dari sisi psikologi, gizi, tulang, dan sebagainya yang berkaitan dengan pengembangan seorang atlet sepakbola.Ini penting sehingga nanti dapat berkembang dalam pola main seperti apa yang paling pas dan menjadi ciri khas Timnas Indonesia berbagai kelompok umur. Blueprint ini kiranya dapat dipakai sebagai patokan wajib bagi setiap klub yang terdaftar dan bernaung dibawah PSSI agar ada standarisasi baku dalam tata kelola sepakbola nasional yang nantinya diharapkan dapat bermuara pada prestasi Timnas Indonesia.

3. Membangun Fasilitas Olahraga Yang Mumpuni

PSSI sudah saatnya mesti mulai berpikir untuk selain mendapatkan kue dari pemerintah dalam upaya membangun infrastruktur kekinian, juga mesti berani membuat proposal kerjasama bisnis yang saling menguntungkan untuk hal infrastruktur. Tahap awal, mungkin berupa perangkat kebugaran fisik bagi klub-klub peserta liga Indonesia. Ini tentu sangat membantu pengembangan sepakbola sesuai Blueprint yang telah dibuat. Kalau ini dapat dilakukan, saya yakin PSSI akan mendapatkan level pemain yang dapat diandalkan sehingga siapapun pelatih Timnas kelak hanya memainkan strategi ketika mempersiapkan Timnas. Apalagi bila misalnya, minimal masing-masing ibukota Provinsi memiliki Stadion serta lapangan latihan dan laboratorium yang memadai sesuai standar internasional. Wow...dahsyat!

4. Mengedepankan Taat Aturan

Taat pada aturan yang berlaku dan menindak tanpa pandang bulu adalah bentuk disiplin yang mesti hadir dalam tata kelola sepakbola nasional. Dengan demikian, tidak hanya pelatih dan pemain yang merasa nyaman dan aman, tetapi juga wasit serta suporter pun pada akhirnya mesti mematuhi berbagai aturan baku yang sudah ditetapkan. Jangan sampai ada tindakan pembiaran yang justru jauh dari unsur kejujuran dalam membangun sepakbola nasional. Hukum tanpa pandang bulu adalah wajib hukumnya. Hal ini juga tentu berkaitan dengan perlindungan terhadap para pelaku sepakbola dari perbuatan semena-mena yang merugikan mereka untuk bertindak profesional. Ketika ini sudah dilakukan, maka dapat dipastikan pelaksanaan kompetisi tentu akan semakin menarik dan memiliki daya saing. Terutama yang paling penting adalah kepercayaan dari publik. Niscaya, output yang dihasilkan pun berkualitas.

5. Membuat Standarisasi Pelatih dan Pemain Timnas

Sebuah Timnas yang kuat mesti diisi oleh individu-individu baik pelatih maupun pemain yang memang diakui memiliki level yang berbeda dari pelatih atau pemain pada umumnya. Walaupun (soal pemilihan pemain) tentu sangat berkaitan erat dengan selera pelatih sesuai strategi yang akan diterapkan nantinya. Namun, adalah hal penting untuk menetapkan standar kompetensi seorang pemain yang dapat berlaga mewakili Timnas Indonesia termasuk pelatih yang akan menjadi arsitek Timnas. Lantas, standar apa saja yang mesti dibuat?? Misalkan seorang pelatih Timnas selain memiliki track record prestasi sebelumnya juga memiliki lisensi A misalnya. Atau untuk pemain, selain membawa tim (klub) berprestasi atau prestasi individu yang dibuat, juga misalnya memiliki level fitnes atau VO2 Max yang telah ditentukan.  Ini juga salah satu cara untuk menghilangkan aroma subjektivitas serta intervensi pengurus kepada area teknikal pelatih. Ini juga meningkatkan daya saing kepada pemain maupun pelatih. Sehingga kelak pemilihan pelatih maupun pemain murni sesuai standar objektif yang dibuat bukan sekedar karena murah meriah, bisa diajak kerjasama, dari daerah sendiri, dsbnya. Kelak, setiap pemain maupun pelatih yang berlaga membawa Timnas Indonesia adalah pribadi-pribadi berkualitas mumpuni yang tentu akan berdampak pada peningkatan kualitas Timnas. Jangan sampai pelatih ataupun pemain dipilih berdasarkan faktor x dibelakang layar pak.

Demikian yang dapat saya sampaikan, kiranya Bapak dapat melaksanakan kelima butir curhatan ini dalam masa kepemimpinan Bapak. Bagaimana pak? Berat ya?? Memang berat pak menjadi ketua umum PSSI dan bukan hal mudah untuk mengurus olahraga yang paling digemari rakyat Indonesia.

Tapi saya percaya pak. Jika niat kita baik dan fokus untuk membenahi satu per satu sesuai lima poin diatas, Indonesia tidak hanya disegani di level Asia tapi bisa mendunia. Ini soal komitmen dan kerja keras yang dilandasi tekad kuat. Tidak ada yang mustahil selama kita berupaya maksimal. Lihat saja, Indonesia dan Jokowi. Jakarta dan Ahok, Bandung dan Kang Emil, Surabaya dan Ibu Risma, dan mungkin masih banyak lagi pemimpin kekinian yang membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil untuk sebuah perubahan kearah yang lebih baik.

Kenapa saya harus menulis ini??  Karena, menurut saya, inilah momentum kebangkitan Sepakbola Nasional mengikuti trend negara kita yang mulai bangkit dari keterpurukan. Sekali lagi, jutaan pecinta sepakbola nasional sedang menunggu gebrakan yang dibuat oleh Bapak Edy Rahmayadi.

Maaf pak!!  Surat yang saya tulis ini terlalu panjang, sepanjang penantian saya pada perubahan sepakbola nasional menuju kepada PSSI yang bermartabat dan gemilang prestasi.

Semoga surat ini bisa sampai sekaligus terbaca oleh Bapak dan bapak dapat menjawabnya dengan kerja nyata melaksanakan poin-poin yang disebutkan. Terima kasih sebelumnya.

Wasalam Olahraga,
Joe Frigerio



Rabu, 09 November 2016

Zebra, Serigala, dan Setan Mulai Berlari

Alkisah, ada sebuah perlombaan lari.  Dalam perlombaan tersebut, Zebra, Serigala, dan Setan mulai berlari meninggalkan kompetitor lainnya ketika memasuki 12 meter pertama dari 38 meter lintasan yang dilombakan. Ketiganya adu cepat. Zebra paling depan disusul Serigala dan Setan membuntuti di belakangnya.

Pertanyaannya, siapakah dari ketiganya yang menjuarai lomba?

Menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat susunan dalam lintasan lomba. Zebra disusul serigala kemudian setan. Ini seperti sebuah rantai makanan. Karena itu, mari kita bedah bersama murni menggunakan kacamata teori rantai makanan.

Secara teori rantai makanan, semakin pendek rantai makanan, semakin besar energy yang tersedia.

Pertama, Zebra. Bagian dari jaring-jaring makanan dari tiga rantai makanan. Kedua, Serigala. Sama seperti Zebra, bagian dari jaring-jaring makanan dari tiga rantai makanan. Ketiga, Setan. Bagian dari jaring-jaring makanan dari dua rantai makanan. Artinya, hipotesis yang dapat kita bangun, setan memiliki probabilitas terbesar sebagai pemenang lomba lari tersebut karena memiliki energy paling besar sebagaimana teori rantai makanan.

Artinya, Zebra mesti berlari kencang dan berharap serigala dan setan tergelincir sehingga jarak yang tercipta akan semakin lebar dan menyulitkan serigala maupun setan. Begitu pula, serigala ataupun setan berharap ada yang tergelincir sehingga jarak bisa dipangkas dan pada akhirnya bisa keluar sebagai pemenang dalam lintasan lomba lari.

Secara alamiah, dari ketiganya zebra merupakan produsen yang siap disantap oleh serigala dan serigala akan dirasuki roh-roh setan kemudian mati terkapar. Walau pun harus diakui, kecepatan berlari dengan memanfaatkan energy yang dimiliki akan sangat menentukan proses alamiah yang akan terjadi.

Pada akhirnya, mari kita buktikan teori rantai makanan ini. Hipotesis yang dibangun tentu berdasarkan probabilitas yang ada. Didukung dengan teori ambivelensi bahwa yang memiliki tingkat kecemasan paling tinggi dalam sebuah rantai makanan adalah yang paling lemah dalam sebuah rantai makanan. 

Bukankah yang terlemah dari ketiganya bila menggunakan teori rantai makanan adalah zebra disusul serigala, kemudian setan?? 

Saya melihatnya, potensi yang menentukan bila ketiganya memasuki etape 16  dan 17  lintasan lomba. Untuk itu, Energy ketiganya mesti benar-benar siap termasuk tentu saja kesiapan mental. 

Kalau demikian adanya, saya melihat potensi serigala dimasuki roh-roh setan membuat serigala akan kesetanan untuk menangkap zebra, mencakarnya, dan kemudian mencabik-cabik zebra sebelum mati terkapar karena telah dirasuki roh-roh setan sebelumnya.

Bila benar ini terjadi, ini bisa dikatakan sebagai sesuatu yang alamiah. Ya....murni menggunakan kacamata teori rantai makanan. 

Tulisan ini sungguh bukanlah sebuah pretensi. Hanya ingin mencoba sebuah teori yang sudah berlaku umum. Agadium Latin menyatakan “Ubi societas ibi justicia”, artinya di mana ada masyarakat dan kehidupan di sana ada hukum (keadilan). Teori rantai makanan tentu menjadi bagian dari ketetapan hukum alam, bukan?


 


Senin, 07 November 2016

Rumah Kita

Ibarat membangun rumah. Ada banyak element yang turut serta saling melengkapi untuk disebut sebagai sebuah rumah. Ada batu, pasir, semen, besi, kayu, bahkan keramik dan cat. (Itu kalau rumah yang lazim alias pada umumnya ya...). 

Ketika kayu atau besi yang sedikit terpakai tidak ada, bukan berarti lantas dikesampingkan begitu saja. Demikian pula, misalnya batu atau pasir karena paling banyak diperlukan dalam sebuah rumah lantas semena-mena dan mengatakan bahwa rumah hanya bisa terbangun karena kedua unsur tersebut. Harap diingat batu dan pasir mesti bercampur semen baru bisa terikat dan untuk sebuah rumah mesti diikat dengan anyaman besi agar kokoh berdiri.

Begitu pula ketika kita sepakat untuk bersatu untuk sebuah bangunan bangsa. Setiap element saling mengikat agar tampilan sebuah rumah tidak hanya terlihat indah secara estetika tetapi juga kokoh demi kenyamanan penghuni rumah tersebut.

Alangkah buruknya bila kita membangun rumah dengan mengabaikan satu saja element yang wajib hadir untuk bangunan seperti rumah. Akan terlihat mengganjal dan hampir dipastikan kekokohan serta kenyamanan penghuni rumah pun terganggu karena belum bisa disebut sebuah rumah.

Hal tersebut disadari betul oleh para founding father kita ketika bersepakat untuk membangun bangsa Indonesia. Bangsa yang multi ras, etnis, agama, dan budaya ini bersepakat untuk saling mengikat secara menyeluruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

Kesepakatan ini mestinya membuat rumah kita bernama Indonesia kokoh dan terlihat indah. Dengan begitu, setiap penghuni rumah merasa memiliki rumah tanpa ada diskriminasi karena di ruang tengah rumah tersebut,  anak-anak dari masing-masing kamar berkumpul untuk bersenda gurau tanpa sekat yang mengatasnamakan ruangan masing-masing tetapi sudah bersama menggunakan kesepakatan yang dibuat secara bersama sebagai aturan dari rumah tersebut.

Yang menjadi soal adalah ketika masing-masing anak dari kamarnya mencoba membawa aturan dalam kamar yang bersifat eksklusif untuk diterapkan di ruang tengah tempat semua anak dari semua kamar di rumah berkumpul. Akibatnya jelas, perasaan tercederai dan mematikan api kehangatan inklusif. Ketika ini terjadi, sulit rasanya kita duduk bercengkrama, ngopi bareng, dan menyusun kekuatan bersama sebagai penghuni rumah dalam merengkuh cita-cita menaklukkan dunia.

Kesibukan kita pada akhirnya hanya soal pertentangan serta perdebatan akibat mempersoalkan aturan umum yang sudah disepakati dengan aturan-aturan khusus kamar yang coba ditabrakan dengan aturan umum tersebut. Benturan-benturan dari sesama penghuni rumah pun tak terelakkan karena satu sama lain mulai mencurigai. Keinginan untuk menguasai pun muncul akibat merasa lebih benar dan mendominasi.

Ruang tengah yang seharusnya menjadi tempat seluruh penghuni rumah berkumpul semakin lama malah menghadirkan situasi yang tidak nyaman bagi siapapun. Dinding-dinding ruangan yang dulu memajang potret kebersamaan penuh cinta kini berganti dengan potret-potret aktifitas kamar beserta pribadi-pribadi yang lebih bersifat privat. Masing-masing lebih memilih buru-buru masuk dalam kamarnya masing-masing.

Alhasil, selain rumah kita tak terurus, halaman kita apalagi menjadi semakin tak terawat dengan baik, dan tanpa kita sadari para tetangga kita memiliki rumah yang semakin hari semakin terlihat cantik karena adanya perawatan. Bahkan, boleh jadi tanpa pernah kita sadari, tetangga kita sudah mencaplok sebagian halaman rumah kita disebabkan kita lebih sibuk berdebat sesama saudara satu rumah daripada saling membantu untuk membersihkan sekaligus merawat rumah kita dan menengok lingkungan sekitar kita.

Kita pun terkurung dalam sekat-sekat kamar untuk menyusun strategi bagaimana agar aturan kamar bisa berlaku sebagai aturan rumah dan ketika bertemu, saling menyapa di ruang tengah hanya basa-basi belaka dan menyimpan api dalam sekam akibat pertentangan yang kita buat sendiri.

Jika sudah begini, bisa dibayangkan seperti apa rumah kita jadinya. Selain tampak reot. Sebagaimana rumah yang tak dirawat, lambat laun rumah kita bisa roboh dan luluh lantak akibat ulah kita sendiri penghuni rumah.

Kini, saatnya masing - masing kita melihat rumah kita. Apa yang mesti dibenahi dan diperbaiki. Bukan sibuk membenahi dan memperbaiki kamar - kamar saja. Karena kalau bukan kita sendiri yang membenahi dan memperbaiki. Lantas, siapa yang mesti menjaga dan merawat rumah kita kalau bukan kita sendiri? Adalah kesia-siaan apabila kita menunggu rumah kita hingga nyaris roboh baru kita mulai memperhatikannya. Terlalu mahal harganya.












Jumat, 04 November 2016

Sungguh Nista

Nista. kata dasar ini memiliki makna hina, rendah, tidak enak didengar, aib, cela, dan noda. Sedangkan penistaan berarti cercaan, makian, perbuatan (perkataan dsbnya) untuk menista. Ini kesepakatan kita bersama dalam bahasa Indonesia dan tercantum dalam KBBI.

Kini, seperti yang kita ketahui bersama, Ahok dituduh telah menistakan agama dan karena itu Ahok mesti ditetapkan menjadi tersangka dan dipenjarakan. Begitu tuntutan yang keras terdengar. 

Well, baiklah kalau begitu. Jika memang terbukti silahkan diproses sesuai aturan yang berlaku. Tapi sebelum Ahok diproses hukum oleh negara dan ditetapkan sebagai tersangka dan dihukum penjara. Mungkin ada baiknya puluhan bahkan ratusan orang yang kini mendemo-nya mesti terlebih dahulu dipenjarakan juga oleh negara.

Koq bisa? Ya...karena jauh sebelum dituduh menistakan agama. Ahok, sebenarnya telah mengalami penistaan luar biasa. Dengan mengatakan jangan memilih pemimpin kafir (Ahok) bukankah sebenarnya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, hal ini sudah menistakan agama lain, dalam hal ini Kristen dengan penyebutan kafir??

Kalau kita sama-sama bersepakat dan mengakui bahwa negara ini adalah negara hukum serta setiap warga negara wajib mematuhi dan mentaati hukum, maka hal yang menyangkut penistaan terhadap agama mesti ditempatkan pada porsi dan kedudukan yang sama dihadapan negara, dalam hal ini di mata hukum. Sehingga semua warga negara berkedudukan sama di mata hukum. Dengan demikian, tidak ada yang kebal hukum dan negara pun tidak harus takluk dari seseorang atau sekelompok orang/golongan tertentu. Hukum mestinya tidak pandang bulu. Entah bulu panjang, pendek, keriting, ataupun lurus.

Ini yang mesti kita terangi sekaligus luruskan secara bersama tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Penting agar warga negara pun menjadi taat hukum dan tidak semena-mena terhadap negara. Penting untuk menjaga kewibawaan negara dan kehadiran negara mestinya menjamin adanya kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. 

Dengan demikian, diharapkan pemerintah negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial dengan berdasar kepada :Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab,Persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Kalau saja negara dapat melakukannya, niscaya warga negara akhirnya bisa hidup dengan aman, damai, harmonis, dan nyaman. Sayang, kesan pembiaran dan perlakuan yang berbeda membuat masyarakat Indonesia akhirnya lebih menghabiskan energy pada hal-hal yang justru merugikan kita sendiri sebagai suatu bangsa. Toh, energy kita sering tersedot pada hal - hal yang secara substansial tidak mencerminkan semangat kemerdekaan yang begitu gigih diperjuangkan oleh para pendahulu kita.

Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa selama 71  tahun kita hidup bersama tak menjamin kita semakin mesra dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Prihatin saja tidak cukup rasanya untuk menjelaskan kenapa kita masih terjebak dalam lubang yang sungguh nista. Pertanyaannya, sampai kapan kita terus begini??

Kamis, 03 November 2016

Cangkul

"Cangkul...cangkul...cangkul yang dalam
Cangkul yang dalam di kebun kita"

Masih ingat dengan lagu tersebut? Semoga anda masih mengingatnya. Jujur saja, kalau saya sebenarnya mendadak ingat karena sebuah berita yang menggelitik dan menghancurkan nalar berpikir saya.

Bagaimana tidak. Sebuah negara agraris bernama Indonesia rupanya mengimport cangkul dari China. Ini seperti seekor singa yang mengimpor taring kucing untuk menggigit mangsanya.

Tumpukan pertanyaan seketika sesakan benak saya. Apakah tak ada perusahaan di Indonesia yang mampu memproduksi cangkul? Atau karena ketiadaan SDM yang memiliki kemampuan membuat cangkul?apa mungkin cangkul buatan China sudah berteknologi mutakhir yang sekali cangkul langsung bisa bergerak sendiri mencakup 5 meter misalnya?sehingga memberikan efiensi tenaga dan waktu bagi para petani? Atau jangan-jangan karena ada keuntungan sepihak untuk pembuat kebijakan dari import cangkul?

Sungguh ini fakta menggelikan dan tak boleh dipandang sepele. Mesti ada pengusutan terhadap kebijakan ini.

Terus terang tak usah bicara pabrik. Banyak UKM Indonesia yang saya kira mampu membuat cangkul jika dipercayakan. Tinggal pesan sesuai spesifikasi dengan waktu yang dibutuhkan. Ini juga tentunya membuka lapangan kerja bagi rakyat Indonesia sehingga tidak mengeksport tenaga kerja keluar negeri sebagai "babu".

Pantas saja hasil pertanian menjadi mahal. Tidak heran, harga komoditas terus melambung. Cangkul di kebun kita tak ada karena masih menunggu kedatangan kapal yang membawa cangkul import. Benar-benar kisah menyedihkan.

Saya jadi ingin mencangkul lebih dalam. Jika cangkul saja diimport jangan-jangan pupuk, pestisida, bibit, bahkan mungkin kedepan petani pun ikutan diimport.

Arrrrgggghhhhh... bolehkah kami mencangkul otak tuan yang terhormat? Siapa tahu dengan begitu tuan yang terhormat bisa mengetahui bahwa cangkul lokal berkualitas internasional pun sebenarnya ada dan bisa dibuat di Indonesia.



Rabu, 02 November 2016

Lebaran Kuda

Istilah yang dipopulerkan oleh mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono mendadak menjadi pembicaraan publik di berbagai media social. Lantas, apa makna lebaran kuda?? Anda jangan mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia karena anda tidak akan menemukannya sampai lebaran kuda. Heheheheeeee…..
Istilah yang bermakna khiasan ini kurang lebih memiliki arti sampai kapan pun atau sesuatu yang mustahil terwujud sampai akhir dunia.

Pertanyaannya, bagaimana bila istilah yang sama diucapkan oleh Ahok, sang fenomenal tersebut?? Teman saya yang sedang menyeruput kopi disamping saya langsung tersedak dan buru – buru mengatakan bahwa kemungkinan besar akan berubah makna. ”Ya….bisa jadi ketika diucapkan oleh sosok Ahok, istilah ini akan mengalami distorsi dari konteks bahasa,” saya mengamini sembari membayangkan apa yang akan terjadi.

Ini tentu sangat berbahaya, bila berbahasa saja kita sudah dikotak-kotakan. Kenyataan ini sesungguhnya tanpa pernah kita sadari, telah  menampar dan melecehkan kaidah bahasa Indonesia terutama para pemuda yang penuh semangat mengangkat sumpah pemuda untuk berbahasa satu bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan kesatuan.

Ketakutan saya, generasi anak – anak saya nantinya mengalami ketakutan berbahasa Indonesia karena memiliki potensi perubahan makna tergantung siapa yang bicara, siapa yang menilai, dan menggunakan kriteria seperti apa. Ini tentu sangat naïf dan merusak tatanan baku bahasa Indonesia sekaligus membuat perbedaan yang sangat berpotensi mengingkari bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan lebih jauh mengingkari satu tanah air dan satu bangsa sebagaimana sumpah pemuda di tahun 1928 silam.

Pemilihan diksi bila sangat tergantung siapa yang memilih dan menggunakannya apalagi berkaitan dengan SARA, maka sampai lebaran kuda pun kopi Bajawa yang begitu nikmat akan terasa hambar untuk saya dan teman saya cicipi. Kenapa? Karena kami telah kehilangan makna berbahasa dan akhirnya memilih bungkam tanpa sanggup berkata-kata.

Maaf !! Sudah seharusnya kita mulai meninggalkan permainan binatang bernama SARA apalagi sampai pada tataran konteks berbahasa. Ini sudah diluar kaidah dan kesepakatan kita bila masih memiliki keinginan untuk bersama-sama masuk dalam gerbang Indonesia Hebat.


Please….jangan membuat berbahasa pun menjadi rumit hanya karena kepentingan – kepentingan yang merusak, karena hidup kita sebenarnya sudah rumit. Bahasa itu bagian dari seni dan budaya yang mempersatukan. Kalau ada perbedaan makna maka hampir dapat dipastikan sebenarnya kita sendiri telah kehilangan makna untuk berbahasa.