Selamat Datang By JoeFrigerio

Menu

Animated Buttons - "Pressed Effect"

...

Slideshow

Automatic Slideshow

Change image every 3 seconds:

1 / 3
Bahagia Itu Sederhana
2 / 3
Beriman Itu Sederhana
3 / 3
Hidup Penuh Syukur

Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Oktober 2016

Bungker Tua

Rerumputan kering coklat kehitaman bersanding mesra bersama timbunan karang di sudut tanah nan tandus, gersang dan tak terjamah. Di kota ini kuawali sebuah perjalanan untuk melukis cahaya sisi kelam masa silam yang tersembunyi bertajuk lorong-lorong sejarah. Bibir pantai putih yang terhampar dengan biru laut di kejauhan menebalkan keyakinanku bahwa aku tak salah jika harus berburu di sini. Ya, di kota ini kuyakin menyimpan sejuta peristiwa yang masih terselubung di balik dinding-dinding karang serta rerumputan liar. Dan bisa kurasakan itu sejak pertama kali kujejakkan kaki di sini. Di depan teluk nan permai, di atas bukit karang yang curam.

Langit biru tersenyum cerah di penghujung November.

Tak ada mendung apalagi hujan. Hembusan angin pelan cukup membantuku untuk merasakan sedikit kesejukan walaupun gerah sejujurnya masih lebiih mendominasi hingga kucuran keringat membasahi seluruh tubuhku. Kusiapkan perbekalan berburuku. Tak lupa kubaca sedikit referensi tentang tempat yang akan kukunjungi. Tak banyak memang namun cukup membantu. Setidaknya, ada sedikit gambaran sebelum menjelajahinya.

Bermodalkan perbekalan seadanya aku mulai petulanganku. Awalnya, aku sempat terperanjat ketika kulihat tempat perburuanku ini. tak ada kesan yang menggoda. “Sungguh sebuah pemandangan ironis mengingat di tempat ini, dulu kota ini pernah diperebutkan. Bahkan tak sedikit darah dan nyawa telah dikorbankan demi merebut tanah ini,” batinku. Kini puluhan tahun setelah tanah ini terabaikan seenaknya. Tak ada yang menggubris apalagi memberi perhatian pada kawasan nan eksotis ini. pesona kawasan ini seolah lenyap tanpa jejak bagai debu yang terkibas. Tapi kata hatiku mengatakan aku harus tetap menelusurinya.

Terik mentari yang menyengat membuat langkahku terasa berat untuk sekedar menyusuri tempat bersejarah ini. Deretan pohon tuak tampak malu-malu tersapu desiran angin. Botol air mineral yang menjadi perbekalanku tersisa setengah sementara perjalanan untuk mengeksploitasi tempat ini masih panjang sepanjang kisah yang pernah terukir di sini. Satu per satu bunker kudatangi dan kuabadikan dengan kamera sederhanaku sembari sesekali kuseka keringat yang terus mengalir deras. Benakku coba membayangkan tentang apa yang terjadi di tempat ini. Tentang sebuah mahakarya perang yang pernah dipentaskan di sini. Tentang dahsyatnya pertempuran di sini. Kulemparkan tanya pada rerumputan, batu karang, serta bunker-bunker tua di sini tentang mahakarya perang seperti apa yang telah dipentaskan. Apa daya angin sepoi-sepoi membawa pergi pertanyaanku entah ke mana?? Hmmm.. aku terus mengamati satu per satu yang tersisa di sini. Sungguh tanah ini telah menjadi saksi bisu perebutan kekuasaan. Berseteru untuk berseru sebagai penjajah paling tangguh!! Uuuuuhhhhhhh…

Tanpa mengenal lelah, aku terus menjejaki tempat ini melewati semak belukar yang menutupi bunker-bunker tua hingga sampai pada sebuah bunker yang lebih besar dari ukuran bunker-bunker yang kutemui sebelumnya. Rasa penasaran yang bergemuruh di dalam dada membuatku tak kuasa untuk segera masuk ke dalam bunker ini sekedar merasakan sensasi seni perang. “Siapa tau saja aku bisa memperoleh sesuatu yang dapat membuatku menjadi fotografer handal sekaligus penemu sejarah yang menggemparkan,” harapku.

Rupa dari bunker ini tak beda dengan yang telah kutemui sebelumnya selain tentu saja ukurannya yang lebih besar. Perlahan kumasuki bunker dengan berhati-hati. Ketika aku berada di dalam bunker kurasakan ada sesuatu getaran aneh yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhku. Getaran itu terasa semakin membawaku ke dalam sebuah pusaran. Serentak kudengar dentuman meriam bertaut dengan desiran mesiu di sekelilingku. Aku pun secara tiba-tiba dapat melihat langkah kaki para serdadu yang terus memberondongkan senjata. Deru mesin pesawat tempur menambah bising suasana ini. aku seperti seorang serdadu yang ikut dalam pementasan perang. Dan aaarrggghhhhhhh… sebuah peluru tepat melesat di lenganku. Kuterjatuh tersungkur tak berdaya. Dengan sisa tenaga ku mencoba bangkit untuk keluar dari bunker ini. Dan kembali tubuh ini bergetar hebat seolah menyentuh voltage 1000 watt.

Aku segera bergegas secepat kilat melangkah menjauh dari bunker tua ini dengan kebingungan. Belum sepenuhnya paham akan apa yang baru saja kurasakan. Kucoba menyentuh dan melihat lengan kananku yang tadi tertembak namun betapa terkejutnya diriku karena kini tak ada darah ataupun bekas luka. Dan oh suasana perang yang kurasakan seketika sirna begitu saja. Sunyi dan tak terjamah seperti sebelumnya. Entahlah apa yang baru saja kurasakan namun satu yang pasti tempat ini sedikit banyak telah menjawab segala pertanyaanku tentang apa yang telah terjadi di sini.

Kuraih kameraku untuk segera membidik obyek menarik di sekitarku berharap menemukan gambaran seperti yang kutemui ketika berada di dalam bunker tua. Kutarik napas panjang lalu kusulut rokok. Belum sempat kuberanjak dari tempat ini tiba-tiba suara keras tepat di depanku praaaak… napasku seperti terlepas sejenak. Jantungku seolah dicabut secara tiba-tiba. Uuuuuhhhhhh.. rupanya sebuah ranting pohon jatuh tepat di depanku. Belum sempat kumenghela napas panjang tiba-tiba srrreekk.. akh. Nyaris saja aku lari terbirit-birit.

Seorang nenek tua menyapaku, “Anak sedang cari apa di sini??” katanya dengan suara serak. Dengan terbata-bata aku menjawab sedikit ketakutan.

“Oh, saya hanya jalan-jalan melihat pemandangan dan bunker-bunker ini, Nek,” jawabku sekenanya. “Lalu nenek sedang buat apa di sini?” tanyaku berbasa-basi sambil mengambil ancang-ancang langkah seribu.

“Saya rumah di dekat sini dan sering lewat sini untuk mengembalakan kambing piaraanku mencari rumput di sana,” jawab nenek itu sambil menunjukkan jarinya.

Belum sempat kumelanjutkan pembicaraan untuk pamit, nenek itu melanjutkannya, “Di sini dulu telah terjadi perang hebat, waktu itu saya masih sangat kecil kira-kira berusia 4 tahun. Kami diungsikan ke sana sambil menunjuk bukit di atas sana,” katanya meyakinkan.

“Tapi tempat ini kini sama sekali tak dianggap dan jarang orang muda sepertimu mau menghampirinya.” Lalu berlalu dari hadapanku begitu saja.

* * *

Lembayung senja memancarkan kilaunya di ufuk barat. Aku pun bergegas meninggalkan tempat ini kembali ke tempat penginapanku untuk melihat hasil perburuanku melalui kamera yang disambungkan ke laptop. Suara debur ombak mencumbu mesra bibir pantai terdengar seperti nyanyian mars kemenangna setelah perang. Aura kota ini menunjukkan padaku bahwa ada sesuatu yang salah dalam perkembangannya. Aku pun teringat akan pesan sang proklamator Bung Karno “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!!” Ya… kota ini telah mengabaikan sejarah dengan menelantarkan puing-puing sejarah. Kota eksotis ini lebih mementingkan bagaimana merusak kawasan pantai dengan dalih investor daripada mengembangkan dan mengelola tempat bersejarah untuk mendatangkan keuntungan. “Ah… andai saja aku seorang walikota,” gumamku. Sayang, aku hanyalah seorang penggila fotografi dengan bunker-bunker tua koleksiku. Kuraih kamera andalanku membidik melalui lensa lalu kuarahkan ke bukit bersejarah itu dengan sejuta pertanyaan yang mengganjal di hatiku tentang bunker tua yang masih tersisa; akankah tetap terjaga??

Cerpen PESTA YANG TERTUNDA



Menanti simfony sebuah malam saat senja kian temaram. Kilau bintang janganlah padam, harap mereka. Banyak orang mulai berkumpul dan bercakap-cakap tentang pesta malam ini. Satu ekor Babi yang tersisa di kandang telah dikorbankan sang pemilik rumah untuk merayakan pesta yang sebentar lagi akan digelar. Berbagai persiapan sudah matang yang langsung dikoordinir oleh sang pemilik rumah yang tidak lain adalah Ketua RT sekaligus tokoh yang dituakan di tempat ini.

Di dalam ruangan yang cukup luas, semua berkumpul untuk bersiap-siap menggelar pesta. Sang pemilik rumah duduk paling depan dengan penuh senyum seakan percaya bahwa malam ini merupakan malam gembira untuk warganya. Saat yang dinanti pun tiba. Mereka larut dalam satu keyakinan pesta ini milik kita!!

Tampak sang pemilik rumah duduk bersandar pada sebuah kursi. Kopi diseruputnya pelan-pelan. Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya memenuhi seisi ruangan layaknya cerobong asap pabrik semen.  Dadanya bergetar hebat. Napasnya turun naik tak beraturan. Suaranya menggelegar memecah kesunyian malam. Kegaduhan malam ini menambah semarak suasana hingar bingar disini.  Sesekali ia berdiri meninju langit – langit kosong kemudian kembali duduk seperti pose semula dengan wajah cemas. Terkadang matanya melirik jarum jam yang berdetak menanti detik demi detik yang diinginkannya. Sorot matanya tajam kedepan tak berkedip barang sedetikpun seolah tak ingin terlewatkan setiap moment malam ini. Ia masih menanti sesuatu terjadi. Tampak pula sekumpulan pemuda yang duduk tidak jauh darinya ikut larut dalam derap irama yang sama mengikuti setiap gerakan dan teriakan membahana ke angkasa laksana doa dan harap untuk Sang Khalik.

Sayang detik impian itu tak kunjung menghampiri mereka. Waktu tanpa terasa menunjukkan pukul 11.00 malam. Bulan Purnama yang sedari tadi menemani kini tak terlihat lagi berganti rintik-rintik hujan. Wajah mereka mulai menampakkan keresahan diujung waktu untuk sebuah penantian panjang. Dan tibalah waktunya ketika detik istimewa yang didambakan tak kunjung menghampiri mereka. Yang mereka dapatkan justru detik yang tak melegakan hati, detik yang melukai hati bagaikan ditikam belati tajam. Mereka semua terdiam. Seketika suasana rumah berubah menjadi senyap seperti tak berpenghuni.  Sorak - sorai dan gegap gempita hilang bagai di telan bumi. Mereka tak mampu lagi untuk sekedar bersuara. Masing-masing dengan pikirannya, tertunduk lesu. Detik yang datang tak seindah yang diharapkan. Mereka seperti tak percaya atas kenyataan yang terhampar didepan mata.       

Pak tua sang pemilik rumah lantas bangun dari posisi duduknya bergegas masuk kamar tanpa pamit. Matanya sembab menahan tangis. Makanan yang telah disiapkan untuk menggelar pesta terlupakan begitu saja. Serasa dunia telah berakhir. Pesta yang telah disiapkan secara matang berantakan tak sesuai rencana. Sementara itu warga satu per satu meninggalkan tempat ini tanpa suara. Keheningan malam ini terasa begitu memilukan. Hanyalah kekecewaan dan kesedihan yang tergambar dari wajah mereka. Inilah kenyataan dari rahasia sebuah drama kehidupan. Manusia boleh berencana, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Dengan langkah yang lunglai masing-masing pulang membawa getir. Antusiasme mereka terkubur sudah.

***

Keesokan hari saat mentari merayap di ufuk barat. Senja yang hangat untuk merajut kebersamaan.  Didepan rumah itu terlihat beberapa orang asyik bercengkrama terlibat diskusi kecil tak ketinggalan pak kure sang pemilik rumah.
             
             ”Beta masih sakit rasanya ingat kejadian semalam”, ujar sang pemilik rumah dengan suara parau.
            “Itu su Pak Kure karena ketong sonde jaga nomor 10 talalu kasi bebas na”, temannya menimpali.
            “Ketong pung anak –anak stamina ju kurang mendukung”, sambar seorang teman lainnya.
            “Ho…kalau ketong pung stamina seperti partai sebelumnya b rasa ketong sonde bernasib seperti ini,“ tandas Pak Kure seolah membenarkan perkataan temannya. 

Matanya menerawang jauh ke angkasa diatas sana. Entahlah apa yang dipikirkan dan dirasakan. Obrolan mereka terhenti saat istri Pak Kure datang membawakan suguhan pisang rebus dan kopi.
            
                “Terima Kasih Ibu”, ucap rekan – rekannya kompak tanpa komando.
        
Hanya senyuman kecil sembari mempersilahkan para tetamu lalu sang istripun berlalu meninggalkan mereka.
            
             “Ini seperti Dejavu”, sambar seorang temannya mengawali pembicaraan.
            “Betul belum sembuh luka yang kemarin, sudah bertambah boroknya, balas seorang dari mereka.
            “Mungkin ini kutukan karena pengurus PSSI kerja sonde becus dan sond ada kesungguhan untuk membangun sepakbola negeri ini”, tandas Ziz lelaki paling tua diantara mereka.
            “Atau karena ketong pung Ketua Federasi ikut nonton secara langsung makanya ketong kalah? Tapi kalau teman-teman perhatikan ada hal yang janggal di kostum ketong pung pemain. Mungkin diseluruh dunia hanya ketong yang pasang lambang Negara di kostum. Beta kalau bisa jadi pengurus beta mau usul kalau bisa jang pasang lambang Negara di kostum tapi pakai lambang federasi sa seperti Negara-negara lain. Kalau memang mau buat semacam filosofi dan julukan tim kenapa sonde ganti lambang federasi dengan unsur binatang khas Indonesia seperti Komodo atau Cendrawasih? Daripada harus pasang lambang Negara su begitu itu bukan binatang khas Indonesia tapi hasil mitologi atau kermana menurut kawan dong?” lanjut Pak Ziz setengah berpidato.


Pak Kure tampak tak menggubris apa yang sedang teman-temannya perbincangkan. Ia masih terdiam dengan mata berkaca - kaca menatap langit. Asyik dengan lamunannya sendiri. Terkenang olehnya 20 tahun silam saat ia hidup di negeri seberang. Saat dimana ia didera oleh penyiksaan dan yang paling menyakitkan adalah ketika ia juga harus menerima hinaan dari majikannya sebagai bangsa biadab, bangsa budak, serta bangsa tak berbudaya. Ingin rasanya ia balaskan semua rasa sakit itu namun apa daya ia hanyalah orang kecil. Satu-satu harapannya untuk menutupi luka yakni merasakan kebanggaan sebagai seorang anak bangsa. Itulah yang sering diimpikannya agar bangsanya tidak lagi dipandang sebelah mata. Sayang seribu sayang pesta yang disiapkan untuk mengobati luka malah menjadi tangisan pilu. Derita dan sakit yang ia pernah rasakan belum jua terbalaskan Pelan-pelan airmata menetes di pipinya. Sementara itu rekan-rekannya yang lain masih asyik membicarakan kekalahan semalam.    

Temaram senja semakin menggelapkan suasana desa TKI yang mayoritas warganya merupakan Tenaga Kerja Indonesia yang di eksport ke luar negeri khususnya Negara tetangga Malaysia.  Kepedihan hati Pak Kure menjadi kepedihan semua mereka karena harapan mereka pupus sudah. Berpesta untuk luka yang telah disembuhkan masih menjadi mimpi yang entahlah sampai kapan….mungkin nanti saat desa mereka telah berganti nama bukan lagi menjadi desa TKI. Hmmmm…..mereka pasrahkan pada rembulan yang tampak ikut larut dalam kesedihan mereka untuk sebuah pesta yang tertunda.
           
Beta : Saya, aku
Ketong : kita
Pung : punya
Sonde : tidak
Sa : saja

Cerpen PANTAI CINTA



Buih putih ombak membelai mesra bibir pantai Nanganesa, Ende. Sang jejaka di ujung senja menatap jauh menembus batas cakrawala. Tatapannya begitu jauh kearah mentari yang perlahan mulai meredup atau mungkin juga kearah puncak gunung Meja didepannya.  Entahlah… matanya seakan menerawang jauh mencari-cari sesuatu di pantai ini. Lelaki itu kemudian berjalan menyusuri setiap lekuk pantai ini, sesekali ia tersenyum pada hembusan angin sepoi yang menerpa tubuhnya. Senyuman kerinduan yang menggebu.

Dari mulut seorang bocah pantai bernama Kure, akupun tahu kalau jejaka ini bernama Vriq. Jejaka dari Mbongawani yang selalu terkenang akan romantika pantai Nanganesa yang tak pernah pudar. Perjalanan waktu tak mampu menghapus setiap jejak romantika yang selalu mendekap lubuk hatinya hingga kini.  Pongah dan egolah yang memaksa sang jejaka terpaksa berpisah dengan sang kekasih hatinya Tesha. Gadis manis blasteran Rote-Flores.

Dalam kesendiriannya Vriq seakan kembali mengenang kisah yang pernah terukir disini. Ya kenangan saat dimana sebuah ikrar tertancap kuat di dinding – dinding karang. Ketika Tesha melempar senyum penuh pesona.  Diulurkanlah tangannya untuk menggandeng tangan Tesha penuh kemesraan untuk menikmati pesona pantai disaksikan nyiur kelapa dan derai ombak yang tersipu. Sepotong pulau Koa menjadi saksi ketika Tesha bergelayut mesra dalam dekapannya sembari lantunkan kidung cinta.

Butir-butir pasir seakan menghadirkan setiap jejak cintanya bersama Tesha didalam memory otaknya. Bayang – bayang Tesha seakan hadir menemani kesendiriannya di pantai ini. Terangkum jelas dalam benaknya ketika dengan penuh luka di sekujur tubuh ia menjemput Tesha yang kala itu sedang bercengkerama dengan dinding-dinding batu cadas di tangga alam. Tatapan cinta Tesha yang meneduhkan itu yang membuat luka di tubuhnya seketika sembuh tak berbekas.  Diboncengnya Tesha meliuk-liuk diantara jalanan berbatu dan berliku dengan motor GL bututnya. Keduanya tertawa riang hanyut dalam buaian cinta.

Penggalan kisah yang terbingkai didalam sanubarinya begitu merasuki dalam sedalam kerinduannya akan sosok Tesha. Gadis pujaan hatinya 14 tahun silam yang masih selalu bertahta didalam jiwanya. Tesha tak pernah tahu kalau luka di tubuh Vriq  14 tahun silam itu merupakan bukti betapa cinta begitu kuat mengikat Vriq hingga rela terluka berkelahi demi mendapatkan Tesha. Perjuangan cinta itulah yang tak mungkin ia lakukan untuk gadis lain.  Pengorbanan demi sebuah asa masa depan yang terbentang. Langkah kakinya diikuti gumpalan awan pekat keraguan yang berarak penuhi ruang batinnya  untuk menjemput impian cinta bersama Tesha atau justru mengkaramkan cinta didasar lautan asmara yang biru. 

***

Pantai Charita akhir 2001.
Pelangi tergolek dibatas horizon. Aroma ikan bakar menelusup tajam. Suara deru ombak berderai seperti menyanyikan tembang tentang kesucian cinta.  Cinta suci dua anak manusia  yang telah terpupuk jauh di pantai selatan Ende berlanjut di Charita, Ujung Barat Jawa. Mengalun lembut selembut untaian kata-kata cinta yang keluar dari mulut keduanya. Masih dengan senyum dan keceriaan yang sama berkumandang tentang cinta sejati yang tak pernah mati.  Bergandengan tangan mengayunkan angan coba meraih harapan tentang cinta yang alami terbentuk dari kokohnya alam tanpa kontaminasi.

Kembali bercengkerama mengukir kenangan. Melontarkan janji suci untuk setia sehidup semati dihadapan alam. Saling suap gurihnya ikan bakar silih berganti diselingi tawa ceria sungguh semakin meyakinkan dunia bahwa hanyalah maut yang mampu memisahkan kedua anak manusia ini. Kekuatan cinta seolah terbukti meruntuhkan segala beda yang tercipta. Ramai pengunjung pantai tak lagi dihiraukan demi sebuah alasan yang suci cinta.

               “Jao tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun,“ ucap Vriq.
               “ Hmmm….gombal,” tawa Tesha manja.
               “Jao ngestei serius ni…..mau disambar gledek atau badai?“ tanya Vriq setengah bercanda.
               “Janganlah...khan kasihan kalau kau disambar nanti Jao dengan siapa?, jawab Tesha.
              
Keduanya semakin larut dalam dekapan cinta. Merangkai setiap kebersamaan. Desiran angin dingin menguatkan cengkeraman keduanya untuk tak saling melepaskan. Pusaran waktu yang tepatlah yang kini dinanti keduanya untuk bersanding di pelaminan. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah keduanya. Dua anak manusia ini serasa ingin memutar waktu secepatnya agar bisa segera bersatu dalam ikatan suci yang abadi. Bangku kuliah harus segera diselesaikan. Begitulah komitmen keduanya.

***

Setahun berselang. Di kaki gunung Merapi keduanya terjebak kerumitan cinta. Bersanding dalam pertengkaran hebat. Tak lagi akur apalagi mesra. Saling menuding satu sama lain menjadi bumbu yang tak terelakkan. Ketidakpercayaan menjadi sumbu yang menyulut api cemburu. Gemuruh emosi bercampur dengan kata-kata yang tak pantas terucap. Keceriaan seketika sirna. Kebahagiaan tiba-tiba kabur, terhempas.  Membuncah di langit biru Jogjakarta. Tangis pun pecah.

             “Kau terlalu sekali ndoe,” ucap Vriq lirih.
             “Mae gare rewo kau!! Kau tu yang patut dicurigai sengaja tuduh saya”, balas Tesha.
             “He…kau tu yang sudah jelas-jelas tidak bisa dipercaya,” kejar Vriq.
            ”Jadi kau dengan itu perempuan ata Jawa tu kau bilang apa??kau pikir saya juga tidak sakit hatikah dengan kau?” sambar Tesha sembari terisak.
             “He ko kau mae bawa-bawa Ajeng cari alasan untuk menutupi kau punya,” tangkis Vriq.

Tesha dan Vriq bukan saling merangkul melainkan saling menyerang. Ego mereka mengalahkan cinta yang telah terjalin lama. Satu pihak merasa benar begitupun sebaliknya. Perasaan mereka telah dikalahkan oleh naluri dan logika. Hilang sudah semua asa dan rasa. Lenyap seakan tak pernah tercipta.  Setiap pertemuan dihiasi pertengkaran dan pertengkaran. Setiap pembicaraan hanya tertuju pada titik yang membuat mereka bertengkar dan memilih jalan perpisahan yang kelam. Walaupun di sudut ruang batin mereka sesungguhnya menolak keras kenyataan pahit ini. Apa mau dikata manusia boleh berencana tetapi Tuhanlah yang menentukan.

Sebuah kata maaf sudah tak lagi berarti. Tembok cinta yang begitu kokoh seketika runtuh oleh kesucian yang terabaikan. Sesal memang selalu datang terlambat tapi sesal juga tak berguna bila penyesalan terbesar sebenarnya ketika mereka mengabaikan perasaan cinta pada diri mereka masing -masing hanya karena sesuatu yang mencemari lautan asmara.

Airmata keduanya bertaut didalam lembah kepedihan. Terpuruk keduanya di sudut kota Jogjakarta. Keremangan menjadi hiasan hati mereka. Airmata mengalir deras genangi ruang batin mereka. Jarak yang dekat terasa jauh. Yang terlihat menjadi tidak terlihat lagi. Pekatkan semua prasasti suci tentang cinta. Ingin merengkuh sepenuhnya kekuatan cinta itu seperti sedia kala tetapi kekuatan cinta yang begitu kuat merobek-robek sisi manusiawi dua anak manusia ini.

***

Petikan sasando mengalun pelan. Dentingan dawai kerinduan terdengar menyayat hati. Debur ombak keras menghantam pantai Nembrala – Rote.  Seakan menanti balasan rindu dari seberang lautan. Perasaan yang tak terbantahkan tentang damainya cinta. Bergemuruh dalam dada Tesha. Sahut sang jejaka tak jua terdengar. Mungkin butuh waktu untuk pemulihan mental yang terkoyak.

Tidak. Jikalau ia benar-benar mencintaiku tentu ia memaafkanku dengan segala khilafku seperti aku telah memafkannya. Kata hati Tesha sembari terus menanti terbitnya mentari yang memancarkan harapan baru tentang cinta yang tertanam begitu kuat untuk seorang Vriq. Masihkah membekas dalam hatinya??gumam Tesha pada setiap hempasan ombak yang datang menghampiri.

Rentang waktu masih berpihak pada keduanya. Tesha masih menunggu Vriq untuk menjemputnya seperti 14 Tahun silam. Di sudut pantai Nembrala Tesha berharap – harap cemas.  Tesha menarik napas dalam dan berbisik lirih pada semilir angin senja, ”Jemputlah diriku Vriq tidak dengan bilur-bilur luka di sekujur tubuhmu tetapi sebagai seorang ksatria cinta yang mengagungkan cinta. Jadikan pantai ini pantai impian cinta seperti yang pernah kau ucapkan bahwa cinta kita ibarat sebuah fenomena alam.”

Aargghhh….aku sampai tak sadar kalau malam telah menjemputku. Cerita dari mulut Kure berakhir ketika temannya yang kukenal bernama Ziz Asam datang memanggil Kure untuk segera melaut. Aku pun pamit dari hadapan keduanya.
               
Jao : Saya
Mae : Jangan
Mae gare rewo : jangan ngomong sembarang.
Ngestei :katakan/beritahu

Cerpen AYAH

Kemarin kuhabiskan waktu liburku sehari penuh untuk bermain bersama anakku. Kami bermain sepuasnya, bercengkerama bersama, tertawa riang, dan menggauli waktu dengan penuh suka cita. Anakku terlihat begitu bersemangat, akupun larut didalamnya. Sorot mata anakku memancarkan kebahagiaan yang tak terkira dan dari caranya menatapku dapat kurasakan bahwa ia pun sangat menyayangi serta menghormatiku sebagai ayahnya. Aku merasa bangga menjadi seorang ayah.

Ketika anakku memelukku kurasakan ada kekuatan yang maha dashyat yang begitu lembut namun memiliki efek yang memancarkan kedamaian teramat sangat. Ketika anakku melompat kegirangan dengan tawa yang lepas kurasakan betapa indahnya dunia ini. Beban juga penat rutinitas kehidupan seketika sirna tak berbekas. Melewati waktu dari pagi hingga malam hari bermain bersama anakku tak terasa capek apalagi suntuk, semuanya begitu indah untuk dilewatkan. Aku merasa hebat sebagai seorang ayah.

 
“Sebelum tidur harus sembayang dulu,” pintaku padanya.
“Kenapa harus sembayang?,” Tanya anakku.
“Ia biar Tuhan jaga kita”, jawabku.
“Tuhan tolong jaga papa, mama, opa, oma, semua –muanya amin,” doa anakku singkat.
“Pa….besok main lagi ya.” Pinta anakku.
“Iya” jawabku sambil mengangukkan kepala tanda setuju.

Anakku lalu memelukku erat sembari mendengar dongeng dari mulutku dan tak berapa lama kemudian ia tertidur pulas disisiku. Kucium keningnya dan kubisikkan aku mencintaimu nak! Kutatap sekujur tubuhnya yang mulai bertumbuh dan pasti cepat atau lambat ia akan beranjak dewasa. Raut wajahnya tampak kelelahan setelah sehari penuh bermain bersamaku.Terselip namanya dalam doaku.
 
***

Siang hari saat mentari begitu bercahaya memancarkan panas yang menyengat. Di depan beranda rumahku aku duduk sambil beristirahat sejenak sehabis makan sebelum kembali ke kantor. Es teh yang sedari tadi dihidangkan istriku kunikmati perlahan sambil melepas lelah.

“Pa ayo,” pintanya.
“Nanti ya klo papa libur lagi kayak kemarin”.
“Sekarang saja… yuk,”pintanya dengan nada memohon.
“ Sekarang papa lagi sibuk tidak bisa nanti saja ya,”
“Nanti kapan pa?”
“Nanti disaat papa tidak sibuk ok,” tandasku.

Wajahnya mengguratkan kekecewaan karena aku tak menemaninya bermain seperti kemarin. Ia pun bergegas meninggalkanku seakan mencoba memaklumi dan memaafkan keadaanku yang saat ini tak bisa menemaninya bermain. Aku mengikuti langkahnya dengan mataku, merasakan kekecewaan darinya. Kaki mungilnya yang menggemaskan melangkah menjauh dariku seakan menamparku dengan dosa berat karena menolaknya.  Dan seketika terlintas masa kecilku saat masih seusianya.
 Pikiranku melayang tak karuan. Perasaan ini mengajakku berkelana ke masa silam. Masa dimana aku begitu marah pada keadaan karena aku tak memiliki ayah. Sosok ayah mendadak penuhi ruang batinku. Masa kecilku tidak seperti anakku. Tak sadar, aku meneteskan air mata kerinduan akan sosok ayahku yang telah lama pergi meninggalkan aku dan ibu disaat diriku sebenarnya masih membutuhkan kasih sayangnya. 
Teringat kembali dulu saat melihat teman sebayaku bergelayut mesra di gendongan ayahnya lalu bertanya padaku dimana ayahmu?? saat itu bibirku terkunci tak mampu memberi jawaban hanya bisa diam lalu pergi begitu saja meninggalkannya. Aku juga masih ingat saat dimana banyak orang iba padaku bahkan banyak juga orang yang melecehkanku hanya karena aku tak memiliki ayah. Aku juga pernah menangis di pangkuan ibuku dan menyalahkan ayah yang meninggal begitu cepat. Pernah pula aku berontak tidak terima dengan keadaan dimana banyak orang menghina dan menyepelekan kami hanya karena ibuku seorang janda dan aku anak yatim. Tapi semua itu ditanggapi ibu dengan tenang sembari mengatakan padaku untuk menyerahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan tahu mana yang terbaik. Itulah yang selalu diucapkan ibuku. 
 
“Bagaimana rasanya punya ayah?,” batinku.
“Ayah mengapa kau tinggalkan aku?”

Kupejamkan mata dan kubiarkan imajinasi bermain-main dalam diriku membayangkan sosok ayahku. Ayah bagiku adalah ibuku. Imajinasiku tetap tak mampu menghadirkan sosok ayahku. Bilik hatiku tak mampu menterjemahkan rasanya memiliki seorang ayah sesungguhnya. Mungkin karena aku terlalu kecil untuk sekedar mengenal ayahku saat meninggalkan dunia. Saat itu usiaku masih 1 tahun. Tak cukup waktu bagiku untuk mengenal sosok ayahku. Rupa ayahku pun kutahu hanya karena beberapa foto ayah yang masih disimpan ibu. Dari foto-foto yang kulihat, guratan wajahnya ada sebagian di wajahku. Semua tentang ayah kutahu dari cerita ibu serta orang-orang dekat yang mengenal ayah. Apa yang mereka katakan itulah yang menjadi peganganku tentang sosok ayahku.  Hati kecilku berbisik lirih tentang sabda kerinduan akan ayah.

***

Langit biru diatas sana seolah melemparkan senyum padaku. Semilir angin senja ini seakan memeluk  aku dalam keteduhan. Rumput-rumput liar terus bergoyang mengikuti irama alunan angin yang meliuk girang. Kupu-kupu yang saling berkejaran meliuk diantara bunga-bunga liar. Laju kakiku terus menyusuri jalanan tanah dan berbatu ini. Bunga kamboja yang berjatuhan di tanah seakan menuntunku menuju tempat bersemayam terakhir ayahku. Istri dan anakku yang berjalan mengikuti dibelakangku seakan turut merasakan kerinduan yang kurasakan. Mereka seperti memahami kerinduanku dengan membiarkan aku mendahului mereka. Langkahku tergopo-gopo seiring kerinduan yang bergemuruh di dadaku.
Keheningan tempat ini membawaku khusyuk berdoa kepada Sang Khalik.  Doa dari seorang anak untuk ayahnya. Kuyakin diatas sana ayah telah berbahagia bersama-NYA dan menjadi pendoa bagi kami yang masih berziarah di dunia ini. Ayah… maafkan aku anakmu yang masih selalu menggugat kehadiranmu didalam hidupku.   
Lilin-liin kecil tampak meleleh pelan seperti tetesan airmataku. Bunga rampai dalam genggaman tanganku kutaburi diatas pusara ayahku. Lalu kucium pusara itu dan semerbak aroma mewangi menyebar di sekitarku. Kekuatan hatiku berkata pelan setengah berbisik,“Ayah sekalipun  mungkin aku  tak begitu mengenalmu, tetapi aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun.“
 

Dedicated to my lovely Father  in heaven
 

Cerpen CINTA DALAM BOTOL

Terik mentari siang ini serasa menghanguskan seluruh tubuhku tatkala senja belum jua menghampiri. Alunan nyiur yang melambai mesra bersama debur ombak yang menghantam karang disertai genitnya angin sepoi-sepoi memperlihatkan padaku bahwa hidup selalu penuh dengan tantangan yang harus kita hadapi karena dari situlah kita bisa belajar untuk menjadi yang lebih baik dari hari kemarin dan bisa menjadi tegar sekokoh dinding karang didepanku.

Di tepi pantai Lasiana, tempat kita biasa bermadu kasih. Aku duduk sendiri merangkai kisah yang pernah kurajut bersamanya. Kala itu dia menggenggam erat tanganku dan berkata akulah belahan jiwanya yang selalu meneduhkan batinnya dengan cinta. Saat itu masih teringat jelas aku dan dirinya begitu mesra menatap bibir pantai mengikuti gelak tawa para pengunjung pantai.

Ya… cinta itu yang kini hanya menyisahkan nestapa. Dalam kesendirianku kini kucoba menggoreskan nestapa itu agar hilang ditelan debur ombak, karena aku harus bangkit berlari mengejar kenangan baru dan jari jemariku menari begitu saja pada secarik kertas mengikuti gemuruh emosi didadaku….

***

Kau jemput aku dari perhentian cintaku lalu kau senandungkan kalbu yang sungguh mampu membangkitkan kembali hasratku setelah sekian lama berbaring dalam kehampaan. Pesonamu membuatku bagai mentari yang kembali terbit setelah sebelumnya terbenam dalam redupnya alunan kisahku sendiri.

Namun kenyataan ini tak seindah seperti yang kukira, tak semurni seperti yang kusangka,dan tak setulus seperti yang kudamba. Karena hamparan kenyataan yang kau hembuskan didadaku seperti beban dan tamparan yang terlalu berat untuk kupikul dan sangatlah pahit untuk kurasakan. Dimana engkau menyeretku kedalam sebuah pusaran kebimbangan ditengah persimpangan yang sungguh membutuhkan penuntun bijakku agar dapat kumemilih antara “cinta dan kesucian yang terabaikan”.
Dengan segenap kekuatanku kucoba bertahan untuk menentukan pilihan karena memang sejak ku dilahirkan hidup hanyalah pilihan yang harus dipilih namun aku tak cukup kuat dan akupun tak cukup bijak untuk sekedar memilih. Kendati aku telah berupaya sekuatnya namun aku terlalu rapuh untuk bisa menyisakan ketegaran sekokoh batu karang.

Waktu melenggang perlahan seiring kisah yang terus berjalan justru semakin menyudutkan aku didalam keterpurukan oleh segala tingkah perbuatanmu yang terus bergelayut dalam benakku. Setiap hembusan napasku selalu teringat akan tingkah lakumu yang sungguh membuatku terabaikan hingga memaksa diriku untuk mengorbankan perasaan yang tak terbantahkan. Bagaimana pun juga ini adalah sebuah pilihan walau berat!!Karena jika saja aku diperbolehkan untuk mengajukan pilihan lain maka aku memilih untuk tidak mencintaimu.

Dan kini diujung waktu yang tak bertepi harus kuakui bahwa aku bukanlah yang terbaik untukmu karena hanyalah orang terbaik yang pantas menerima apa yang terbaik .Dan mungkin jalan yang terbaik untuk kita adalah perpisahan itu sendiri. Memang mungkin aku tak bernyali untuk menemui kenyataan seperti ini di waktu nanti saat mengarungi hidup yang tak pernah pasti. Karena aku tak mau terlambat menterjemahkan apa yang tersembunyi.

Sikapmu mencerminkan betapa aku tak dicintai sepenuh hatimu karena hatimu yang telah terbagi. Kini haruskah aku melangkah bersamamu dengan bahasa kalbu yang tak pernah searah ?? Maafkan aku jika ku harus pergi….biarlah aku sendiri disini agar bisa kuresapi dan pahami apa arti hidup ini dan biarlah aku sendiri disini bernyanyi menemani syahdunya hati ini. Karena tanpa kenangan abadi tak pernah hadir cinta sejati…

***


Kulemparkan pandang kebatas cakrawala seiring tetesan arak terakhir yang kuteguk. Kuselipkan kertas yang baru saja kutulis ini dalam botol bekas arak yang telah kuhabiskan dan kulemparkan sejauh mungkin kearah ombak yang datang menghantam karang sejauh aku ingin melupakan dirinya. Aku berharap agar kisah kita tenggelam bersama rona senja yang perlahan semakin menghitam ditelan rotasi bumi dan gemuruh waktu yang menghantarkan malam.

Aku berdiri, berteriak sekeras mungkin tanpa mempedulikan sekitarku. Mencoba menghapus tapak cinta yang pernah kita rajut bersama. Semoga engkau disana bisa berbahagia. Kulangkahkan kaki perlahan dengan sempoyongan mencoba meninggalkan pantai kenangan ini namun kulihat sebuah botol yang tergolek didepanku tersapu buih ombak. Perlahan-lahan kubuka botol itu…ternyata benar dugaanku ada secarik kertas didalamnya….

Pesan yang tersembunyi. Isyarat yang tak kau mengerti. Jalanan tanpa jejak waktu dan langkahku yang tak berhenti memburu Satu pintu menuju kekalku denganmu…

Seketika aku terpaku. Denyut jantungku seolah terhenti. Otakku menyusuri jejak –jejak kisah yang berhamburan bersamanya tanpa bisa kutepiskan. Pesan cinta yang baru saja kubaca seolah membangkitkan seluruh energy positifku untuk kembali padanya. Entahlah…siapapun di ujung lautan seberang sana yang mengirim pesan cinta dalam botol ini sepertinya memberi jawab atas kegundahanku. Kutengadahkan kepala menatap langit yang mulai gelap. Mencoba bertanya pada Sang Khalik tentang arti dari peristiwa yang baru kualami.

“Mungkinkah seseorang di ujung lautan mengerti akan apa yang kualami?? Ataukah mungkin ini sekedar kebetulan belaka?” gumamku.

“Oh tidak !”

Tiba- tiba saja hati kecilku berontak dan menguasai seluruh panca indraku untuk kembali menemuinya. Merajut kisah kasih kita yang belum lama ini sirna. Dengan sempoyongan kupaksakan langkahku pelan – pelan meninggalkan pantai ini tuk menemuinya. Berharap dia mau memaafkanku dan kembali dalam pelukan cintaku.

                                                                              ***

Motor bebek buntut yang kutunggangi seolah mengerti jerit kerinduan hati dan rasa bersalahku. Kugeber motorku dengan kecepatan super ngebut melewati kendaraan dan keramaian orang-orang di jalanan. Aku tak lagi peduli, asal aku bisa segera menemuinya. Memohon maaf untuk kekeliruanku meninggalkannya. Makian para pengguna jalan sudah tak kuhiraukan. Hingga di tikungan terakhir menuju rumahnya, aku nyaris saja digilas bus jurusan Kupang – Atambua. Huuuufff…...

Tok…tok…tok….

“Dea…Dea….Dea…,” teriakku memanggil.

Tak kudengar sahut serta lampu rumah yang masih padam membuatku semakin tak karuan. Kucoba membuka pintu depan rumah. Krrrrrkkk….oh alangkah terkejutnya aku ketika pintu itu terbuka. Terus kuteriak memanggil namanya Dea…Dea…Dea… tanpa ada sahutan dari siapapun.

Dimanakah orang – orang di rumah ini? Apakah mungkin mereka pergi keluar rumah dan lupa mengunci pintu depan?sesuatu yang sulit terjadi karena sepengetahuanku di rumah ini dihuni oleh orang-orang yang sangat protektif dan teliti.

Kuberanikan diri melangkah lebih jauh masuk kedalam rumahnya sambil kucari kontak lampu di dinding rumah untuk kunyalakan. Alangkah terkejutnya aku ketika didepanku pulas tertidur sosok Dea kekasihku. Dea…Dea…Dea…kuterus berupaya membangunkannya sambil menggoncangkan tubuhnya. Tapi Dea tertidur pulas dalam pusaran mimpi abadi dengan kondisi mulut berbusa. Disamping tubuhnya terlihat sebotol obat serangga yang tergeletak didekat tangan kanannya.

Aku menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Kadar alkohol yang sedari tadi penuhi tubuhku sekejab sirna. Aku benar-benar sadar dan kusesali meninggalkannya hanya karena egois kelaki-lakianku yang selalu menuntut dan mengukur cinta dari setetes darah simbol kesucian cinta.

Tanpa kusadari para tetangga rumah Dea sudah mengelilingiku. Aku masih menangis dan memeluk erat Dea tanpa mau melepaskannya. Dari mulut mereka, kutahu kalau orang tua Dea bersama adik-adiknya baru kemarin pergi liburan ke Jawa sekaligus mengunjungi Neneknya.

"Oh Tuhan…kenapa generasiku lebih memilih cinta dalam botol??!!"





CERPEN FIRASAT

Temperatur semakin tinggi, udara terasa semakin menyengat, ruang didalam otak serasa penuh sesak hingga tak lagi ada ruang untuk memproduksi pikiran-pikiran yang baik apalagi logis, rasanya sudah tidak mungkin untuk dilakukan saat ini. Kesedihan bercampur aduk dengan segala macam perasaan yang bermunculan.
Tepat di hari Sabtu, tanggal 6 Nopember 2008 Kure masih berdiri tegak diatas tumpukan karang sambil terus menatap teluk nan permai bersama hamparan pasir putih yang berbaring indah dihadapannya. Terik mentari siang ini tak dihiraukannya. Matanya terus menatap tajam lautan lepas dihadapannya dari atas bukit yang penuh dengan timbunan karang menghitam.
Samar-samar KMP Ferry jurusan Aimere -  Flores terlihat semakin jauh, semakin kecil, dan cuma menyisahkan satu titik hitam nan kecil ditengah lautan lalu menghilang dari pelupuk mata Kure seiring butir-butir airmata yang membasahi wajahnya yang terlihat kusut. Sementara itu pesona mentari senja perlahan-lahan turun menyentuh batas cakrawala dan langitpun berubah gelap seiring waktu menghantarkan malam.
Dengan langkah yang gontai karena perih yang dalam saat melepas kepergian sang kekasih hati, Kure lalu pulang ke peraduannya layaknya mentari yang pulang berganti malam. Satu demi satu langkah diaturnya namun alunan napas Kure terasa berat seberat hatinya melepas kepergian Rika yang sangat dicintainya.
Malam ini Kure termenung sendiri didalam kamarnya tanpa tahu persis harus berbuat apa?? Pikiran dan perasaanya terbang melayang tak tentu. Kure takut kehilangan gadis pujaan hatinya yang siang tadi telah pulang kembali ke Flores setelah selesai menempuh ilmu di kota Kasih. Beragam bayangan hitam bermunculan didalam pikiran Kure tentang kelanjutan kisahnya bersama Rika yang sudah dipacarinya selama 6 Tahun. Apakah mungkin kisah ini masih bisa berlanjut dan berakhir indah di pelaminan??

***
“Hallo K’Kure saya sudah sampai,” suara Rika diujung telepon.
“Syukurlah sayang K’Kure  terlalu khawatir dengan kamu,” sahut Kure.
“Hmm….yang benar saja jangan-jangan khawatir sama cewek lain??” goda Rika manja.
“Betul ni sayang K’Kure kemarin entah kenapa rasanya sedih sekali harus berpisah dengan Rika,” balas Kure.
“K’Kure jangan terlalu khawatir dan pikiran dengan Rika, percaya saja Rika bisa jaga diri untuk K’Kure seorang karena Rika punya cinta pasti hanya untuk K’Kure,” lanjut Rika.
“K’Kure sudah dulu ya Rika masih harus  lanjutkan perjalanan nie… mmmuuuaach,” tutup Rika.
Tut…tut…tut….

***
 
Hari berganti hari hubungan kisah cinta antara Kure dan Rika masih terus berlanjut sekalipun terpisah jarak dan waktu. Keduanya masih terus berhubungan walaupun hanya lewat handphone atau sesekali lewat internet. Tak mengenal pagi, siang, ataupun malam keduanya masih sering saling melepas rindu satu sama lain hingga tak terasa satu tahun terlewatkan diikuti kabar gembira dari Rika yang sudah lulus PNS.
“Kaka….Rika punya kabar baik-baik saja dan Rika sudah lulus PNS seperti cita-citanya Rika,” sahut Rika girang.
“Baik sudah biar tahun depan kaka bisa pergi lamar ade sesuai rencana kita,” sambung Kure bahagia.
“Janji ya kaka jangan sampai ingkar pokoknya Rika tetap tunggu kaka,” balas Rika mesra.
“Kapan kaka pernah ingkar janji dengan ade?? kaka rasanya sudah tidak sabar untuk secepatnya memutar waktu biar kita bisa secepatnya bersatu,”balas Kure lembut setengah merayu.
“Ingat kaka hanya Rika yang punya kaka punya hati oh…,” pinta Rika mesra.
“Ok sayang. Ingat juga e hanya kaka yang ada di Rika pung hati,” sahut Kure tak kalah mesranya menutup pembicaraan.   
Rona wajah Kure terlihat memancarkan kebahagiaan yang tak terhingga. Kemana pun Kure pergi ia selalu sumringah pada setiap orang yang ditemuinya bahkan hampir kepada setiap orang yang mengenalnya ia selalu menceritakan tentang rencananya untuk menikah dengan Rika tahun depan. Saking senangnya pekerjaan Kure di kantor juga semakin baik hingga ia pun mendapat promosi jabatan. Kure seperti mendapatkan tonic suplemen penambah energy yang sangat luar biasa karena tak lama lagi apa yang selama ini diidam-idamkannya akan menjadi kenyataan yakni menikah dengan Rika yang sangat dicintai dan dipujanya.
Waktu terus bergulir dan tanpa terasa tinggal 3 bulan lagi Kure harus pergi untuk melamar sang pujaan hati. Segala sesuatunya sudah ia persiapkan demi kelancaran acara yang sudah ditunggu olehnya. Hingga malam minggu pertama dalam bulan agustus 2009 telepon genggamnya berbunyi.
“Hallo K’Kure lagi buat apa?” tanya Rika pelan.
“Kaka lagi ingat Ade ni kebetulan baru saja kaka mau telepon ade ternyata ade duluan telepon kayaknya ada hubungan bathin antara kita hehehe….,” jawab Kure setengah bercanda.
“Kaka…Rika mau omong sesuatu dengan Kaka tentang hubungan kita, Rika bingung harus berbuat apa?” lanjut Rika tanpa bisa menahan tangis.
“Kenapa Ade?? tolong bilang ke kaka kenapa??” kejar Kure sedikit panik.
“kaka…….,”
Tut…tut…tut…
Kure bingung, kalut, dan terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya. Tanpa banyak kata Kure langsung balas menelepon Rika tapi sayang dari seberang cuma terdengar nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Setiap hari selama seminggu Kure terus mencoba menghubungi Handphone Rika tapi apa daya usahanya seperti sia-sia belaka. Akhirnya Kure memutuskan untuk nekat pergi ke rumahnya Rika di Borong-Flores.
Sesampainya di Aimere, tanpa menunggu waktu lama Kure langsung mencarter mobil seorang diri untuk segera menuju Borong tepatnya kerumahnya Rika. Namun dalam perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu satu jam harus dilalui Kure dua jam lebih karena 3 kali berhenti untuk ganti ban yang pecah dan mesin yang ngadat.
Akhirnya keinginan Kure untuk bertemu Rika bisa terwujud namun sayang tidak seperti yang Kure bayangkan karena Kure hanya bisa melihat Rika dari kejauhan tepatnya dari luar tenda tempat pesta berlangsung. Kure cuma bisa menyaksikan Rika saat duduk bersanding di pelaminan dengan pasangannya yang secara kebetulan baru saja menikah satu jam yang lalu. Kure tak kuasa menahan tangis. Kure menangis sejadi-jadinya hatinya berteriak tidak terima dengan keadaan ini tapi apa daya Rika telah resmi menjadi istri dari suaminya yang tidak lain dan tidak bukan adalah pilihan orang tuanya untuk terus menjaga hubungan baik (keutuhan) keluarga yang dalam adat manggarai disebut Tungku.
Kure hanya bisa meratapi nasibnya, keinginannya untuk bertemu Rika pupus sudah. Kure pulang dengan hati yang hancur dan galau. Kure tak lagi bergairah untuk melanjutkan hidup.  Perjalanan pulang menuju Kota Kasih dengan KMP Ferry menjadi akhir perjalanan hidup Kure yang memilih mengakhiri hidupnya ditengah hempasan gelombang Laut Sawu yang ganas. Riak-riak cinta itu melebur menjadi satu dengan riak gelombang kepedihan.
Hanya catatan kecil curahan hati Kure yang ditemukan di ranselnya yang menjadi saksi saat-saat terakhir Kure bersama cinta….
Sunyi tanpa suara, cinta menyusup datang dan pergi tapi riak-riaknya selalu menyisahkan hati yang terombang-ambing dibuatnya……………
Sunyi tanpa suara hanya sesenggukan hati yang kudengar tanpa secuil rasa bahagia..  Biarlah cinta ini kuhempaskan ditengah gelombang sebagai bukti bahwa cinta ini terlalu dalam menyusup relung hati sedalam lautan yang kuselami.
Biarlah ku hanyut dalam alunan gelombang cinta yang kurasakan seperti saat masih bersamamu.  
Aku mencintaimu…cinta!!               
 
 
 
Tungku : perkawinan anak om dan anak tante